Sabtu, 31 Agustus 2013

Mirror Mirror Mirror

Di pondokan, ada sebuah cermin yang diletakkan di ruang nonton.
Kami menyebutnya cermin cinderella. Semua orang yang bercermin di situ langsung terlihat lebih tampan.
Efek pencahayaan di ruang nonton membuat semua yang terpantul dari cermin cinderella menjadi lebih artistik.
Kru pondokan, biarpun punya cermin di kamar, mereka justru lebih memilih bersolek di cermin cinderella.
Terlihat lebih tampan di sebuah cermin, biarpun itu hanyalah ilusi, maya, bohong, tetap saja menyenangkan.

Jumat, 30 Agustus 2013

Drowsy

Saya tidak tahu bedanya drowsy dengan sleepy. Karena sepertinya dalam bahasa Indonesia, arti untuk dua kata itu sama, mengantuk. Kebiasaanku bergadang kambuh lagi dalam dua minggu terakhir. Sangat tidak sehat.

Happily

Ada dua golongan orang yang bahagia, pertama, yang punya banyak keinginan lalu mampu mewujudkan keinginan-keinginan tersebut dan kedua, orang yang tidak punya keinginan sama sekali. Sedangkan manusia yang paling menderita adalah yang punya banyak keinginan tapi tak satu pun yang tercapai.

Kamis, 29 Agustus 2013

Riuh

Rencana awal beli smartphone agar bisa lebih mudah membuka email dan kegiatan blogging bisa lebih lancar. Tapi rencana tetap tinggal sebagai rencana tidak pernah terealisasi. Saya justru terhisap dalam pusaran keriuhan media sosial. Asli, di sana terlalu riuh. Saya lebih suka suasana blogspot yang sunyi. Tidak ada liabilitas.

Nb: insidensi kesalahan ketik di smartphone jauh lebih tinggi dibanding phone yang tidak terlalu smart.

Rabu, 28 Agustus 2013

Feelit

Rumit. Tidak tahu mana jalan yang benar. Tidak tahu benar yang mana yang harus diikuti. Benar menurutnya atau menurutmu, yang pasti, benar menurutku tidak ada. Kalau itu ada, saya tidak perlu bingung seperti ini.

Minggu, 25 Agustus 2013

Touchy

Belum terbiasa dengan touchscreen. Rasanya kurang sreg kalau harus mengetik tanpa menekan tuts yang keras. Emosi tidak tersalurkan dengan tepat. Berlebihan, tapi begitulah adanya. Sejak dulu, manusia senantiasa melakukan ritual-ritual yang keras dan berat untuk menyalurkan perasaan. Lihat saja acara ibadah tiap agama, selalu ada gerakan khusus untuk mendekati Sang Pemilik Perasaan Semesta.
Aktivitas yang rigid seolah-olah dapat menggeser kegundahan yang menyumbat hati. Seperti saat menekan tuts Nokia 5310 lamaku yang kerasnya minta ampun saat menulis blog ini. Rasanya menyenangkan jika sudah memposting sebuah tulisan setelah bersusah payah menulisnya dengan tuts yang menghabiskan energi. Sensasi seperti itu belum bisa kudapatkan dari ponsel layar sentuh yang katanya pintar. Terasa hambar. Lagi-lagi berlebihan.

Semua hanya masalah kebiasaan. Jika sudah lama terjalani, pasti akan terbiasa juga. Saya selalu percaya bahwa manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Groty

Carilah pasangan hidup yang dapat menerima kumis dan rambut ikalmu, begitu kata seorang teman. Sayangnya, seluruh dunia membenci keduanya. Jadi terimalah nasibmu anak muda, jika kamu memiliki keduanya dan tak dapat atau tak mau mengubahnya.

Rabu, 21 Agustus 2013

Love It Till Countless Number Emptying It's Less

Katanya, agar bahagia, jangan pernah meninggalkan orang yang mencintaimu dan berhentilah mengejar orang yang tidak mencintaimu.
Terdengar basi dan klise.
Tapi mungkin akan saya coba aplikasikan.

