Rabu, 31 Juli 2013

Moneto

Punya banyak uang adalah segalanya. Bagaimana pun cara mendapatkannya. Jika sudah bosan membeli barang-barang di toko, showroom, dan black market, sisa uang yang masih terhambur-hambur dapat dipakai untuk membeli manusia dan hukuman mati. Apalagi yang lebih hebat dari itu?

Seorang teman pernah bilang, banyaknya uang yang manusia dapatkan berbanding lurus dengan jumlah pengorbanannya. Lalu bagaimana dengan para kuli yang tiap hari memanggul barang atau orang yang terlahir dari keluarga kaya? Apa pengorbanan mereka sepadan?
Konsep rejeki akan mengatakan bahwa apa yang mereka dapatkan sudah sepadan. Sepertinya tidak adil kan.
Tapi beberapa manusia bilang, rejeki tidak melulu soal uang. Bisa jadi itu berwujud ketentraman hidup, terhindar dari bahaya, terjauhkan dari perselingkuhan, teramankan dari polisi dan penjahat. Mungkin saja pernyataan seperti itu dibuat sebagai pengalihan isu atas ketidakmampuan menghasilkan uang banyak. Karena pada akhirnya, mayoritas manusia hanya melihat rejeki sebagai sesuatu yang dapat dihitung. Dan yang dapat dihitung, hanya uang.

Demi uang, jangan sungkan-sungkan untuk berbuat kejahatan besar, begitu kata pesakitan sosial. Daripada hanya mencuri ayam dengan resiko mati digebuk massa, lebih baik korupsi atau jual narkoba yang tanpa resiko sama sekali. Tanpa resiko karena biarpun tertangkap, toh, masih bisa hidup enak di penjara. Bisa dapat fasilitas seperti hotel, punya kesempatan berlibur dan ada juga bilik khusus untuk bercinta. Kalau bisa hidup nyaman dengan menjadi kriminal, mengapa harus menjadi orang baik?

Orang yang tidak punya banyak uang juga pernah bilang bahwa punya banyak uang tidak otomatis menjadikan seseorang terhormat. Hanya karena dia tidak punya banyak uang, makanya dia bisa bilang begitu. Mungkin saja pernyataan itu dibuat di atas dasar rasa dengki. Siapa yang tahu.
Fakta membuktikan, semua orang yang punya banyak uang, pasti dihormati. Apalagi kalau uangnya melebihi devisa negara Indonesia.

Orang-orang baik yang tersisa di Indonesia, mungkin karena terlalu baiknya, tidak mau banyak protes atas anomali tersebut. Biarlah mereka bahagia di dunia dan mendapat balasan di akhirat. Para orang baik merasa yakin sekali bakal masuk surga dan para kriminal bilioner itu pasti masuk neraka. Siapa tahu saja para kriminal itu bisa juga membayar malaikat agar diizinkan masuk surga. Mahluk Tuhan tak ada yang sempurna kan, bisa saja ada malaikat yang cacat. Siapa tahu saja ada malaikat yang matre. Sulit untuk membayangkannya. Tidak ada yang pernah mati lalu menjalani hari-hari di akhirat kemudian hidup lagi dan menceritakan kehidupannya setelah mati,
seperti apa malaikat,
seperti apa surga,
seperti apa neraka,
seperti apa mati.

Senin, 29 Juli 2013

Anxyoziolus

Hidup ini dipenuhi oleh kecemasan-kecemasan yang tidak perlu. Cemas pada masa depan, jodoh, penghasilan, karir, dan sejumlah hal tidak penting lainnya. Dari 100 kecemasan yang ada di kepalamu saat ini, hanya ada 1 kecemasan yang patut mendapat perhatian, 99 lainnya tidak lebih dari sekedar imajinasi atau produk sampingan yang timbul setelah kita menonton TV, mendengar musik dan membaca novel. Mereka semua tidak nyata. Jadi tenang saja jika kecemasan datang menyergap, mereka pasti berlalu bersama waktu.

Tapi jangan pernah katakan kalimat-kalimat seperti di atas pada orang yang sedang cemas. Bagi mereka, 99 kecemasan imajinatif yang mereka rasakan merupakan suatu kenyataan yang sulit terelakkan. Mereka tak bisa menghindarinya dan itu harus dirasakan karena bagi mereka, kehidupan tak berjalan sempurna tanpa adanya kecemasan.

Mencoba menenangkan kecemasan mereka hanya akan menimbulkan kecemasan yang lain. Jadi biarkan saja mereka cemas, sampai mereka sendiri sadar bahwa kecemasan itu tidak nyata.

Bomber

Salah satu hal yang saya suka dari Bilokka adalah orang-orang di sekitar sini tidak ada yang suka membakar petasan ketika yang lain sedang asyik tarawih.

Sabtu, 27 Juli 2013

Acromatic

Dunia tak selebar daun kelor. Memangnya, siapa bilang dunia selebar daun kelor? Ada. Banyak.
Orang yang selama hidupnya tinggal di pulau terpencil dan tak pernah keluar pulau sejak janin, paling sering mengalami disorientasi seperti itu. Mereka bertemu orang yang sama tiap hari. Mereka mengetahui seluk beluk orang-orang yang tiap hari ditemui hingga ke ukuran upil dan merek celana dalamnya. Jangan heran, saat bicara dengan orang macam itu, Anda seperti berbicara dengan katalog berjalan, dan yang menjadi produknya adalah tetangga dan keluarga. Bagi mereka, tetangga dan keluarga adalah sejenis barang elektronik yang harus dihafal spesifikasinya.

Sinistra

Beberapa orang awalnya mencoba menjadi sinis hanya agar tidak terlihat melankolis. Tapi mereka tidak sadar jika sinis adalah candu. Sekali mencobanya, maka hal itu akan menimbulkan ketagihan yang tak berujung.
Dulunya mereka hanya sinis untuk hal-hal selektif, tapi perjalanan waktu menjadikan sinis sebagai gaya hidup yang tak terelakan. Sehari tidak sinis seperti merebus sayur tanpa air.

