Jumat, 02 Agustus 2013

Poemanti

Saya bukan peminat puisi. Asli. Informasi yang tidak penting. But who cares. Ini kali kedua saya menulis tentang ketidaksukaanku pada puisi. Harap jangan tersinggung buat yang cinta puisi. Satu orang hater tidak akan meruntuhkan langit atau menggemparkan dunia perpuisian. Bahkan kalau SBY, Obama, dan Sekjen PBB bersatu jadi hater puisi, itu tak akan mengubah apapun, paling banter mereka hanya akan melakukan pelarangan pelajaran puisi di sekolah-sekolah, pembredelan dan pembakaran buku puisi, dan hal-hal semacamnya. Dunia puisi yang punya penggemar di seluruh penjuru bumi, tidak perlu khawatir. Life goes on.

Tiap dengar atau baca puisi, saya selalu membutuhkan asetaminofen yang dosisnya dua kali lebih besar dari yang kuperlukan saat membaca tulisanku sendiri. Karena itu, dari pada sakit kepala, saya lebih suka menjauh dari puisi atau tulisanku sendiri setelah itu terposting. Pernah saya mencoba membaca ulang tulisan-tulisanku yang dulu, kesan pertama yang muncul, "tulisan apa ini? Kenapa inkomprehensif sekali? Pasti penulisnya tidak berasal dari planet ini." Padahal itu saya yang menulisnya sendiri. Bagaimana dengan kesanku saat membaca puisi? Pastinya lebih parah dari membaca tulisan sendiri.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...