Minggu, 14 Desember 2014

Pupuk Pes untuk Humanisme

Pada tahun 1347, wabah pes menyerang Eropa dan menghabiskan sekitar sepertiga populasi benua hanya dalam waktu 3 tahun. Kombinasi antara perdagangan antara benua, rendahnya sanitasi, dan bobroknya edukasi, menjadi akselereator yang sangat sempurna untuk menyebarkan Yersinia Pestis, penyebab wabah tersebut. Untung saja, di zaman itu belum ada pesawat terbang sehingga wabah tidak sampai menyebar ke benua lain.

Pasien yang terserang penyakit ini akan mengalami demam, kelemahan, nyeri, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Apabila sudah sistemik, maka timbul bercak-bercak hitam di sekujur tubuh pasien. Karena bercak-bercak hitam itulah maka wabah pes disebut juga dengan Black Plague atau Black Death.

Di masa itu, ilmu pengetahuan belum semaju saat ini. Sehingga wabah yang terjadi dianggap sebagai kerjaan penyihir, kutukan Tuhan, dan juga karena udara yang buruk. Karena itu ritual-ritual penghapusan dosa secara massal serta penggunaan aroma wewangian untuk mencegah penyakit merupakan praktik yang wajar di zaman itu. Mereka tidak tahu bahwa niat baik tersebut justru menjadi salah satu pemicu cepatnya penyebaran bakteri pes. Kebodohan dan ketidaktahuan yang lebih banyak menimbulkan korban di masa itu.

Rakyat yang menyaksikan bahwa ritual keagamaan tidak dapat menyelamatkan mereka dari wabah pes mulai kehilangan kepercayaan pada agama apalagi ditambah dengan korupnya banyak rohaniwan. Begitu Black Plague mereda, fajar Renaissance menyingsing dan menumbuhkan bibit-bibit humanisme dan atheisme di seantero Eropa.


Shared from Google Keep

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...