Kamis, 27 November 2014

Puiasio

Puisi memiliki makna berbeda ketika dibaca pada waktu dan momen yang bergantian. Seorang teman pernah begitu mencintai sebuah puisi, nyaris tiap hari kalau tidak bisa dibilang tiap saat, puisi itu diulang, dikutip, dan dihayati. Seolah puisi itu telah menjadi nafasnya.
Namun semua itu berubah ketika suatu peristiwa terjadi, anggap saja begitu, karena ketika negara api menyerang sudah jadi milik Avatar. Tak perlu disebutkan peristiwa apa itu. Yang jelas, hal itu telah merombak jati diri dan meremukan hatinya. Hingga tak ingin lagi dia mendengar puisi walau secuil, padahal itu bukan mirasantika-nya Bang Haji Rhoma.
Jika dulu haru biru menguasai dirinya saat mendengar puisi, kini hanya muntahan dan makian yang terngiang. Dunia telah mengubah dirinya dan dia menyadari itu. Lalu mengapa dia tak ingin kembali seperti dulu?
Jawabannya sederhana, mungkin dia lelah.


Shared from Google Keep

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...