Minggu, 05 Mei 2013

So Freaking C'est la vie

Ketemu teman lama. Di zaman sekolah dulu, dia orang yang brilian. Semua orang yang kenal dia selalu berkata, bahwa suatu hari nanti, dia akan menjadi orang yang berpengaruh. Kalau bukan pengusaha sukses, ya, pejabat tinggi atau mungkin petinggi partai.
Wajar saja kalau semua orang yang mengenalnya berkata seperti itu, karena dia memang terlahir dengan cara berpikir yang terstruktur dan ingatan fotografik, sehingga dia selalu bisa menemukan solusi untuk hal-hal yang pelik. Kadang kami hanya bisa bilang, "dari mana kau dapat ide gila itu?"
Pembawaannya yang kalem, keterlibatannya yang aktif dalam acara keagamaan, serta rasa solidaritasnya yang tinggi, membuat semua orang suka padanya. Simpelnya, dia nyaris sempurna.

Tapi pertemuan baru-baru ini, membuatku nyaris mengalami cultural shock. Saya tidak lagi menemukan sosok ideal yang dulu kukenal. Sejak lulus SMA, dia melanglang buana entah ke mana, lalu tercebur pada  dunia yang akrab dengan rokok, narkotika, dan seks bebas. Bangga sekali dia bercerita tentang gaya hidupnya yang baru. Tentang jumlah minuman keras yang sudah dia minum. Tentang jenis narkotika yang pernah dia gunakan, tentang wanita-wanita yang pernah digarapnya, tentang kota-kota yang pernah dijelajahinya dan hiburan malam yang dapat dinikmati di sana. Saya hanya bisa melongo. Dan ekspresi kebingunganku itu semakin membuatnya bersemangat untuk cerita lebih dalam, tentang kegilaan-kegilaan lain yang pernah dia lakukan. Dan sepertinya dia menikmati kejengahanku selama mendengar kisahnya, karena di sepanjang cerita dia selalu menyelipkan kalimat, "Masa kamu tidak tahu yang begituan? Jangan sok suci lah. Ah munafik, biasa mo ko deh", sambil tertawa lepas. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Setelah puas cerita, dia mengajakku untuk jalan-jalan ke tempat hiburan malam di Makassar, katanya sebagai hadiah reunian sekaligus perpisahan sebelum dia menuju lagi ke Hongkong, entah untuk bisnis apa. Tawaran yang menggiurkan, apalagi dengan iming-iming yang segalanya gratis, karena ditraktir. Tapi untunglah common sense masih menguasaiku, jadi tawaran itu langsung ku tolak. Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi berkomunikasi. Harusnya kuminta alamat email, FB, atau twitternya. Siapa tahu common sense-ku tiba-tiba hilang. Hahaha...but i hope it won't happen.

Manusia memang mahluk yang istimewa. Plastis. Transformatif. Bisa berubah jadi apa saja. Hari ini malaikat, besok setan. Kemarin loyal, hari ini pengkhianat. Tak ada yang perlu diherankan.
C'est la vie.



nb:
kisah ini fiktif belaka. jika ada kesamaan kejadian, nama, dan tempat, itu hanya rekayasa dan manipulatif untuk mengecoh akal sehat.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...