Rabu, 07 Agustus 2013

Someone to Blame

Saat kembali ke pondokan, yang menyambut hanya Ical, Hendrik, Fafi, Haris, Dani, Kak Aris dan Sudar. Satu hari kemudian, Ical, Hendrik dan Sudar ikut tren mudik.

Lima orang yang tersisa di pondokan sebenarnya berniat juga pulang ke kampung halaman. Tapi kami semua punya pemikiran yang sama, pulang kampung bisa dilakukan kapan pun, tidak harus lebaran. Pulang kampung hanya untuk shalat ied lalu ke rumah tetangga, ayolah, kenapa harus menunggu lebaran untuk melakukan hal tersebut?
Lagi pula pertarungan di medan mudik sudah terlalu ekstrim untuk orang-orang seusia kami. Berhimpit-himpitan di kapal laut, terombang-ambing di laut, rasa tidak aman, kepenatan dan frustasi, semua ketidaknyamanan itu, cukup dialami di masa lalu saat darah muda masih mengalir. Saya sudah terlalu tua untuk merasakan penderitaan seperti itu. Bumi ini terlalu tua untuk menyaksikan mahluk sepertiku menderita.

Penderitaan adalah hal yang nyata. Bertahun-tahun aku mencoba menghindarinya, tapi tetap saja dia datang dan menggodaku. Siapa yang harus disalahkan atas kemalangan itu? Pencipta penderitaan? Ini seperti hendak menyalahkan Hemingway yang telah menulis akhir novel yang tragis. Kenapa tidak menyalahkan saja orang yang membacanya? Kenapa harus ada yang disalahkan? Karena begitulah dunia bekerja. Tuhan, di akhir zaman, akan mencari-cari kesalahan manusia. Dia mencari sesuatu untuk disalahkan. Apa salah kalau kita, manusia, mencari sesuatu untuk disalahkan?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...