Jumat, 26 Juli 2013

Panther

Semua angkutan antar kota yang menggunakan mobil non-bus, orang di sini menyebutnya Panther, padahal mobil yang digunakan adalah Avanza atau Xenia. Orang sudah jarang menggunakan Panther karena itu mobil merek lama yang untung saja kalau masih diproduksi. Lagipula, banyak orang yang tidak lagi naik mobil Panther karena tidak suka aroma solar yang terbakar.
Latah.
Sama seperti orang Bima yang menyebut semua jenis motor di daerahnya dengan sebutan Honda, jadi istilah Honda Mio (padahal semestinya adalah Yamaha Mio) atau Honda Ninja (sebetulnya Kawasaki Ninja) adalah hal yang lazim. Kelatahan itu juga dapat dilihat pada istilah Aqua. Semua jenis air kemasan disebut Aqua padahal mereknya adalah Ades, Club, atau mungkin JS.

Dunia memang hanya ingat yang pertama. Kedua, ketiga, dan seterusnya terpaksa harus mengikut.

I just ignored all the tales of a past life

Ingatan adalah identitas manusia. Begitu ingatan hilang, maka hilang pula identitasnya. Orang yang amnesia bisa mendapatkan kembali identitasnya dari ingatan orang -orang di sekitarnya yang masih memiliki ingatan tentang dirinya. Bagaimana jika orang lain juga telah kehilangan kenangan tentang orang yang amnesia itu? Maka praktis, terciptalah seorang manusia baru yang tak memiliki identitas.
Betapa mengerikannya suatu kehidupan manusia yang tak dikenali oleh orang lain maupun dirinya sendiri. Ataukah itu sebuah berkah?


Takdirania

Kata teman, untuk mewujudkan sesuatu, manusia harus punya keinginan, kesempatan dan kekuatan.
Ketika manusia tidak memiliki salah satu atau beberapa komponen tersebut tapi sesuatu tetap terjadi, maka itu yang dinamakan takdir.
Mungkin teman tersebut tidak tahu bahwa takdir tidaklah sesederhana itu atau justru saya yang menganggapnya terlalu rumit?

Petunjuk

Suatu hari di kanal. Saya berpapasan dengan seorang pria yang sedang menelepon sambil teriak-teriak. Sebetulnya malas mendengar percakapan telepon orang lain. Saya bukanlah sejenis KPK atau agen rahasia yang doyan menyadap. Tapi pria itu seperti sengaja teriak agar seantero kota mendengarnya. Mungkin dia terinspirasi iklan 3, menelepon dengan suara keras supaya terdengar keren.

Intinya, pria itu sedang memberikan petunjuk jalan pada temannya. Tapi caranya itu loh, satu kebun binatang di kerahkan dan kerangkeng makian seperti sengaja dilepas untuk menghiasi petunjuk yang telah diberikan. Mungkin saja teman yang diberikan petunjuk mengalami retardasi mental hingga sulit memahami petunjuk dan layak mendapat makian atau,bisa saja yang mendapat petunjuk sebenarnya cerdas, tapi tak ingin mengerti karena mendapat perlakuan yang kasar. Memangnya siapa manusia yang mau mendapat hadiah satu kebun binatang bonus sakit hati? Satu binatang saja, sudah cukup. Tidak perlu ditambah.

Sebenar apapun petunjuk yang diberikan, kalau disampaikan dengan cara yang kasar, saya juga pasti menolaknya.

Kamis, 25 Juli 2013

Sahur

Saya selalu suka suasana sahur di kawasan pondokan. Selalu ramai. Suasana yang tak mungkin kudapatkan di tempatku bertugas sekarang. Selalu suka melihat orang-orang yang bergegas mencari makan di dini hari. Apalagi ketika waktu imsak makin mendekat, orang-orang yang terburu-buru dan berdesak-desakan di warung makan, selalu memberikan tontonan yang menarik.
Saat fajar nyaris menjelang, orang yang makan tanpa mengunyah jadi pemandangan yang biasa. Mereka menelan secepatnya agar ada sesuatu yang mengganjal lambung, sesuatu yang dapat menjinakkan asam di sana. Kalau sudah begitu, saya jadi ingat dengan mahluk memamah biak. Telan semuanya, kunyah nanti. Paling miris ketika sedang asyik menelan, fajar datang, dan mereka belum sempat minum, apalagi kalau yang mereka telan terakhir adalah semangkuk sambal. Lengkap sudah, bahkan mahluk memamah biak pun butuh minum untuk dapat memamah dengan baik.

Ketika mereka mampu bertahan puasa selama 14 jam dengan kondisi sahur macam itu, mereka patut diacungi satu jempol. Dua jempol diberikan untuk orang yang sama sekali tidak sahur karena terlambat bangun. Itu juga pemandangan yang biasa di pondokan.

Choose Choice Choosen

Salah satu momen dalam hidup yang paling bikin greget adalah berada di persimpangan jalan pilihan. Bingung memilih jalan hidup karena tak ada pilihan yang dominan dan kita tak pernah tahu implikasi pilihan yang telah kita ambil.

Mencoba menjawab pertanyaan seperti ini, "apa yang terjadi seandainya saya memilih itu dan meninggalkan yang itu?" seringkali lebih sulit dari pertanyaan wawancara kerja.

Rasanya hidup lebih mudah ketika hanya ada satu pilihan hidup dan itu merupakan pilihan yang menyenangkan.

Selasa, 23 Juli 2013

Compromises

Segila apapun dirimu, seidealis apapun pikiranmu, dunia kerja dan realitas akan memaksamu menjadi rasional dan realistis. Begitu kata seorang teman.

