Senin, 17 Juni 2013

Fredy bilang, The show must go on

Bertugas di tengah hutan yang mulai menyerupai perkampungan. Di rumah dinas yang hanya diisi sebuah tempat tidur, kipas angin, steker, dan beberapa buah majalah katalog Sophie Martin peninggalan penghuni sebelumnya.

Untuk mengisi kesibukan, ada beberapa pilihan hidup.
Pertama, jalan-jalan naik motor dinas ke kota yang berjarak 19 km + 8 km. Kalau jarak seperti itu di kota, tidak berasa karena ramai. Itu miriplah jarak antara Unhas ke Karebosi terus sampai Karebosi, lari-lari putar lapangan 5 kali. Tapi ini beresiko, selain ada resiko laten kendaraan, saya harus melewati dua kantor polisi, tanpa helm. Motor dinas diberikan tanpa helm. Jadi pelanggar lalu lintas terus.
Lagian kota yang mau saya datangi tidak jauh beda dengan tempat tugas sekarang. Tapi bisa lah, jadi pertimbangan.

Kedua, menjalin kasih dengan warga sekitar. Kata orang, sambil menyelam makan ikan. Tapi ini tindakan yang paling beresiko. Bermain dengan perasaan orang untuk mengisi waktu luang dengan outcome yang bisa berupa pernikahan atau justru parang. Untuk saat ini keduanya bukan outcome yang memungkinkan. Saya belum punya ilmu kebal dan belum cukup mapan. Kata teman, cowok harus punya 2M, macho dan mapan. Dia bilang begitu, setelah nonton acara Take Me Out. Entah itu salah atau tidak benar atau tak mungkin. Exclude.

Ketiga, ikutan dalam tim kampanye. Exclude. Tidak perlu penjelasan.

Keempat, kembali menerima orderan transletan dengan deadline-deadline tidak masuk akal. Masuk jam 7 pagi, deadline jam 2 siang. Masuk jam 2 siang, deadline jam 7 malam. What a deadline. Dibanding pilihan lain, saya pilih ini.

Okey, solved.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...