Polyfracta

Terlalu banyak membuat akun media sosial membuatku kebingungan. Bingung dengan cara mengurusnya. Kapan harus update line, kapan harus buka fb, kapan harus check in di path, kapan harus berfoto di instagram, kapan harus ngetwit? Mungkin inilah yang disebut dengan cultural shock. Saat kemajuan zaman justru membuat manusia semakin impulsif dan disorientasi terhadap realitas. Kata seorang teman, kondisi seperti itu hanya bisa disembuhkan oleh paceklik kuota internet.

Sabar dan menahan diri. Itu ajaran lama yang sudah terdengar kuno. Saking kunonya, ada rencana untuk menghapus kata sabar dari kamus bahasa. Orang sabar tidak bisa hidup di zaman moderen. Saat semuanya serba terburu-buru.

Padahal sejak Adam dan Hawa tercipta, ajaran sabar telah disampaikan Tuhan melalui perantaraan buah khuldi. Seandainya saja Adam dan Hawa bisa menahan diri.

Senin, 19 Agustus 2013

Jelajah

Sedang mencoba melakukan hal-hal baru, yang dulunya tidak disukai. Menjadi sesuatu yang lain.

Minggu, 18 Agustus 2013

Fate for Freedomioni

Merdeka itu terbebaskan dari siksaan perasaan obsesif dan posesif, teryakinkan bahwa tidak semua hal harus dan bisa dimiliki, segila apapun keinginan kita untuk mendapatkannya. Saya ingin sekali memiliki bulan, menyimpan dan menjadikannya salah satu koleksi di rumah. Sayangnya, hal macam itu hanya dapat terjadi di film Despicable Me. Di bumi yang kupijak, tempat orang-orang bisa saling bunuh atas nama tuhan atau malah karena uang seribu rupiah, antara yang realistis dan imajinatif sangat jelas batasannya. Ada jutaan hal imajinatif yang tetap menjadi imajinasi dan hanya menjadi obsesi gila karena hukum alam realitas tak pernah mengizinkan manifestasinya.

Meskipun kata orang, takdir itu di tangan tuhan, manusia sudah bisa memprediksi batasan-batasan probabilitas takdir. Seperti seorang pria yang hidup di pedalaman Kalimantan, yang tidak mungkin menikah dengan wanita yang hidupnya di pedalaman Afrika. Mereka tak mungkin bisa bertemu, tak ada transportasi, tak ada komunikasi, beda budaya, beda bahasa, mana mungkin bisa bertemu. Hanya kejadian luar biasa yang dapat menikahkan mereka. Misalnya saja tiba-tiba terjadi serangan alien yang menculik manusia untuk dijadikan permen lolipop, wanita Afrika dan pria Kalimantan tersebut diculik lalu dipertemukan di pesawat alien, tiba-tiba saja mereka jatuh cinta saat bertemu, dan 15 menit sebelum diubah jadi lolipop mereka menikah. Karena itu hanya pemisalan, jadi lupakan jalan cerita logis tentang penjajakan, pengenalan orang tua, atau tentang siapa yang harus pindah agama kalau mereka menikah, atau penghulunya harus menghadap mempelai atau membelakangi atau tentang kepanikan yang terjadi saat mereka akan diubah jadi lolipop, apalagi tentang maharnya. Karena membahas hal seperti itu akan sangat rumit dan menyusahkan.
Seperti halnya perasaan obsesif dan posesif yang melanggar batasan takdir, rumit dan menyusahkan. Terbebaskan dari rasa seperti itu adalah merdeka.

Kamis, 15 Agustus 2013

Romanpat

Ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara menjadi romantis dan psikopat. Saking tipisnya, sampai banyak orang yang berusaha untuk romantis, justru menjadi psikopat untuk orang lain.

Mengirimkan sms apa kabar, sudah makan, sudah minum, sudah BAB, sudah BAK, dan sudah tidur pada orang yang disukai, mungkin itu terkesan romantis. Tapi mendapatkan sms apa kabar, sudah makan, sudah minum, sudah BAB, sudah BAK, dan sudah tidur dari kekasih yang sudah diputuskan 3 bulan lalu karena kebrengsekan dan kebajingannya, dan jelas-jelas orang yang dikirimi kabar sudah menginstal aplikasi untuk memblok nomor ponsel sang mantan, itu psikopat.

Romantis itu kalau orang yang Anda sukai mengetahui setiap detail tentang kehidupan yang telah Anda jalani, entah tanggal lahir, jadwal cabut gigi, jam masuk kantor, atau jadwal ke kebun binatang, namun jika orang yang membuatmu jengkel tiap detik yang melakukan hal tersebut, itu psikopat.

