Selasa, 23 Juli 2013

Compromises

Segila apapun dirimu, seidealis apapun pikiranmu, dunia kerja dan realitas akan memaksamu menjadi rasional dan realistis. Begitu kata seorang teman.

Dulu, sebelum menyentuh dunia kerja dan realitas, pernyataan seperti itu hanya kuanggap angin lalu. Pikirku saat itu, hanya orang lembek yang mau diubah oleh keadaan. Manusia tangguh semestinya yang mengubah keadaan. Biarpun dunia berputar ke arah utara dan Justin Bieber dinaturalisasi jadi warga Indonesia, tak ada seorang pun yang dapat mengubah diriku selain saya sendiri. Whatever people say I am, that's what I'm not. Egoisme masa muda. Dunia berputar karena diriku, dunia tercipta untukku.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan persentuhanku dengan dunia kerja, seluruh isi pikirku nyaris ter-format ulang. Manusia dan idealismenya hanyalah sebuah atom di jagad semesta, hilangnya satu atom tak kan mengubah aliran dimensi ruang dan waktu. Melawan dunia berarti menyerahkan diri untuk tergilas oleh kenyataan.

Realitas dan dunia kerja telah membawaku ke sebuah pemahaman baru bahwa dunia adalah asbak kompromi. Membalik atau menyisihkan kompromi hanya akan membuat masalah dan kerusakan berjatuhan tanpa arah di sekitarmu, seperti abu rokok yang lepas tak terkendali. Karena tak mungkin memaksa seluruh dunia berhenti merokok, membuat masalah, lebih baik sediakan saja asbak kompromi agar mereka tidak merusak lebih jauh. Meskipun kompromi itu sendiri berarti kerusakan, dalam bahasa Inggris, namun saya telah membuktikan bahwa kompromi dapat menyelamatkan dalam berbagai kondisi genting.
Seperti saat bertemu manusia-manusia megalomaniak, saat berhadapan dengan klien yang sok penting, saat berurusan dengan sejawat yang menjengkelkan, kompromi dapat menghindarkan konfrontasi yang tak perlu.

Awal-awal melakukan kompromi, biasanya timbul perasaan berdosa. Apalagi untuk orang-orang yang memegang prinsip teguh. Tapi setelah membuat suatu batasan kompromi yang dapat ditoleransi, pada akhirnya nurani tak lagi bergejolak.

Namun, kata teman yang lain, nurani yang tak lagi bergejolak bisa berarti kita telah melakukan hal yang benar atau justru nurani kita sudah mati karena prinsip-prinsipnya telah runtuh.

1 komentar:

pribados mengatakan...

mumpung saya masih berkecimpung di perkuliahan, saya memilih untuk tetap idealis. Nanti bagaimana? Bagaimana nanti

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...