Dulu, sebelum menyentuh dunia kerja dan realitas, pernyataan seperti itu hanya kuanggap angin lalu. Pikirku saat itu, hanya orang lembek yang mau diubah oleh keadaan. Manusia tangguh semestinya yang mengubah keadaan. Biarpun dunia berputar ke arah utara dan Justin Bieber dinaturalisasi jadi warga Indonesia, tak ada seorang pun yang dapat mengubah diriku selain saya sendiri. Whatever people say I am, that's what I'm not. Egoisme masa muda. Dunia berputar karena diriku, dunia tercipta untukku.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan persentuhanku dengan dunia kerja, seluruh isi pikirku nyaris ter-format ulang. Manusia dan idealismenya hanyalah sebuah atom di jagad semesta, hilangnya satu atom tak kan mengubah aliran dimensi ruang dan waktu. Melawan dunia berarti menyerahkan diri untuk tergilas oleh kenyataan.

Realitas dan dunia kerja telah membawaku ke sebuah pemahaman baru bahwa dunia adalah asbak kompromi. Membalik atau menyisihkan kompromi hanya akan membuat masalah dan kerusakan berjatuhan tanpa arah di sekitarmu, seperti abu rokok yang lepas tak terkendali. Karena tak mungkin memaksa seluruh dunia berhenti merokok, membuat masalah, lebih baik sediakan saja asbak kompromi agar mereka tidak merusak lebih jauh. Meskipun kompromi itu sendiri berarti kerusakan, dalam bahasa Inggris, namun saya telah membuktikan bahwa kompromi dapat menyelamatkan dalam berbagai kondisi genting.
Seperti saat bertemu manusia-manusia megalomaniak, saat berhadapan dengan klien yang sok penting, saat berurusan dengan sejawat yang menjengkelkan, kompromi dapat menghindarkan konfrontasi yang tak perlu.

Awal-awal melakukan kompromi, biasanya timbul perasaan berdosa. Apalagi untuk orang-orang yang memegang prinsip teguh. Tapi setelah membuat suatu batasan kompromi yang dapat ditoleransi, pada akhirnya nurani tak lagi bergejolak.

Namun, kata teman yang lain, nurani yang tak lagi bergejolak bisa berarti kita telah melakukan hal yang benar atau justru nurani kita sudah mati karena prinsip-prinsipnya telah runtuh.

Senin, 22 Juli 2013

Wind of Choke

Datang kembali ke Makassar. Dua minggu saja ditinggalkan, kota ini sudah berubah banyak. Tapi kata teman, belum banyak kok yang berubah dari Makassar, tetap panas dan masih latah. Dia yang tinggal terus di Makassar mungkin tidak menyadari semua perubahan yang telah terjadi di kotanya karena terlanjut larut bersama perubahan dan keriuhan kota.
Tapi saya yang hanya sesekali datang ke kota Makassar, merasa kota ini bergerak terlalu cepat.

Selain dikejutkan biaya angkot yang naiknya lebih dari 20%, saya juga kagok mendengar kalau biaya pondokanku juga melesat hingga mencapai 2 juta per tahun. Padahal waktu 2007, biaya sewanya masih 1,2 juta/tahun, include biaya listrik dan air. Sempat naik jadi 1,3 juta pada 2010, tiba-tiba saja pada tahun ini jadi 2 juta. Kenaikan yang wow, tapi saya cukup maklum dengan keputusan pemilik pondokan. Dunia telah berubah banyak sejak 2007, semua biaya kebutuhan hidup meningkat drastis, begitu juga dengan sewa pondokan.

Sebenarnya masih banyak pondokan lain dengan harga segitu yang fasilitasnya lebih bagus dari pondok yang saya tempati sekarang. Jadi opsi pindah ke tempat lain terdengar masuk akal. Meskipun pondokanku mungkin masuk kategori paling bobrok di kawasan Unhas setelah munculnya berbagai pondokan baru yang berfasilitas lebih lengkap, tetap saja sulit untuk meninggalkan pondokanku yang sekarang.

Satu-satunya kelebihan pondokan ini adalah dia memiliki nostalgia kehidupanku selama 6 tahun terakhir. Kenangan bersama teman-teman sepondok yang sekarang sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tiap jengkal tembok dan lantainya memiliki cerita. Terkadang saya tertawa sendiri kalau mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah kulewati di pondokan.

Saat ini, para penghuni lama telah berganti dengan penghuni baru. Kebanyakan dari mereka merupakan mahasiswa baru. Tak ada satu pun yang kukenal. Rasanya aneh, tempat yang dulunya sangat kukenal kini telah berubah jadi suatu dunia asing. Seperti menginjak planet atau benua baru.

Two Weeks Crazy

Akhirnya di Makassar lagi. Setelah menjalani 2 minggu yang gila di daerah yang amat sangat terlalu terpencil sekali.

Minggu pertama di daerah itu, semua masih baik-baik saja. Saya menjalani puasa pertama di minggu tersebut, mengikut jadwal pemerintah. Di masa lalu, jadwal puasa seperti ini tidak layak masuk catatan blog karena semua jadwal ritual keagamaan memiliki waktu yang seragam, namun di masa kini, hal-hal seperti ini pun harus diperjelas karena begitu banyak keberagaman jadwal ritual agama. Di Ramadan tahun ini, Lailatul Qadr kira-kira jatuh di malam ganjilnya siapa ya, pemerintah atau lain-lain? Itu pertanyaan yang bodoh.
Dalam beberapa tahun terakhir ini saya selalu menjalani puasa pertama dalam keadaan on duty di daerah lain, jauh dari keluarga. Kapan ya, bisa puasa bareng lagi keluarga?

Minggu kedua di tempat tugas merupakan minggu neraka. Tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Dua hari pertama, saya hanya ingin mengandalkan daya tahan tubuh untuk mengusir penyakit. Namun nampaknya hal tersebut tidak berhasil. Panggilan tugas dan panggilan ibadah puasa memaksaku untuk mencari pengobatan secepatnya. Seluruh badan rasanya luluh lantak. Untunglah para peneliti telah menciptakan antibiotik, antinyeri, dan anti-asam lambung. Sungguh obat-obatan tersebut benar-benar sangat membantu manusia dalam memerangi kesakitan. Terpujilah mereka.