Mem-follow orang yang Anda sukai lewat twitter, fb, atau line agar dapat mengetahui kabarnya, itu romantis.
Mem-follow mantan, yang telah memblok Anda dari semua jenis media sosial, hanya untuk mengetahui kabarnya dan memastikan dia sudah punya pacar baru, itu psikopat.

Datang ke rumah orang yang disukai dengan bunga, mungkin itu romantis.
Melakukan hal yang sama pada pria atau wanita yang jelas-jelas sudah lapor polisi supaya dijauhkan dari Anda dan sengaja mengambil jalan memutar hanya untuk menghindari Anda, itu psikopat.

Intinya, jika seseorang sudah mengatakan tidak suka pada Anda sebanyak tiga kali satu hari dalam seminggu selama 3 bulan berturut-turut dan selalu berusaha menjauh dari Anda, lebih memilih mengambil jalan putar berjarak 3 kilometer daripada harus bertemu Anda, namun Anda justru tetap ngotot meminta agar orang itu mau menerima Anda, sampai Anda harus menangis di pagi hari dan teriak di malam hari, maka segeralah mencari seorang psikiater yang dapat menolong. Anda sedang sakit.

Asimetron

Beberapa orang mampu menghasilkan puluhan jutan rupiah hanya dari kegiatan mengetik, copy, paste, namun ada juga orang yang cuma bisa memperoleh beberapa ribu rupiah dari jenis kegiatan yang sama. Ada yang harus menghabiskan separuh hidupnya untuk dapat uang semilyar, ada juga yang hanya butuh beberapa menit untuk mendapatkan uang yang sama banyaknya.

Hidup di dunia asimetri harus terbiasa dengan hal-hal macam itu. Tidak perlu mengumpat.

Jumat, 09 Agustus 2013

Silver Lining to Arms

Salah satu bagian yang menarik dari film Silver Linings Playbook adalah ketika Pat melempar buku Farewell to Arms karangan Hemingway, keluar dari jendela, lalu mengoceh pada orang tuanya tentang betapa buruknya novel Hemingway yang berakhir tragis. Mengapa tokoh Hemingway dalam novel tersebut tidak bisa hidup bersama wanita yang dicintainya? Mengapa harus membuat novel yang berakhir tragis? Hidup ini sudah berat, terlalu berat. Tidak bisakah pengarangnya berpikir lebih positif?

Saya selalu tertawa tiap melihat ulang adegan tersebut.
Sepertinya sulit untuk meminta Hemingway berpikir positif. Coba jelaskan bagaimana hal positif dapat timbul dari orang yang dua kali ikut perang kemudian tiga kali bercerai dan empat kali menikah lalu mengalami kecelakaan pesawat sebanyak dua kali berturut-turut? Tak terbayangkan, betapa banyak kepedihan yang telah dialami Hemingway. Konon, karena terlalu banyaknya kepedihan, beliau sampai harus mengakhiri hidupnya sendiri.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk menjalani hidup. Postif, negatif, terserahlah. Yang penting, jangan mengganggu dan menyakiti orang lain.

Life as you please

Berusaha menjadi orang yang baik, tidak menyakiti manusia lain, dan menjalani hidup secara damai. Saya tidak meminta banyak dari kehidupan ini. Saya tidak meminta banyak. Hanya itu. Cukup itu.

Maaf-maafan

Apakah mungkin semua dosa dapat terhapuskan hanya dengan sebuah kata maaf? Entahlah, saya hanya mencoba untuk mempercayainya.

Kamis, 08 Agustus 2013

Khutbah

Tiap tahun mereka diperdengarkan. Meskipun temanya selalu tentang kembali pada keadaan fitri, sulit untuk mengingat apalagi mengaplikasikannya. Yang paling kuingat dari mereka hanyalah salam pembuka dan salam penutupnya. 

Khutbah Idul Fitri di pekarangan Masjid Ali Hizam

Rabu, 07 Agustus 2013

Neewbiie

Got new friends. I call them Streety and Moses.
I hope they'll never cheat like human.
It'll break my heart if they do that.

