Minggu, 08 Juni 2014

Dengarkan

Suatu sore di Makassar.

Wanita: Kau tahu, saya tidak pernah mau hidup bersama tukang selingkuh.
Temannya wanita (bisa jadi dia pria, banci, atau wanita juga): Berarti kamu tidak bisa hidup di dunia ini.
Wanita: Kenapa bisa?
Temannya wanita (yang jenis kelaminnya hingga saat ini belum diketahui): Karena dari 6 milyar penduduk dunia, 4 milyar-nya adalah tukang selingkuh.
Wanita: Terus 2 milyarnya?
Temannya wanita (yang, apakah penting mengetahui jenis kelaminnya?): 2 milyarnya calon tukang selingkuh. Sekarang mereka lagi magang.
Wanita: Jadi bagaimana mi dengan hidupku ini?
Temannya wanita, (yang sekarang tidak perlu kita tahu jenis kelaminnya): Selingkuh mi juga.
Wanita: Ih...ndak bisaku.
Temannya wanita, (yang setelah ini tidak perlu lagi ada kalimat penjelas untuknya): Kenapa tidak bisa? Coba mi dulu. Satu kali selingkuh itu masih dianggap khilaf. Tapi kalau sudah lebih dari satu kali, itu namanya ketagihan.
Wanita: Siapa mi yang mau saya selingkuhi kalau sampai sekarang belum ada pasanganku?
Temannya wanita: Oh...itu masalah yang sulit ditemukan solusinya. Cari saja teman bicara yang lain. Saya mau muntah dulu.


nb:
Jika kalian percaya bahwa ini adalah dialog nyata, sebaiknya periksakan diri Anda ke psikiater.
Namun apabila Anda merasa ini fiktif, berarti Anda adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang sedang kabur dari bangsal. Saat ini Anda merasa baik-baik saja, merasa tidak pernah gila, merasa tidak pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Anda tidak mau mengakui kenyataan tersebut, lalu Anda berhenti membaca tulisan ini.




Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...