Pada minggu kedua ini pula saya melihat wajah lain daerah ini. Minimnya pengetahuan masyarakat dan tingkah laku beberapa pejabat yang cenderung megalomania. Minimnya pengetahuan masyarakat mungkin tidak perlu dibahas terlalu jauh, karena hampir semua wilayah Indonesia masih dihuni oleh orang-orang seperti ini, untuk membasmi masalah itu, maka pemerintah mengucurkan banyak dana di bidang pendidikan dan melupakan bahwa sektor kesehatan juga butuh perhatian. Tapi tak apalah, pemerintah kita memang selalu begitu, terlalu fokus pada satu masalah dan melupakan masalah lain dan itu manusiawi. Bersyukur saja, negara ini belum bangkrut seperti kota Detroit, meskipun punya utang yang jumlahnya tidak kepalang tanggung.

Sedangkan untuk masalah tingkah laku pejabat, ini yang bikin miris. Apakah mungkin semua manusia, termasuk diriku, akan bertingkah megalomaniak dan gila hormat jika sudah menduduki suatu jabatan? Entahlah.




Minggu, 21 Juli 2013

Writo

Sebelum saya membuka blogger.com, ada sesuatu yang ingin ku tulis. Namun ketika blogger.com sudah terbuka, keinginan itu langsung hilang, mungkin ke laut. Saya sudah sering mengalami pengalaman seperti ini. Ketika benar-benar menginginkan sesuatu, saya tidak mendapatkannya. Namun ketika keinginan itu telah buyar, mereka justru datang sendiri.
Karena itu, saya berhenti menginginkan.

Jumat, 19 Juli 2013

Ambis Ius

Bahwa dalam setiap diri manusia, terdapat kotak ambisi. Saat itu terbuka, perangai manusia berubah, membuat manusia melakukan apa saja, meniadakan rasa puas dan berkecukupan.

Rabu, 17 Juli 2013

On Direction

Begitu mudahnya manusia kehilangan arah hidup. Jika sudah begitu, bahkan peta, kompas, dan GPS pun tak bisa membantu. Ributnya petasan di luar. Masih terang begini sudah ramai ledakan di berbagai penjuru cakrawala. Mereka mungkin sedang kehilangan arah menuju akal sehat.

Selasa, 16 Juli 2013

Biography

Halo world.

It's another nice day to talk about my life, my biography. Since no one wanna write it, so i'll do it alone. Then it will be the first publication that describe about me.

However, i don't know how to begin my life story because there are so many parts from my past that i couldn't tell anyone because of it's secrecy and i already forgot it. However, it's not related with forbidden sectes, paranormal activities, secret agencies, or astral experiences. I'm not such an exclusive human that can fly, have nanobot powers, talking with ghost and fighting against the dark side. It is not Star Wars and Paranorman.

Well, i guess it's enough for right now. Those explanations above, have told you everything that i'm completely random ensemble of an ordinary human. Period.

Nb:
tugas mengarang bahasa inggris yang belum dikoreksi.

Habitualisme

Jika saya mulai bosan menerjemahkan jurnal, saya langsung memulainya dari halaman paling akhir. Entah sejak kapan saya memulai kebiasaan ini, yang pasti hal tersebut sangat membantuku dalam mengusir rasa jenuh.
Saat melakukannya, selalu timbul sugesti bahwa tiap hal membosankan pasti memiliki akhir. Entah itu berakhir lalu tergantikan oleh hal yang menyenangkan atau justru hal membosankan lainnya. Anggap saja itu sebagai kejutan kehidupan, seperti membeli kucing dalam karung, atau melihat foto seorang wanita dengan Camera 360. Menipu, tapi banyak yang suka.

Sun and Cloud

Malasnya beraktivitas ketika langit sedang mengencingi bumi dengan air hujan. Rasanya ingin tidur saja, sampai matahari berhasil mengusir gerombolan geng awan yang kerjanya main-main air terus selama seminggu ini. Tapi begitu matahari sudah menggantung di langit, malas tak juga sirna. Tetap ogah beraktivitas, alasannya panas, tunggu awan menutupi matahari. Manusia, apa maumu?

Senin, 15 Juli 2013

Sicky

Rasanya seluruh badan luluh lantak. Sakit itu benar-benar menyakitkan. Ingin beraktivitas tapi tubuh melarang. Sepanjang hari, tubuh hanya minta tidur. Namun tidur pun tidak membantu. Mata tak bisa terpejam, nyenyak tak juga datang. Bukannya memulìhkan, sakit kepala justru makin menjadi. Hanya menimbulkan frustasi. Begitu mudahnya meminta orang agar bersabar saat sedang sakit. Tidak tahukah mereka bahwa sabar itu melayang jauh entah kemana ketika sensasi tercabik-cabik menyelimuti seluruh tubuh. Dari pada harus meminta sabar, lebih baik mereka ambil saja penderita itu, biar mereka rasakan bagaimana sulitnya sabar ketika sakit menyerang. Tapi itu tak mungkin kan.

Biarpun menjengkelkan dan memuakkan, tetap saja, para pengingat seperti itu merupakan orang-orang yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang sakit. Para pengingat itu sebenarnya sangat peduli pada orang yang sakit, hanya saja kepedulian tersebut salah diinterpretasi. Daripada mengutuk gelap ketika lilin padam, lebih baik nyalakan genset, terus cari obat dan sugesti diri sendiri, badai pasti berlalu. Hanya saja kita tidak tahu, ketika badai berlalu, apakah jiwa dan raga ini masih tetap memijak bumi.

Interupsi

Waktu buka puasa dan sahur yang terganggu oleh panggilan tugas harus dinikmati sebagai salah satu bumbu kehidupan. Kalau pengalaman seperti itu hanya jadi bumbu, terus apa dong makanan utamanya?

Minggu, 14 Juli 2013

Rain City

Minggu ini, Sidrap menjadi kota hujan. Tiap hari langitnya muntah-muntah. Memenjarakan jiwa-jiwa yang bebas dalam rumah-rumah raga yang mulai terserang malas karena dingin yang menusuk.

Transaksi

Cinta memiliki batas. Ketika rasa bosan dan interaksi yang terjadi antara dirimu dan sang tercinta hanya berupa kegiatan transaksional belaka, imbal-balik untuk mencapai impas, maka cintamu telah mencapai batasnya.