PSP E1004 IW a.k.a PSP Street
Oppo R821 a.k.a Muse

Fasting H-1

ⓚⓞⓜⓤⓝⓘⓣⓐⓢ ⓑⓐⓝⓖ ⓣⓗⓞⓨⓘⓑ
Lagi-lagi menjadi penjaga pondokan saat lebaran. Berkumpul bersama orang-orang yang senasib. Menghalau penjarah pondokan. Kemarin, ada lagi satu pondokan yang terbobol. Pondokan wanita yang semua penghuninya sedang mudik. Empat kamar dijebol, tapi hanya 2 kamar yang barangnya raib, sisa kamar lainnya aman karena pencuri lebih dahulu kabur setelah mendengar keributan dari orang-orang yang teriak maling. 
Sebagai pelajaran, saat mudik, simpan barang berharga di deposit penitipan barang berharga, sayangnya jasa seperti itu belum ada di Makassar, dan jika ingin menggrebek pencuri, panggil orang sebanyak-banyaknya, lalu sebisa mungkin jangan bersuara agar pencurinya tidak sadar saat akan digrebek

Buka puasa H-1 Lebaran di Masjid Ali Hizam

Ready Steady Swap

ⓑⓔⓡⓢⓘⓗ - ⓑⓔⓡⓢⓘⓗ ⓢⓔⓑⓔⓛⓤⓜ ⓛⓔⓑⓐⓡⓐⓝ. 

Someone to Blame

Saat kembali ke pondokan, yang menyambut hanya Ical, Hendrik, Fafi, Haris, Dani, Kak Aris dan Sudar. Satu hari kemudian, Ical, Hendrik dan Sudar ikut tren mudik.

Lima orang yang tersisa di pondokan sebenarnya berniat juga pulang ke kampung halaman. Tapi kami semua punya pemikiran yang sama, pulang kampung bisa dilakukan kapan pun, tidak harus lebaran. Pulang kampung hanya untuk shalat ied lalu ke rumah tetangga, ayolah, kenapa harus menunggu lebaran untuk melakukan hal tersebut?
Lagi pula pertarungan di medan mudik sudah terlalu ekstrim untuk orang-orang seusia kami. Berhimpit-himpitan di kapal laut, terombang-ambing di laut, rasa tidak aman, kepenatan dan frustasi, semua ketidaknyamanan itu, cukup dialami di masa lalu saat darah muda masih mengalir. Saya sudah terlalu tua untuk merasakan penderitaan seperti itu. Bumi ini terlalu tua untuk menyaksikan mahluk sepertiku menderita.

Penderitaan adalah hal yang nyata. Bertahun-tahun aku mencoba menghindarinya, tapi tetap saja dia datang dan menggodaku. Siapa yang harus disalahkan atas kemalangan itu? Pencipta penderitaan? Ini seperti hendak menyalahkan Hemingway yang telah menulis akhir novel yang tragis. Kenapa tidak menyalahkan saja orang yang membacanya? Kenapa harus ada yang disalahkan? Karena begitulah dunia bekerja. Tuhan, di akhir zaman, akan mencari-cari kesalahan manusia. Dia mencari sesuatu untuk disalahkan. Apa salah kalau kita, manusia, mencari sesuatu untuk disalahkan?

Minggu, 04 Agustus 2013

Ram Ah

Beberapa orang tercipta untuk menjadi ramah. Yang lainnya terlahir untuk jadi nemesisnya. Saya masuk kategori kedua. Biarpun sudah diajarkan sejak kecil hingga sekarang bahwa bersikap ramah adalah hal yang baik, tetap saja saya sulit menerima doktrin itu. Bagiku, kegiatan ramah tamah adalah salah satu jenis penjajahan atas kemerdekaan berekspresi. Ramah tamah itu terasa palsu. Orang sepertiku sulit menjalani drama macam itu tiap hari. Terlalu melelahkan. Menghabiskan banyak energi. Apalagi kalau harus berhadapan dengan orang-orang yang menjengkelkan, dan saya dituntut untuk tetap bersikap ramah. Capek.
Semakin diberikan keramahan, semakin menjadi-jadi pula gayanya.

Di dunia ini, ada beberapa manusia yang tidak layak mendapatkan keramahan. Jika bertemu mereka, sekalian tendang saja mereka lalu injak-injak. Bagaimana bisa tahu mereka layak atau tidak mendapatkan keramahan? Kamu akan tahu sendiri saat berurusan dengan mereka. Sama seperti menemukan pasangan hidup, hati dapat membedakan wanita pengkhianat dan wanita setia. Sulit untuk menjelaskan mekanismenya, tapi hati dapat menyadarinya sendiri ketika bertemu.

