Senin, 29 Desember 2014

1Q84 part 1

Ini buku yang tebal, secara virtual elektronik saja, sudah mencapai 4008 halaman, entah berapa halaman versi hardcopy-nya. Konon, semestinya buku ini terbagi jadi 3 volume, sebuah trilogi, namun demi meraih lebih banyak pembaca di luar Jepang, buku ini dipadatkan menjadi 1 volume. Sudah ada versi Indonesianya, tapi yang saya miliki hanyalah versi elektronik berbahasa Inggris. Progresku dalam membaca buku ini seperti siput di tanah yang kering.

Sebetulnya saya tidak kenal siapa Haruki Murakami. Saya tidak pernah mempedulikan eksistensinya. Beberapa kali saya melewati pajangan buku Kafka on The Shore di toko buku Papirus tanpa pernah mau menyempatkan membacanya meskipun itu hanya sinopsisnya. Pertanyaan yang terlintas di kepalaku saat melihat cover buku itu adalah apa yang dilakukan Kafka di pantai? Mau memancing atau berenang? Mengapa harus mendompleng penulis asal Balkan tersebut? Mungkinkah Murakami tidak percaya pada kemampuannya sendiri? Suatu pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak pernah terlintas. Padahal saat itu ada diskon 20-50% di Papirus, dan bukannya membeli Kafka on the Shore, saya justru membeli buku tentang sosialisme yang setelah kubaca, ternyata sudah tidak relevan dengan paradigma masa kini. Entah di mana buku itu sekarang.

Sebelum membaca 1Q84, pertama-tama buanglah semua pretensi moral. Karena tokoh-tokoh yang digambarkan pada novel ini tidak terikat pada nilai-nilai moralitas. Jika diriku yang 7 tahun lalu membaca buku ini, baru chapter kedua saja, pasti sudah kuhentikan bacaanku. Jika terbit di zaman inkuisisi abad pertengahan, buku ini mungkin bakal masuk dalam daftar terlarang karena dianggap melecehkan moralitas. Baru bab kedua saja, kita sudah disajikan kisah perselingkuhan yang disaksikan oleh Tengo, karakter utama novel ini, ketika dia berusia 1,5 tahun. Can you believe that? An organized memory in a child under 4 years? Lalu ada juga kisah hubungan Tengo dengan istri orang. Dia memilih berhubungan dengan istri orang agar tak perlu ada ikatan. Tiap minggu, istri orang datang ke apartemen Tengo hanya untuk bertukar cairan, tanpa mau menuntut apapun dari Tengo. Jadi itu hubungan yang murni sebatas pada pemenuhan hasrat biologis. Lalu di chapter berikutnya Murakami menyajikan kisah lesbian Aomame, tokoh utama wanita pada novel ini, dengan teman sekolahnya yang bermula dari rasa penasaran.

Sekali lagi, bagi yang menjunjung nilai-nilai moral dan tidak mau menodai keyakinannya, jangan pernah baca buku ini. Tapi bagi orang yang berjiwa libertarian, ini buku yang berpotensi untuk menjadi sesuatu yang menarik.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...