Dog Dog

Di daerah tempatku bertugas, populasi anjing hampir sama jumlahnya dengan populasi manusia. Mereka berjalan-jalan keliling kampung, memamerkan taring dan gonggongan, menggertak orang-orang, seperti jagoan kampung. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa bilang, i hate dog.

Sejak matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat, anjing selalu jadi hewan yang tidak masuk dalam daftar hewan yang layak untuk dipelihara. Ada sesuatu dari anjing yang membuatku tak ingin dekat-dekat.
Saya hanya suka anjing ketika mereka terdengar melolong di luar rumah, berkelahi, sedangkan saya, berada di dalam rumah, mengunci pintu, dan berpikir, untung saya tidak keluar rumah.

Song Listing

Playlist di ponsel:
Foster the People - Waste
Foster the People - I Would Do Anything For You
Foster the People - Miss You
Inggrid Michaelson - Sort Of
Keane - The Sun Ain't Gonna Shine Anymore
Keane - What a Wonderful World
Keane - She Has No Time
Keane - To The End of The Earth
Keane - The Way You Want It Is
Maroon 5 - Sunday Morning (Acoustic Vers.)
Maroon 5 - Won't Go Home Without You (Acoustic Vers.)
Oasis - Champagne Supernova
Oasis - Don't Look Back in Anger
Oasis - Falling Down
Oasis - I'm Outta Time
Oasis - Slide Away (Noel Gallagher's Live Version)
The Submarine - Brightest Hour
The Submarine - Tugboat Captain
Vampire Weekend - Mansard Roof
Vampire Weekend - Oxford Coma
Vampire Weekend - Step
Vampire Weekend - Walcott

Tidak ada lagu dari Indonesia. Sok kebarat-baratan? Tidak juga. Sampai sekarang, saya tidak pandai berbahasa Inggris dan tidak terlalu jelas menangkap tiap kata yang dinyanyikan para penyanyi di atas. Yang saya tahu, lagu mereka terdengar bagus di telingaku.

Sudah bertahun-tahun saya tidak mengikuti perkembangan musik Indonesia. Waktu aktif-aktifnya dulu, chart musik Indonesia masih dikuasai Slank, Dewa, Sheila on 7, Padi, dan Iwan Fals. Sejak mereka tidak lagi aktif memproduksi lagu baru, saya nyaris putus hubungan dengan musik buatan negeri sendiri. Tidak ada satu pun musik Indonesia di playlist ponselku. Apa mungkin saya telah kehilangan nasionalisme? Entahlah.

Well, menurutku, selera musik tidak ada hubungannya dengan nasionalisme tapi lebih berkaitan erat dengan suasana alam bawah sadar, kebudayaan, pengalaman masa lalu, dan intelektualitas. Sedangkan nasionalisme, hanyalah sekelumit fragmen yang berasal dari lautan budaya. Bahkan banyak orang yang telah membuang nasionalisme, jauh dari fondasi peradaban yang pernah dipercayainya. Siapa butuh nasionalisme ketika perusahaan multinasional dapat memberikan lebih banyak kertas bergambar Abraham Lincoln dibanding BLSM yang dibagi-bagikan oleh pemerintah di negara sendiri.
Apalagi di era globalisasi seperti sekarang, ketika bentuk celana dalam artis Holywood sudah dapat dilihat oleh anak kecil di Kinshasa melalui Youtube dan MTV, musik tidak lagi mengenal batasan negara. Hampir semua musisi berlomba-lomba mencari penggemar dari negara lain. Mereka menghasilkan berbagai jenis musik yang dapat menyentuh alam bawah sadar manusia secara universal. Sehingga jangan heran jika musik Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika dapat merambah masuk, dan digemari oleh banyak orang Indonesia, padahal belum tentu mereka mengerti dengan bahasa para penyanyi asing tersebut.

Bandingkan dengan musik Indonesia, yang memiliki banyak aliran seperti koplo, dangdut, rock-melayu, pop-melayu, dan musik kedaerahan atau folklore. Ada berapa penyanyi Indonesia dari aliran-aliran tersebut yang bisa memiliki basis penggemar yang dapat melampaui batasan negara. Bahkan, untuk melewati batasan provinsi saja, sudah bisa dianggap sebagai prestasi yang luar biasa.

Kalaupun bisa melampaui batas negara, musisi Indonesia hanya bisa punya penggemar dari negara lain yang bahasanya masih serumpun. Untuk bisa merambah ke negara yang lebih jauh, beberapa musisi Indonesia rela mengganti bahasa liriknya dan menanggalkan budaya ke-Indonesia-annya agar lebih terlihat internasional.

Yang jadi pertanyaan, apa yang salah dengan musik Indonesia? Sehingga tidak bisa mendunia dan malah tidak sukai oleh banyak orang yang berasal dari negaranya sendiri. Apa musisi dan warganya kurang cerdas sehingga hanya bisa menghasilkan musik yang sifatnya kedaerahan, tidak universal, dangkal? Ataukah itu semua karena faktor kurangnya publikasi belaka? Seorang teman pernah bilang bahwa kekuatan finansial label rekaman multinasional dan MTV (media) merupakan hal yang tidak dimiliki oleh musisi Indonesia. Seandainya punya keduanya, musik koplo mungkin tidak hanya akan menghiasi playlist supir angkot dan supir truk, tapi juga bisa tercantum di iPod dan Zune milik Lady Gaga dan Chris Martin, atau malah mengiringi inaugurasi Presiden Amerika. Entahlah.

Sabtu, 13 Juli 2013

Just For Fun

Manusia membuat mainan dari berbagai sumber daya yang dapat diraih, entah itu kertas, kain, kayu, logam atau materi sintesis lainnya, untuk mendapatkan kesenangan. Ketika manusia mulai bosan dengan bahan-bahan artifisial, mereka pun beralih memainkan mahluk hidup yang bergerak. Hewan dan sesamanya. Manusia sebagai mainan merupakan salah satu temuan paling efisien dalam sejarah peradaban. Bisa didapatkan secara bebas, bisa mengurus diri sendiri, mudah diperbanyak, dan harganya bisa lebih murah dari ponsel buatan China yang sebulan pakai langsung rusak. Malah pada zaman dulu, budak manusia bisa didapatkan secara cuma-cuma.

