Rabu, 31 Desember 2014

QZ8501

Sehari sebelum insiden Air Asia, saya menumpang pesawat dari Banjarmasin menuju Makassar. Sebelum berangkat, cuaca Banjarmasin terlihat baik-baik saja, meskipun sedikit mendung. Pesawat transit di Kota Baru dengan mulus. Namun begitu penerbangan hendak dilanjutkan ke Makassar, cuaca tiba-tiba berubah. Awan mendung terlihat di mana-mana. Beberapa kali getaran keras menghentak badan pesawat karena dihadang oleh cuaca buruk. Para penumpang riuh, sampai-sampai ada yang muntah. Lampu tanda pemasangan sabuk pengamanan dinyalakan hampir di sepanjang penerbangan menyusul pengumuman dari pramugari tentang penerbangan yang terganggu akibat cuaca buruk. Berbagai pikiran negatif datang silih berganti selama penerbangan tersebut. Skenario-skenario aneh berseliweran di otakku namun tak ada yang dapat kulakukan selain duduk, diam, dan berdoa agar pesawat yang kutumpangi tidak jatuh. Namun, teror yang saya rasakan saat pesawat menembus awan thunderstorm mungkin tidaklah sebanding dengan suasana mencekam yang dirasakan oleh awak dan penumpang pesawat Air Asia sebelum insiden.
Karena itu saya benar-benar menyayangkan orang yang mengolok-olok dan bercanda dengan insiden tersebut. Kita semua bisa berada pada posisi mereka, entah itu sebagai keluarga atau korbannya.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...