Minggu, 09 November 2014

ASUS, Acer, Geng Motor, Hujan

ASUS X451C adalah produk gagal, menurutku. Sangat tidak cocok untuk tipikal orang yang suka mengetik. Touch-pad terlalu lebar, sehingga seringkali terjadi typing error ketika mengetik akibat pergeseran kursor ke arah lain saat touch-pad tidak sengaja tersentuh oleh pangkal lengan yang bertumpu di laptop. Ukuran touch-pad sekitar 10 cm bukanlah ukuran yang ideal, apalagi ditambah oleh peletakkan touchpad yang jaraknya hanya 9,5 cm dari sisi kiri laptop, seharusnya diletakkan sekitar 12 cm dari sisi kiri laptop agar tidak mudah tersentuh oleh pangkal lengan.

Oke, sekian intermezzo mengenai produk ASUS yang menurut saya hanyalah produk gagal di luar ketiadaan bluetooth dan durasi baterei yang hanya 2 jam setengah. Jika dibandingkan dengan Acer Travelmate yang sudah kupakai selama 7 tahun lebih, produk ASUS X451C masuk kategori sampah. Hanya saja, sampah tersebut berharga 3,5 juta, tak akan ada orang waras yang tega membuang sampah senilai itu hanya karena kegagalan desain kecuali dia orang kaya berpenghasilan seharga sebuah Ferrari dalam sebulan. Saya berharap dapat masuk dalam kategori orang macam itu, tapi sayang perusahaanku bukanlah klub Real Madrid.

Semalam geng motor menyerang area pondokan. Saat mereka menyerang, saya sedang tidur. Lalu dari mana saya tahu kalau mereka menyerang?
Jam 3 subuh, pintu kamarku diketuk. Dalam kondisi masih mengantuk, saya enggan membuka pintu. Saya berharap dengan membiarkannya, mereka akan langsung pergi. Jam 3 subuh bertamu, apa mereka tidak punya waktu lain untuk berkunjung? Apakah warga negara ini tidak mengenal privasi, begitu yang saya teriakan dalam pikiranku yang terjebak di ragaku yang masih mau tidur. Tapi pintu terus-menerus diketuk sehingga saya berkesimpulan orang-orang ini memang sedang membutuhkan sesuatu tapi mereka ingin dengan cara yang sopan. Meskipun mengetuk pintu kos jam tiga subuh tidak bisa dikatakan terlalu "sopan", setidaknya mereka tidak sampai menendang pintuku yang hanya diberi penahan sebuah paku kecil ukuran 1 inchi. Jadi pengetukan jam tiga subuh masih bisa kutoleransi.

Dalam kegelapan kamar yang pengap, saya mencari-cari bajuku. Tidak mungkin saya menemui para pengetuk itu dalam keadaan telanjang dada. Siapa tahu saja yang datang mengetuk adalah Dian Sastro yang sudah bosan menunggu satu purnama hanya untuk seorang Rangga. Tapi harapan itu buyar karena sayup-sayup di balik pintu, terdengar suara pria yang terkesan mendesak, "Syukri...Syukri...tolong buka pintu, Si X kena busur!!!"
Sambil memperbaiki bajuku yang terbalik dipakai, dalam hati ku-berseru, "WHAAAAT? Busur? Are you kidding me? Kenapa ke kamarku kalau kena busur? Saya kan bukan dokter."
Saat membuka pintu, saya baru ingat, bulan Januari 2013 saya lulus dari Fakultas Kedokteran. Itu berarti saya seorang dokter. Tapi mana ada peralatan emergensi dalam kamarku.
Begitu pintu terbuka, ada tiga orang yang kukenal sebagai tetangga pondokan langsung menyerbu masuk. Saya hanya bisa bertanya, "Ada apa ini?"
Si Y dan Si Z dengan hampir bersamaan menjelaskan, Si X kena busur tadi waktu geng motor menyerang. Busurnya kena di bokong.

Saya mengarahkan pandangan pada Si X yang tampak meringis kesakitan, lalu berkata, "coba saya lihat."
Dengan malu-malu, Si X menurunkan celananya dan memperlihatkan sebuah luka yang terlihat masih baru karena darah segar tampak masih merembes. Lalu dia juga memperlihatkan busur yang sempat menancap di bokongnya. Bentuk busurnya ajaib, bergerigi dan banyak lekukannya. Pembuatnya seperti sudah berniat memang membunuh saat membuatnya lalu jangan lupakan karat dan kemungkinan adanya kuman tetanus yang bersemayam di busur tersebut.

Saya pun menjelaskan bahwa di kamar kosku, tidak ada yang namanya alat-alat medis. Karena di luar rumah sakit dan klinik, saya hanyalah warga sipil tanpa profesi. Dan mereka pun akhirnya bisa mengerti, hanya saja mereka tetap ngotot mau mendapat penanganan medis tanpa harus ke rumah sakit, jadinya, ya sudah lah... Yang penting sudah dijelaskan.

Skip-skip tindakan medis yang dilakukan dalam keterbatasan sehingga hanya dilakukan prosedur pembersihan luka dengan air mengalir dan sabun antiseptik kemudian disikat selama 5-10 menit untuk mengeluarkan semua sisa-sisa karat busur yang mungkin masih tinggal lalu mengoleskan betadine, dan berhubung Si X tidak mau dibawa ke UGD karena dia belum punya kartu asuransi berjenis Jamkesmas, Askes, kartu BPJS apalagi kartu Indonesia sehat maka saya memberikan saja resep generik untuk mengatasi infeksi dan peradangan yang dapat timbul pada luka.

Setelah semua prosedur medis tidak standar di atas, mereka pun menceritakan kronologis penyerangan geng motor. Kata mereka, sempat ribut sekali di depan pondokan saat warga menyangka bahwa Si X adalah anggota geng motor yang menyerang. Padahal sebenrnya Si X hanya lewat mau menonton geng motor yang lagi menyerang tapi malah warga pondokan salah persepsi. Si X pun berlari dan dia malah dikejar lalu nyaris dikeroyok warga. Di tengah pengejaran itulah Si X terkena busur. Untung saja ada warga yang mengenali Si X sehingga dia tidak jadi dikeroyok dan dibunuh.
Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian tersebut adalah jangan pernah menonton geng motor yang lagi menyerang karena rasa ingin tahu dapat membunuhmu dan yang kedua, rajin-rajinlah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar sehingga warga tidak bakal menyangkamu sebagai anggota geng motor.

 Terakhir, hari ini Tamalanrea hujan. Semoga tidak banjir.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...