Manusia memainkan manusia dalam berbagai panggung kehidupan, mulai dari urusan politik hingga percintaan. Mereka tidak hanya memainkan raga dan tenaga, namun juga pikiran dan perasaan. Ketika bosan dengan satu manusia, maka langsung saja beralih ke mainan manusia yang baru. Tak perlu repot-repot membuang manusia mainan yang lama ke tong sampah karena para manusia mainan itu bisa membuang diri mereka sendiri ke jurang, jembatan, atau memutuskan nadi.
Betapa kejamnya manusia. Homo homini lupus.

Beberapa manusia, tidak puas dengan memainkan satu manusia dalam satu waktu. Mereka ingin memainkan beberapa manusia sekaligus entah karena alasan kebutuhan atau hanya untuk ajang lucu-lucuan. Manusia-manusia seperti ini yang terburuk, lebih baik mereka terjerang dalam dasar wajan yang gelap dan mendidih agar tak seenak udel memainkan manusia lainnya.

Name It SENtenc(S)E

Rasanya saya semakin sulit membedakan nama band dengan judul lagu. Nama mereka jadi terlalu panjang akhir-akhir ini. Dulu saya berpikir, orang macam apa yang mau menamakan band-nya dengan kata-kata yang panjang hingga nyaris menyamai panjangnya suatu lirik. Maksudku, orang yang berpikir logis dan cerdas pasti ingin menamai band-nya dengan kata-kata yang singkat, padat, dan jelas agar mudah diingat, menancap di otak seperti jarum di apel. Lihat saja band-band zaman dulu seperti The Beatles, Oasis, Coldplay, Dewa 19, Slank, Padi. Make sense? Sudah pasti. Karena hal tersebut merupakan common sense. Orang normal akan menganggapnya biasa.
Namun hal itu hanya berlaku di masa lalu. Di zaman sekarang banyak hal yang tidak membutuhkan common sense.

Karena itu jangan pernah meremehkan praduga dari sebuah kekonyolan atau pun kebodohan, meskipun kemungkinannya hanya satu banding semilyar. Biarpun tidak common sense, kekonyolan masih termasuk sense. They can turn out in the way that you'll never expect. That's why, they call it destiny.

Jumat, 12 Juli 2013

Onjudger

Jika kamu tidak pernah lagi update status di media sosial, berarti kehidupanmu baik-baik saja, hal sebaliknya berlaku jika kehidupan yang kamu jalani adalah jenis kehidupan yang kau benci atau yang kau sukai sebagai pencitraan tapi alam bawah sadarmu membencinya. Saya tidak heran jika orang yang rajin update status di media sosial, memiliki tingkat depresi yang tinggi. Mereka hanya butuh perhatian yang tidak pernah didapatkan di dunia offline. Sayangnya, dunia online tidak selalu bisa memberikan perhatian yang dibutuhkan. Terkadang penghuni dunia maya kejam dan menjadi hakim atas ketidakberdayaan para pencari perhatian. Begitu kata seseorang yang pernah kukenal. Mungkin saja dia pernah jadi korban penghakiman massa secara online.
Tapi dia tidak terlihat seperti orang yang depresi. Sepertinya dia berhasil move on.

Patience

Karena aku manusia, makanya aku lebih memilih kesabaran yang berbatas. Kesabaran yang tak berujung hanyalah ilusi bagi manusia yang diciptakan dari dongeng dan kisah-kisah lama. Kita selalu mendengarnya, tapi. kita tidak pernah bisa merasakannya. Memangnya manusia gila macam apa yang bisa berakhir hingga melampaui akhir zaman?

Rabu, 10 Juli 2013

Breaking the Chain of Goodness

Memutus rantai kebencian tidak semudah mengatakan, aku memaafkanmu. Hati yang terlanjur terluka tidak akan pernah bisa sembuh. Selama apapun waktu telah berlalu, rasa sakit itu akan selalu ada selagi ingatan masih hidup.
Bagi orang yang pernah sakit hati dan merasakan kebencian yang mendalam, "berdamai dengan masa lalu" hanyalah sebuah kalimat yang tak bermakna. Karena bagi mereka, satu-satunya cara yang tampak masuk akal untuk menghilangkan kebencian adalah menyalurkannya ke jalan pembalasan dendam.
Namun tidak semua orang sakit hati, pernah membalas dendam. Pada umumnya, pembalasan mereka kandas di tengah jalan karena ketika logika mereka bekerja keras untuk mencari berbagai cara untuk membalas dendam, yang mereka temukan justru berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Jika sudah sampai di titik itu, mereka pun berhenti membalas dendam lalu mereka melanjutkan hidup bersama luka hati yang dipaksakan sembuh.

Sambil terus menunggu celah dan kesempatan saat pembalasan dendam itu datang.

Short Text Message

Dapat sms pagi-pagi dari nomor aneh. Ternyata itu nomornya Rashid. Seorang teman dari Malaysia. Tahun lalu kami sama-sama menjalani Ramadan di bagian bedah. Tapi di Ramadan tahun ini, dia di Kuala Lumpur bersama keluarga, sedangkan saya terjebak di Sidrap. Ini sudah tahun ke-enam saya menjalani Ramadan di perantauan, jauh dari keluarga. Dan rasanya Ramadan jauh dari keluarga itu, tak berasa apa-apa, biasa saja.
And it's okey, if i go away, just remember the telephone, they work in both way. Biarpun jauh, kan, masih bisa menelepon.

Senin, 08 Juli 2013

Maaf

Katanya, beberapa orang di dunia ini tidak perlu dimaafkan. Karena manusia bukanlah Tuhan yang Maha Pemaaf.
Jadi tidak perlu bersikap seperti Tuhan yang ingin memaafkan semua kesalahan orang lain. Mengapa kita harus menerima maaf orang lain jika kita bisa menolaknya?

