Rabu, 03 Desember 2014

Perspektif

Begitu sederhananya kata ini, hingga sering digunakan dalam tulisan dan percakapan tanpa pernah dipertimbangkan maknanya secara mendalam.
Padahal kata inilah yang menjadi jurang pemisah dan pertikaian umat manusia sejak zaman Adam atau sejak manusia tercipta oleh reaksi kimiawi acak yang terjadi di bumi. Terserah mau percaya yang mana, creationism atau evolutionism, karena memperdebatkannya saja sudah bisa menimbulkan perang besar, yang jelasnya manusia punya sejarah yang panjang dengan pertikaian.

Setelah membaca buku City of Sin tentang suatu hari Jumat di Jerusalem ketika Jesus atau Isa hendak disalib (terserah mau percaya yang mana atau sekalian saja tidak percaya sama sekali pada semua kisah agama), saya dapat melihat secara jelas bahwa memahami perspektif orang lain adalah sebuah tantangan yang tidak semua manusia dapat mengatasinya. Menjadi hewan mungkin lebih mudah karena keberagaman perspektif di dunia fauna tidak pernah berakhir menjadi perang nuklir, sedangkan untuk manusia? Anything can happen hanya karena perbedaan perspektif.

Ajang pemilihan presiden yang mempertemukan Prabowo dan Djoko Widodo telah mempertegas betapa berbahayanya perbedaan perspektif. Kebanyakan orang yang kukenal dulu berubah total sejak peristiwa itu. Definisi teman menjadi kabur dari perspektifku. Kata orang, tak ada teman yang abadi dalam politik. Mereka mungkin perlu merevisinya karena sebetulnya pertemanan hanyalah suatu persekongkolan temporer yang perekatnya adalah persamaan dan kompromi. Tanpa kedua hal tersebut, tak pernah ada yang namanya teman.
Ambil saja contoh Sherlock Holmes dan Watson. Mereka sama-sama suka memberantas kejahatan, meskipun mungkin motif dan kebiasaan mereka sangat berbeda, namun semua perbedaan itu teratasi oleh kompromi.
Pemilihan presiden kemarin telah mencabut semua kompromi dari hati orang-orang yang kukenal, mungkin juga dari hatiku hingga semua tali pertemanan yang kuketahui di masa lalu tak pernah lagi sama.

Kehilangan beberapa teman, menciptakan sejumlah mantan teman, mungkin hanyalah salah satu fase untuk menuju kedewasaan. Agar kita dapat memahami bahwa berteman dengan semua orang tanpa membuat beberapa musuh adalah hal yang mustahil di muka bumi ini karena beberapa perspektif tak pernah dapat disatukan bahkan oleh superglue sekalipun.


Shared from Google Keep

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...