Kamis, 18 Desember 2014

Sticker

Stiker
Sulit menyelami isi pikiran orang lain, mungkin karena di kolam tempurung kepala orang lain kita bisa menemukan air atau hiu yang berbeda atau malah di sana tidak ada air sama sekali.
Salah satu yang sulit saya selami adalah kolam pikiran orang yang senang berburu stiker LINE. Tiap mau menyelaminya, saya selalu mental dan bahkan nyaris tenggelam. Entah saya yang aneh atau mereka yang aneh, sulit menentukannya karena untuk memastikannya kita perlu menyepakati dulu batasan standar aneh dan parameter untuk menilainya. Akankah kita memakai suara mayoritas untuk menilainya atau cukup berdasarkan persepsi sepihak saja? Kalau memakai persepsi sepihak, sudah pasti saya menganggap tidak ada yang aneh dengan kemalasan mendownload stiker LINE. Selain menghabiskan memori seluler dan kuota ketika mengunduh, saya menganggap komunikasi lewat stiker adalah topeng untuk menyembunyikan keengganan dalam bercakap-cakap secara maya. Dulu saya menggunakan stiker untuk menutupi kebosanan saat sedang chatting atau pertanda kalau saya sedang ingin cepat-cepat menyudahi percakapan tanpa harus mengatakan secara langsung, namun nampaknya teman-teman chatting sering menangkapnya di arah yang berbeda, bahwa stiker-stiker itu adalah tanda saya sedang antusias untuk terus melanjutkan percakapan. Oleh karena itu, setelah dipikir-pikir, daripada menggunakan kode-kode stiker, lebih baik semua hal diungkapkan langsung lewat kata yang eksplisit agar tak ada misinterpretasi. Jadi dari persepsi pribadi, saya sangat normal.
Namun apabila harus memakai suara mayoritas, sepertinya saya yang masuk kategori aneh. Sejak terakhir ku-install kembali, saya hanya punya stiker, itu pun default dari LINE, saya tetap tidak tertarik mendownload stiker lain meskipun LINE terus-menerus memproduksi stiker baru yang bahkan sekarang sudah ada edisi Dian Sastro-nya. Jika LINE makin aktif menciptakan stiker, itu mengindikasikan adanya peningkatan jumlah permintaan dari pengguna yang dalam arti lain saya resmi menjadi mahluk minoritas di jagad LINE.

Yang mengesalkan, BBM juga latah dan mulai memaksa penggunanya untuk memakai stiker. Di-update BBM terbaru untuk Android, fitur shortcut untuk emoticon diubah jadi shortcut default untuk stiker. Saya mencium aroma follower yang terlalu vulgar dalam aplikasi BBM. Meskipun tidak ada salahnya mengikuti jalan hidup orang yang sudah sukses, setidaknya tunjukkan jati dirimu. Jika sudah begini, apalagi bedanya LINE dan BBM? Sama-sama punya stiker, meskipun saat ini, kualitas stiker BBM masih kalah jika dibandingkan dengan LINE.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...