Jumat, 02 Agustus 2013

Xanbrest

Hidup ini dipenuhi oleh banyak peristiwa yang tak terkendali, yang dapat membuat frustasi ketika dipikirkan. Jadi biarkan saja mereka tak terkendali selama hidupku baik-baik saja.

Saya tak mungkin asal menjitak anak-anak yang berlari-lari dan bakar petasan dalam masjid ketika orang-orang sedang shalat, saya tak mungkin menemukan obat yang dapat menyembuhkan AIDS atau menghilangkan kelaparan di Afrika biarpun saya sangat menginginkannya. Saya juga tak mungkin mendamaikan Israel dan Palestina, atau Mesir atau Afganistan atau Irak atau menghentikan kekasih yang selingkuh atau menghidupkan kembali Einstein atau mencegah pemboman Hiroshima-Nagasaki. Semua yang tak dapat dikendalikan, jangan biarkan itu merusakmu.

Spesial Charger

Chargerku hilang. Tapi kehilangan itu tak membuat langit gelap dan awan mendung. Tak ada juga kilat yang menyambar-nyambar. Kehidupan nyata memang hambar. Tanpa drama dan spesial efek.
Malas cari.
Beli baru saja.

Poemanti

Saya bukan peminat puisi. Asli. Informasi yang tidak penting. But who cares. Ini kali kedua saya menulis tentang ketidaksukaanku pada puisi. Harap jangan tersinggung buat yang cinta puisi. Satu orang hater tidak akan meruntuhkan langit atau menggemparkan dunia perpuisian. Bahkan kalau SBY, Obama, dan Sekjen PBB bersatu jadi hater puisi, itu tak akan mengubah apapun, paling banter mereka hanya akan melakukan pelarangan pelajaran puisi di sekolah-sekolah, pembredelan dan pembakaran buku puisi, dan hal-hal semacamnya. Dunia puisi yang punya penggemar di seluruh penjuru bumi, tidak perlu khawatir. Life goes on.

Tiap dengar atau baca puisi, saya selalu membutuhkan asetaminofen yang dosisnya dua kali lebih besar dari yang kuperlukan saat membaca tulisanku sendiri. Karena itu, dari pada sakit kepala, saya lebih suka menjauh dari puisi atau tulisanku sendiri setelah itu terposting. Pernah saya mencoba membaca ulang tulisan-tulisanku yang dulu, kesan pertama yang muncul, "tulisan apa ini? Kenapa inkomprehensif sekali? Pasti penulisnya tidak berasal dari planet ini." Padahal itu saya yang menulisnya sendiri. Bagaimana dengan kesanku saat membaca puisi? Pastinya lebih parah dari membaca tulisan sendiri.

Kamis, 01 Agustus 2013

Little By Little then Monster By Monster

Bawang ajaib. Harganya dua ribu rupiah. Sekotak isinya lima puluh butir. Tidak perlu api. Cukup dibanting, butiran mesiu yang ada dalam pembungkus kertas tipis terpicu, lalu duarr...
Mainan ini sangat populer di Sidrap. Penjual petasan sampai harus memproduksinya berkali-kali dalam sehari karena seringnya terborong oleh para teroris kecil. Para teroris itu sering sekali datang ke masjid saat Isya dan Tarawih. Bukan untuk shalat tapi saling pamer, siapa yang punya petasan paling keren. Waktu masih kecil, apa saya juga punya kecenderungan menjadi teroris seperti mereka, ya? Lupa.

Dalam menghadapi para teroris kecil seperti mereka, saya harus mengalokasikan banyak cadangan maklum. Jadi tiap kali mereka bikin ulah, saya cukup bilang, maklum saja mereka masih kecil (masih kecil cuma meledakkan petasan di sekitar masjid, kalau sudah besar entah apa yang mau diledakkan), maklum saja mereka masih SD (masih SD saja sudah ahli petasan, kalau tamat kuliah nanti mungkin mainannya bom hidrogen), maklum saja mereka sedang dalam masa pertumbuhan (tumbuh menjadi apa? Menjadi monster?)

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut