Kamis, 25 Desember 2014

Neutrophil Movement

Introduction

Neutrophil atau neutrofil adalah salah jenis sel yang berasal dari keluarga sel darah putih (leukosit) yang bertugas untuk melawan infeksi akut. Leukosit sendiri merupakan sebuah klan sel tubuh yang punya banyak anggota, ada yang namanya makrofag, eosinofil, monosit, limfosit, dan juga bintang dalam artikel ini, neutrofil. Leukosit itu ibarat pasukan ninja atau Kopasus bagi tubuh manusia. Mereka bergerak senyap, cepat, dan akurat saat menghabisi penyusup asing di dalam tubuh manusia. Meskipun kadang pada beberapa kondisi, mereka tak akurat dan justru menyerang teman sendiri atau yang disebut juga sebagai autoimmune, seperti yang dapat dilihat pada penyakit Lupus.

Para ilmuwan senantiasa bertanya, bagaimana cara neutrofil bergerak menuju jaringan tubuh yang mengalami infeksi? Lewat pembuluh darah, itu sudah pasti. Namun jika infeksinya berada di luar pembuluh darah, bagaimana neutrofil mencapai lokasi tersebut? Apalagi kalau di daerah itu padat terisi oleh sel-sel tubuh lainnya, bagaimana cara neutrofil melewati barikade itu untuk mengejar infeksi?

Mempelajari pergerakan neutrofil mungkin terdengar sepele, sia-sia, dan boros, bayangkan berapa sumber daya yang harus terbuang untuk menghidupkan mikroskop elektron, membayar, reagen kimia mahal yang digunakan untuk meneliti benda kecil yang ukurannya kurang . Karena neutrofil bukanlah Ferrari yang dapat membawamu dengan gaya saat keliling kota, bukan pula beras yang dapat mengenyangkanmu. Dia hanyalah sebuah sel yang bergerak ke sana kemari untuk menghabisi bakteri, jamur, parasit, dan virus yang secara semena-mena diekspor manusia lewat lubang mulut, lubang hidung, dan lubang-lubang lainnya. Jadi apa gunanya meneliti pergerakan neutrofil, yang bahkan manusia sendiri pun tak selalu menyadari keberadaannya (kecuali manusia itu pernah belajar biologi dan tak tidur saat pelajaran)?

Ghosts of Humanity

Sejak zaman prasejarah, infeksi telah menjadi salah satu momok yang paling menakutkan bagi umat manusia, selain serangan binatang buas, kelaparan, dan peperangan. Manusia berjuang mati-matian untuk menghalau hantu-hantu tersebut agar tidak lagi menimbulkan korban jiwa. Sebuah pertaruhan untuk bertahan hidup namun mengandung banyak implikasi.

Animal

Serangan binatang buas saat ini sudah berkurang drastis jika dibandingkan ribuan tahun yang lalu, "terimakasih" pada pembabatan hutan dan perburuan liar yang telah merusak banyak ekosistem dan memunahkan serta mengurangi populasi spesies buas seperti harimau Jawa, harimau Sumatera, harimau Bali, beruang, anoa, dan kawan-kawannya.

Hunger

Bagaimana dengan kelaparan? Dulu Malthus, pernah bersabda dengan kalimat matematis namun jika disederhanakan, bunyinya kira-kira seperti ini, pertambahan jumlah penduduk akan melebihi kapasitas jumlah pangan yang dihasilkan. Sehingga Malthus meramalkan bencana kelaparan akan melanda seluruh dunia. Ramalan itu dibuat lebih dari seabad yang lalu dan hingga saat ini kelaparan belum menyapu bersih umat manusia, kalaupun terjadi kelaparan, itu hanya dirasakan oleh beberapa negara di Afrika ketika di belahan bumi lain, orang-orang Jakarta dan Makassar justru menderita obesitas karena kelebihan makan. Wilayah-wilayah yang gagal beradaptasi di sektor agrikultural terancam merasakan kelaparan di masa depan. Saat ini tanah pertanian Indonesia masih mampu mengkompensasi mulut-mulut rakyatnya yang jumlahnya sudah nyaris mendekati angka setengah milyar jiwa, tapi bagaimana dengan beberapa tahun kemudian? Entahlah..
Mungkin akan tiba masanya ketika uang tak akan ada harganya lagi dan orang-orang rela melakukan apapaun demi semangkuk bubur. Tapi untuk sekarang, anggap saja masalah kelaparan sudah teratasi oleh revolusi hijau dan revolusi biru.

