Kamis, 13 November 2014

Good night, Interstellar

Do not go gentle into that good night


Dylan Thomas, 1914 - 1953
 

Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Good men, the last wave by, crying how bright
Their frail deeds might have danced in a green bay,
Rage, rage against the dying of the light.

Wild men who caught and sang the sun in flight,
And learn, too late, they grieved it on its way,
Do not go gentle into that good night.

Grave men, near death, who see with blinding sight
Blind eyes could blaze like meteors and be gay,
Rage, rage against the dying of the light.

And you, my father, there on the sad height,
Curse, bless, me now with your fierce tears, I pray.
Do not go gentle into that good night.
Rage, rage against the dying of the light
.

Saat mendengarkan Michael Caine mendeklamasikan puisi itu di film Interstellar, saya terpukau. Tak pernah kubayangkan bahwa puisi dapat begitu menggugah perasaan. Sejak dulu, puisi tak pernah menjadi favoritku, saya senantiasa berpikir, mengapa ada orang yang suka puisi, padahal itu hanyalah karya sastra yang terdiri dari beberapa diksi yang sulit dimengerti.

Tapi saat menonton Interstellar, saya mengerti. Perasaan suka pada puisi adalah hal yang sulit terjelaskan, mungkin tidak ada alasan yang dapat menjabarkannya. Hanya hati yang mampu menafsirkannya.

Mungkin saja, puisi tersebut jadi indah karena momen dibacakannya sangat tepat, bersamaan dengan meluncurnya roket Endurance, yang merupakan harapan terakhir umat manusia untuk melawan kepunahan. Apalagi saat puisi tersebut mencapai bait "rage, rage against the dying light" lalu di layar perak tampak citra bumi yang berdampingan dengan Endurance dengan diiringi oleh orkestra Hans Zimmer yang terdengar memilukan. Hanya satu kata, pas. Mata saya terasa berair saat mencapai momen itu. Entah dari mana Christopher Nolan mendapatkan inspirasi untuk menampilkan puisi tersebut dalam film distopian ini, namun itu keputusan yang sangat tepat dan boleh dikatakan romantis.

Puisi karangan Dylan Thomas ini merupakan salah satu karya sastra yang paling populer di Inggris. Puisi ini awalnya dibuat Dylan untuk menghormati ayahnya yang sedang sekarat. Sebenarnya Dylan tidak mencantumkan judul untuk puisi ini, namun saat dipublikasikan, penerbit memilih menggunakan bait awal puisi sebagai judulnya.

Puisi yang dibacakan dalam sebuah film telah menjadi budaya pop di seluruh dunia. Di Indonesia, salah satu yang populer adalah puisi yang dibacakan oleh Dian Sastro di film Ada Apa Dengan Cinta.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...