Kamis, 02 Mei 2013

Sangakoshi

Baru saja membaca roman tentang raja-raja China. Roman itu dengan cara yang gila, mengisahkan betapa mengerikannya China di masa lalu. Nyawa manusia seperti tak berharga di hadapan ketamakan. Dengan mudahnya mereka mengorbankan ribuan jiwa manusia demi sebuah pengakuan. Kata yang tepat untuk menggambarkan kekacauan itu adalah biadab.

Roman itu terdiri atas beberapa kisah yang saling bertautan. Tapi yang menurutku paling menarik adalah kisah tentang pengepungan sebuah kota.

Kota itu dikepung dari segala arah oleh armada kerajaan besar. Tapi setelah berbulan-bulan pengepungan, kota itu tidak juga jatuh. Tak terhitung lagi jumlah korban jiwa dan harta yang hilang dari kedua belah pihak.

Karena tidak mau lagi menderita, beberapa orang yang terkepung merencanakan sebuah penghianatan. Mereka membantu armada musuh agar kota lebih cepat direbut.
Siasat tikam belakang berhasil. Kota yang telah terkepung selama beberapa bulan, jatuh hanya dalam semalam karena adanya bantuan pengkhianat.

Setelah dikuasai musuh, para pengkhianat kota menghadap ke komandan pasukan pengepung. Mereka ingin imbalan atas bantuan yang telah mereka berikan. Tapi bukannya hadiah yang didapat, para pengkhianat kota justru dipenggal.
Kata komandan penyerang, orang yang sudah berkhianat punya kecenderungan akan mengulangi pengkhianatannya. Itu fitrah. Sekali pengkhianat, selamanya akan begitu.

Tapi ada yang bilang bahwa manusia adalah mahluk plastis. Mereka bisa berubah. Jangan menilai manusia hanya dari satu kejadian.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...