War

Perang. Manusia tak dapat dilepaskan dari entitas yang satu ini. Jika ditilik dari segi biologi, perang adalah enzim yang berfungsi untuk mempercepat reaksi biologis. Dari sisi kimia, perang adalah katalisator yang fungsinya mengakselerasi reaksi kimiawi, tanpa mengubah jati dirinya. Jadi katalisator akan tetap menjadi katalisator baik sebelum maupun sesudah reaksi, sedangkan zat-zat yang bereaksi kehilangan makna sejatinya begitu sudah bereaksi. Perang dapat mengubah sejarah manusia namun kekejaman perang tak kan pernah berganti meskipun ribuan tahun telah berlalu dan jutaan nyawa telah melayang. Perang Napoleon versus Inggris sama kejamnya dengan perang antar suku di Papua atau antar kampung di Makassar, meskipun skala dan peralatannya berbeda. Di perang-perang itu, kekejaman dan keberingasan manusia tak pernah berubah, apapun alasan yang melatarbelakangi perang tersebut. Motif agama, Tuhan, ekonomi, seks, apapun itu, saat sudah masuk ke ranah perang, tak akan mampu menghapuskan kebengisan perang.

Dua perang dunia telah mengubah banyak hal. Peta dunia, teknologi, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, semuanya berubah drastis. Semua negara yang waras, berlomba agar tidak menjadi pecundang perang seperti Jerman, Jepang, Italia, dan Turki yang nyaris semua wilayahnya diinjak oleh tentara sekutu. Mereka melakukan apa saja agar selalu menjadi yang terdepan. Berkat kegilaan itu, kita dapat mengecap banyak kemewahan dunia. Mulai dari antibiotik hingga internet, semua lahir dan dibesarkan oleh euforia perang. Saat orang-orang menyadari bahwa perdamaian itu indah, perang mulai ditinggalkan. Didirikanlah banyak badan dunia seperti PBB atau UN untuk mencegah perang. Meskipun begitu, perang tetap bergejolak di beberapa tempat, seperti Irak, Suriah, Afganistan, dan Somalia. Hanya soal waktu dan kewarasan pemimpin yang menentukan perlu tidaknya perang besar kembali melanda seluruh dunia. Namun anggap saja perang sudah teratasi, karena kedamaian di muka bumi selama 69 tahun nyaris jarang terjadi. Suatu keajaiban jika kedamaian seperti ini dapat bertahan hingga 100 tahun.

Infection

Seandainya saja perang di zaman dahulu tidak pernah menggunakan metode pelontaran mayat yang sudah membusuk ke benteng musuh, maka perang biologis moderen tidak akan pernah dikenal. Seandainya saja Fleming membersihkan ruang lab-nya sebelum berlibur, kita tak akan pernah atau mungkin telat menemukan keajaiban dunia yang bernama antibiotik. Meskipun terlalu banyak seandainya, tak perlu dijelaskan sudah berapa banyak manusia yang selamat dari pes, sifilis, kolera, tifoid, tetanus, dan ribuan penyakit infeksi lainnya berkat antibiotik.

Hanya saja, antibiotik adalah pedang bermata dunia. Berkat zat tersebut, bakteri mulai berevolusi dan menjadi lebih resisten. Strain-strain bakteri baru bermunculan dan antibiotik tidak lagi berguna.

Karena itu para ilmuwan kembali melirik kemampuan self-healing manusia. Dan yang menjadi targetnya adalah neutrofil.


nb:
Kehilangan fokus saat menulis artikel ini karena dibiarkan mengendap selama beberapa hari. Endapannya pun justru rusak karena referensi yang minim, sehingga materinya cenderung superfisial. Namun jika referensi diperbanyak, fokus materi justru pecah. Beginner's dilemma.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...