Minggu, 14 Juli 2013

Song Listing

Playlist di ponsel:
Foster the People - Waste
Foster the People - I Would Do Anything For You
Foster the People - Miss You
Inggrid Michaelson - Sort Of
Keane - The Sun Ain't Gonna Shine Anymore
Keane - What a Wonderful World
Keane - She Has No Time
Keane - To The End of The Earth
Keane - The Way You Want It Is
Maroon 5 - Sunday Morning (Acoustic Vers.)
Maroon 5 - Won't Go Home Without You (Acoustic Vers.)
Oasis - Champagne Supernova
Oasis - Don't Look Back in Anger
Oasis - Falling Down
Oasis - I'm Outta Time
Oasis - Slide Away (Noel Gallagher's Live Version)
The Submarine - Brightest Hour
The Submarine - Tugboat Captain
Vampire Weekend - Mansard Roof
Vampire Weekend - Oxford Coma
Vampire Weekend - Step
Vampire Weekend - Walcott

Tidak ada lagu dari Indonesia. Sok kebarat-baratan? Tidak juga. Sampai sekarang, saya tidak pandai berbahasa Inggris dan tidak terlalu jelas menangkap tiap kata yang dinyanyikan para penyanyi di atas. Yang saya tahu, lagu mereka terdengar bagus di telingaku.

Sudah bertahun-tahun saya tidak mengikuti perkembangan musik Indonesia. Waktu aktif-aktifnya dulu, chart musik Indonesia masih dikuasai Slank, Dewa, Sheila on 7, Padi, dan Iwan Fals. Sejak mereka tidak lagi aktif memproduksi lagu baru, saya nyaris putus hubungan dengan musik buatan negeri sendiri. Tidak ada satu pun musik Indonesia di playlist ponselku. Apa mungkin saya telah kehilangan nasionalisme? Entahlah.

Well, menurutku, selera musik tidak ada hubungannya dengan nasionalisme tapi lebih berkaitan erat dengan suasana alam bawah sadar, kebudayaan, pengalaman masa lalu, dan intelektualitas. Sedangkan nasionalisme, hanyalah sekelumit fragmen yang berasal dari lautan budaya. Bahkan banyak orang yang telah membuang nasionalisme, jauh dari fondasi peradaban yang pernah dipercayainya. Siapa butuh nasionalisme ketika perusahaan multinasional dapat memberikan lebih banyak kertas bergambar Abraham Lincoln dibanding BLSM yang dibagi-bagikan oleh pemerintah di negara sendiri.
Apalagi di era globalisasi seperti sekarang, ketika bentuk celana dalam artis Holywood sudah dapat dilihat oleh anak kecil di Kinshasa melalui Youtube dan MTV, musik tidak lagi mengenal batasan negara. Hampir semua musisi berlomba-lomba mencari penggemar dari negara lain. Mereka menghasilkan berbagai jenis musik yang dapat menyentuh alam bawah sadar manusia secara universal. Sehingga jangan heran jika musik Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika dapat merambah masuk, dan digemari oleh banyak orang Indonesia, padahal belum tentu mereka mengerti dengan bahasa para penyanyi asing tersebut.

Bandingkan dengan musik Indonesia, yang memiliki banyak aliran seperti koplo, dangdut, rock-melayu, pop-melayu, dan musik kedaerahan atau folklore. Ada berapa penyanyi Indonesia dari aliran-aliran tersebut yang bisa memiliki basis penggemar yang dapat melampaui batasan negara. Bahkan, untuk melewati batasan provinsi saja, sudah bisa dianggap sebagai prestasi yang luar biasa.

Kalaupun bisa melampaui batas negara, musisi Indonesia hanya bisa punya penggemar dari negara lain yang bahasanya masih serumpun. Untuk bisa merambah ke negara yang lebih jauh, beberapa musisi Indonesia rela mengganti bahasa liriknya dan menanggalkan budaya ke-Indonesia-annya agar lebih terlihat internasional.

Yang jadi pertanyaan, apa yang salah dengan musik Indonesia? Sehingga tidak bisa mendunia dan malah tidak sukai oleh banyak orang yang berasal dari negaranya sendiri. Apa musisi dan warganya kurang cerdas sehingga hanya bisa menghasilkan musik yang sifatnya kedaerahan, tidak universal, dangkal? Ataukah itu semua karena faktor kurangnya publikasi belaka? Seorang teman pernah bilang bahwa kekuatan finansial label rekaman multinasional dan MTV (media) merupakan hal yang tidak dimiliki oleh musisi Indonesia. Seandainya punya keduanya, musik koplo mungkin tidak hanya akan menghiasi playlist supir angkot dan supir truk, tapi juga bisa tercantum di iPod dan Zune milik Lady Gaga dan Chris Martin, atau malah mengiringi inaugurasi Presiden Amerika. Entahlah.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...