Rabu, 31 Juli 2013

Moneto

Punya banyak uang adalah segalanya. Bagaimana pun cara mendapatkannya. Jika sudah bosan membeli barang-barang di toko, showroom, dan black market, sisa uang yang masih terhambur-hambur dapat dipakai untuk membeli manusia dan hukuman mati. Apalagi yang lebih hebat dari itu?

Seorang teman pernah bilang, banyaknya uang yang manusia dapatkan berbanding lurus dengan jumlah pengorbanannya. Lalu bagaimana dengan para kuli yang tiap hari memanggul barang atau orang yang terlahir dari keluarga kaya? Apa pengorbanan mereka sepadan?
Konsep rejeki akan mengatakan bahwa apa yang mereka dapatkan sudah sepadan. Sepertinya tidak adil kan.
Tapi beberapa manusia bilang, rejeki tidak melulu soal uang. Bisa jadi itu berwujud ketentraman hidup, terhindar dari bahaya, terjauhkan dari perselingkuhan, teramankan dari polisi dan penjahat. Mungkin saja pernyataan seperti itu dibuat sebagai pengalihan isu atas ketidakmampuan menghasilkan uang banyak. Karena pada akhirnya, mayoritas manusia hanya melihat rejeki sebagai sesuatu yang dapat dihitung. Dan yang dapat dihitung, hanya uang.

Demi uang, jangan sungkan-sungkan untuk berbuat kejahatan besar, begitu kata pesakitan sosial. Daripada hanya mencuri ayam dengan resiko mati digebuk massa, lebih baik korupsi atau jual narkoba yang tanpa resiko sama sekali. Tanpa resiko karena biarpun tertangkap, toh, masih bisa hidup enak di penjara. Bisa dapat fasilitas seperti hotel, punya kesempatan berlibur dan ada juga bilik khusus untuk bercinta. Kalau bisa hidup nyaman dengan menjadi kriminal, mengapa harus menjadi orang baik?

Orang yang tidak punya banyak uang juga pernah bilang bahwa punya banyak uang tidak otomatis menjadikan seseorang terhormat. Hanya karena dia tidak punya banyak uang, makanya dia bisa bilang begitu. Mungkin saja pernyataan itu dibuat di atas dasar rasa dengki. Siapa yang tahu.
Fakta membuktikan, semua orang yang punya banyak uang, pasti dihormati. Apalagi kalau uangnya melebihi devisa negara Indonesia.

Orang-orang baik yang tersisa di Indonesia, mungkin karena terlalu baiknya, tidak mau banyak protes atas anomali tersebut. Biarlah mereka bahagia di dunia dan mendapat balasan di akhirat. Para orang baik merasa yakin sekali bakal masuk surga dan para kriminal bilioner itu pasti masuk neraka. Siapa tahu saja para kriminal itu bisa juga membayar malaikat agar diizinkan masuk surga. Mahluk Tuhan tak ada yang sempurna kan, bisa saja ada malaikat yang cacat. Siapa tahu saja ada malaikat yang matre. Sulit untuk membayangkannya. Tidak ada yang pernah mati lalu menjalani hari-hari di akhirat kemudian hidup lagi dan menceritakan kehidupannya setelah mati,
seperti apa malaikat,
seperti apa surga,
seperti apa neraka,
seperti apa mati.

1 komentar:

pribados mengatakan...

Setidaknya masih ada statement "Tuhan Maha Tahu".

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...