Kalau kamu bisa berkata bahwa mengapa menolak permintaan maaf, padahal Tuhan saja Maha Pemaaf,
Mengapa kamu tidak bisa bilang, mengapa harus minta maaf, Tuhan saja tidak pernah minta maaf?

But that's just saying.

Minggu, 07 Juli 2013

Mission: Finding Electric

Bangun pagi, air PAM tidak mengalir dan listrik padam. Baterei handphone dan laptop juga habis. Lengkap sudah penderitaan. Mati gaya.

Sisa orang di posko langsung menyusun strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan utama, cari steker a.k.a colokan listrik agar handphone dan laptop bisa nyala, sehingga, kami bisa eksis dan tidak mati gaya lagi. Tujuan sampingan, mengusir kebosanan sambil cari makan. Dan satu-satunya lokasi yang dianggap dapat memenuhi semua tujuan kami adalah KFC Pare-pare.

Dengan beranggotakan pilot kak ipal, co-pilot sky, pemilik mobil adly dan pemilik dana nufit, kami berangkat menuju KFC Pare-pare. Tim yang sempurna. Hanya satu kekurangan tim kami, tak ada satu pun yang tahu lokasi KFC Pare-pare. Sebelum berangkat, kami sudah menyiapkam semua peralatan elektronik yang butuh isi ulang, colokan kombinasi, dan krim anti-malu. Tidak lupa bawa dompet, ini yang terpenting.

Di awal perjalanan, semua aman terkontrol. Tapi begitu masuk Pare-pare, kesesatan mulai timbul. Perdebatan tentang harus belok kiri, kanan, atau lurus saja jadi hal yang biasa. Setelah tersesat beberapa kali, dan minta petunjuk di masjid, tanya jamaah yang habis shalat zuhur, akhirnya kami berhasil menemukan KFC Pare-pare.

Saat masuk gedung KFC, hal pertama yang kami cari adalah meja kosong yang dekat dengan colokan. Kami menyebar ke lima penjuru gedung, tapi hasilnya nihil. Terpaksa rencana utama dibatalkan, dan hanya rencana sampingan yang dijalankan. Tapi itu sudah cukup untuk mengembalikan kewarasan yang sempat kabur saat jauh dari peradaban, air dan listrik adalah peradaban. Setidaknya kami bisa mencuci tangan di wastafel dan melihat Sm*sh menari-nari di LCD KFC. Setelah puas memandangi Morgan di layar LCD dan menghabisi paha ayam, kami pulang.

Sabtu, 06 Juli 2013

Magically Lazy Time

Semua orang di posko bangun telat. Ada semacam sihir yang membuat kami tidak ingin bergerak.
Suasana negatif menyelimuti atmosfir posko. Rumor-rumor mengenai pemanfaatan pihak birokrasi membuat kami semua malas beraktivitas. Sebetulnya bukan lagi rumor. Karena pada praktiknya, kami hanya dijadikan pion dalam program ini. Melakukan beberapa hal yang berada di luar kewenangan kami. Menuliskan hal ini saja sudah membuat malas, apalagi saat dijalani.

Dulu saya selalu bertanya, mengapa orang dewasa suka mengeluh. Sekarang saya semakin mengerti, dalam proses menjadi dewasa, ada hal-hal menjengkelkan yang terkadang harus dihadapi. Tidak semua dapat diatasi atau dilawan karena manusia punya kekuatan yang terbatas. Sehingga salah satu cara untuk meratapi keterbatasan tersebut adalah mengeluh.
Jadi biarkanlah orang dewasa mengeluh. Itu cara mereka mendapatkan hak yang terlanjur terampas.

Think Realistic

Saya tidak suka berteman dengan orang yang realistis. Namun saya suka ketika saya yang menjadi realistis. Hal yang menjengkelkan ketika melihat orang lain bisa realistis sedangkan saya sendiri masih naif dan berjalan-jalan dalam terowongan imajinasi yang kosong.
Kehidupan pasca-kuliah memaksaku untuk membunuh semua kenaifan yang sudah terlanjur berkecambah di otakku.

Sepanjang perjalanan dari Makassar ke Sidrap tadi siang memberikanku kesempatan untuk berpikir lebih jauh mengenai batasan realistis dan kenaifan yang dapat ku toleransi.

Jumat, 05 Juli 2013

Mandela

Saya berdo'a untuk kebaikan Mandela, Meskipun belum pernah bertemu beliau, saya merasa yakin, bahwa beliau ada orang yang pantas untuk dido'akan. Sosok manusia seperti beliau mungkin hanya akan muncul sekali dalam ratusan tahun. Memaafkan pemerintah apartheid yang telah memenjarakannya lebih dari dua dekade, hanya orang yang benar-benar berjiwa besar dan sejati tulusnya, yang mampu melakukannya.

Kalau saya yang sekarang jadi Mandela saat itu, mungkin saja Afrika Selatan tidak akan damai seperti saat ini. Untunglah. Memutus rantai kebencian dan menghentikan lingkaran dendam merupakan perkara yang sulit. Lebih sulit dari gabungan ujian SMBPTN, UKDI, dan memacari tukang selingkuh.

Salut untuk Mandela yang mampu melewati ujian kebencian dan membawa kedamaian di Afrika Selatan. Semoga engkau senantiasa bahagia di sana, Mandela.

Kamis, 04 Juli 2013

Grounded Hall Away

Jalan-jalan di bioskop untuk nonton Despicable Me 2. Saya merasa trailer-nya lebih bagus dari film-nya ketika dinonton secara utuh. Mungkin, itulah gunanya trailer, menipuku.

Ketemu teman seangkatan dan senior, dan komentar mereka hanya satu, "cukur kumismu". Semakin disuruh begitu, darah anti-mainstream-ku semakin bergejolak. Makin tidak ingin mencukur kumis. Saat semua pria kepala dua ingin terlihat lebih muda dengan mencukur kumis dan ketika semua wanita lebih suka dengan pria yang kelihatan muda dan cantik akibat demam Korea, saya akan tetap mempertahankan style anti-mainstream ini, kumisan.

Mulai merasa jengah dengan novel serta segala kisah fiktif. Begitu ingin melangkah masuk ke toko buku, seperti ada remote control yang mencegahku untuk membaca buku-buku yang dulunya kusukai. Saya justru lebih tertarik membaca buku non-fiksi yang bersifat teknis dan ilmiah. Sepertinya ada yang salah dengan otakku sejak terlalu lama terpapar oleh berbagai jurnal yang ku terjemahkan tiap minggu. Rasanya langsung mual ketika akan membaca novel. Mungkinkah saya hamil? Well, forget it. Sepertinya itu hanya efek lapar.

Cari makan di Mahadir Canai House, satu porsi makan untuk jatah pagi-siang-malam. Entah apa campuran makanan di restoran ini, satu piring nasi gorengnya dapat menghapus rasa lapar yang berasal dari pagi dan siang, sekaligus menambal rasa lapar di malam hari. Saat mengetik ini, lambungku seperti masih dipenuhi nasi goreng.

Ke Carefour hanya untuk bordir papan nama jas, beli vitamin A, B, C, Mizone rasa blewah yang baru dirilis (rasanya aneh), wafer Rock'r (terlalu manis, hanya cocok untuk masa kelaparan), Silverqueen almond (terambil secara tidak sengaja).

Terus ada telepon dari Dinkes, katanya STR-ku sudah bisa diambil. Dengan adanya STR, now i'm officially a doctor. Tapi kok kayak ndak berasa apa-apa ya?




Name It Label

Apa kamu pernah melihat orang yang menamakan binatang peliharaannya dengan namanya sendiri?
Pasti akan menjadi situasi yang aneh ketika kita bermaksud memanggil seekor binatang tapi justru pemiliknya yang datang.
Creepy.

Rabu, 03 Juli 2013

Kimia Pangan dan Gizi

Berhubung tidak ada bahan bacaan bagus selama liburan, terpaksa buku Kimia Pangan dan Gizi kujadikan penyalur kebosanan. Karakteristik buku ini menyerupai buku-buku ilmiah lainnya, membosankan. Jadi sebenarnya, pilihanku untuk menggunakan buku ini sebagai penyalur kebosanan merupakan suatu perkara yang patut dipertanyakan. Tapi karena tidak ada yang bertanya, jadi biarkan semua berjalan apa adanya.

Setidaknya buku Kimia Pangan dan Gizi bisa memberikan informasi mengenai berbagai bahan pengawet dan pewarna yang biasa dimasukkan dalam perut manusia oleh pabrik-pabrik pembuat jajanan. Semua yang enak di luar sana bersifat artifisial. Tapi saya tidak ingin tahu lebih jauh mengenai proses pembuatan berbagai makanan yang biasa kuhabisi tiap hari karena saya selalu ingat dengan pepatah lama yang mengatakan bahwa dua hal yang sebaiknya tidak dilihat proses pembuatannya, makanan dan undang-undang.

Waktu masih kuliah dulu, temanku melakukan kunjungan ke pabrik tahu dan tempe sebagai bagian dari tugas kampus. Setelah melihat proses pembuatan tahu dan tempe, yang katanya bikin merinding, akhirnya dia tidak pernah lagi makan tahu dan tempe. Saya punya firasat jika saya melihat juga proses pembuatan tahu dan tempe, mungkin saya akan mengikut jejak temanku, tidak lagi bisa memakan tahu, tempe, dan susu kedelai.

Beberapa orang hanya ingin tahu yang baik-baik saja, mereka menutup mata terhadap segala yang buruk. Mungkin saya salah satu orang seperti itu.

Oasis - I'm Outta Time

Terjebak dalam dimensi lain ketika mendengar lagu ini.


I Feel It in My Bones

Mungkin saya tidak lagi membutuhkan makna yang berasal dari kata-kata. Saya hanya memerlukan bebunyian dan persepsi sensoris.





Selasa, 02 Juli 2013

Oxford Coma

Salah satu video klip paling absurd yang pernah saya nonton. Konon kabarnya, mereka hanya melakukan satu kali take untuk membuat video ini. Mungkin untuk menghemat bugdet, atau justru karena mereka terlalu profesional, padahal ini album indie debut Vampire Weekends.



Lagi-lagi musik anti-mainstream. :D

Walcott

Saya tidak mengerti mengapa lagu ini bisa terdengar bagus di telingaku. Padahal lirik lagunya seperti tidak bermakna.




Alright

Saya cuma suka intro-nya. Mengingatkan pada iklan processor Intel.

To Be Where There's Peace

Di masa yang silam, saya selalu berpikir bahwa desa adalah tempat yang nyaman untuk di tempati. Sebuah dunia yang penuh dengan kesahajaan, kesederhaan, dan kepolosan, dimensi ruang yang tepat untuk lahirnya kedamaian. Namun berbagai peristiwa yang telah terjadi akhir-akhir ini membuatku berpikir ulang tentang generalisasi desa sebagai tempat yang nyaman.
Mind set-ku yang dulu tentang kenyamanan desa pasti-lah terkontaminasi oleh film dan bacaan-bacaan masa lalu. Semua kontaminan itu membuat pikiranku kabur dalam menilai realitas, hal itu membuatku salah beradaptasi dengan kehidupan desa yang sekarang. Di masa lalu, saat semua film dan bacaan propaganda diciptakan, desa mungkin tempat yang nyaman. Namun di masa kini, desa tidak lagi sejalan dengan segala hal yang pernah kunonton, yang pernah kubaca, dan pernah kudengar.

Butuh waktu untuk membersihkan penalaran dari pengetahuan sesat masa lalu. Namun begitu semuanya jelas, kini aku mengerti, tidak ada satu pun tempat yang benar-benar damai selain lautan pikiran.

Role Playing Game

Jalani hidup seperti RPG. Banyak bereksplorasi, sering berdialog, dan bantu setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Yakin saja, tokoh utama selalu menang di akhir. Tapi itu tidak berlaku kalau kamu yang jadi penjahatnya.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut