Rabu, 30 Juli 2014

Just Little Blabbering.

Tiap hari naik bis yang sama saat berangkat dan pulang kerja.
HLV 5197.
Karena tiap hari diantar, saya hampir menghafal semua lagu dangdut di playlist Pak Supir.

Lesson No. 1

Jangan pernah mencuci tas dengan menggunakan mesin cuci. Mesin itu hanya akan merusak dan merobeknya.
Dua tasku sudah cukup merasakan kegarangannya. Jangan sampai jatuh korban baru.

Selasa, 29 Juli 2014

No Money on My Mind

Recently, my ears is craving for
Sam Smith's voice. He is a new potential singer, has a great talent and his voice is adorable. All of his song is catchy, sometime a little bit naughty. But there is one song I like the most, Money on My Mind.

It's a song about a worker who should struggle against modern paradigm, money trap.

Lagu ini mungkin terdengar sederhana serta karakter pekerja dalam lagu tersebut terkesan membosankan dan seperti tidak berambisi, "when I go home, I tend to close the door. I never wanted more". Namun ada ledakan histeria dan pesan idealistik yang tergambar jelas pada intro dan reff lagu tersebut.

"When I signed my deal, I felt pressure. Don't wanna see the number."

Yes, I knew that feeling. The anxiety when sign the first deal. We almost forget to see the numbers. What we want to do just work, immediately. Numbers and money come last. 

Kegundahan saat menandatangani kontrak dan motivasi bekerja, bagi mereka yang belum pernah menjadi anggota kelas pekerja, mungkin sulit untuk memahami suasana batin dalam lagu ini. Namun ada ratusan ribu pekerja dan buruh di luar sana pernah merasakan dilema seperti itu, teralienasi dari pekerjaannya lalu masuk dalam money trap dan menjadi boneka. Motivasi mereka hanyalah mencari uang dan waktu luang.

Memang sulit lepas dari jebakan seperti itu namun yang tersulit adalah menjadi manusia seutuhnya yang dengan lantang dapat berkata, "I don't have money in my mind, I do it for love."

Senin, 28 Juli 2014

Fitri

Maaf atas segala kesalahan pengetikan, tata bahasa, dan diksi yang tertuang dalam blog ini dalam setahun terakhir maupun sejak awal pendiriannya.

Actually, I can control everything I've put in here. Censorship, editing, rewriting. But I choose to let everything that's been written, unchanged, except for articles those offend some groups or have scientific error and they want me to delete or edit it.

Tiap tulisan di blog ini memiliki nyawa yang terkait dengan sejarah hidup, emosi, dan refleksi yang tertangkup ketika mereka tercipta.
Mengubah mereka sama artinya dengan membunuhnya.

Karena itu, sekali lagi maaf atas segala kesalahan yang tertuang dalam blog ini.

Jika sudah sampai di titik di mana kita menyadari sudah banyak berbuat salah, seperti saat ini, biasanya kita selalu menggunakan rasionalisasi Christina Peri dalam lagunya, Human.

"But I'm only human"

Kita memang manusia.
Salah adalah bawaan genetis yang sudah diturunkan oleh Bapak kita, Adam, sejak terusir ke bumi.
Bagi kaum evolusionis, jangan salahkan kaum Neanderthal. Mereka mungkin hanyalah korban sejarah.

Selamat Idul Fitri.

Minggu, 27 Juli 2014

Novo

Mohon maaf lahir dan batin.

It's been a long time since the last post. Dunia di luar terlalu riuh dan saya terjebak di dalamnya. Saya pikir setelah lama ditinggalkan, Blogger akan berubah menjadi sesuatu yang lain. Tapi nyatanya itu hanyalah harapan kosong. Sepertinya Google mengabaikan Blogger. Sejak diakuisisi, tidak banyak perubahan berarti yang terlihat. Satu-satunya perubahan yang kuanggap signifikan hanyalah ketika Blogger terintegrasi ke Google Plus. Integrasi tersebut nampaknya dilakukan untuk membendung laju Facebook dan Twitter. Tapi upaya itu sia-sia. Integrasi Blogger ke G+ ternyata hanyalah formalitas belaka, tidak ada bedanya dengan integrasi Gmail ke Blogger.

Yang terparah dari itu semua, Google juga mengabaikan pengembangan aplikasi Blogger di android. Jika dibandingkan dengan aplikasi Tumblr dan Wordpress  aplikasi Blogger di android seperti tertinggal 10 tahun. Selain minim fitur, aplikasi tersebut juga tidak stabil dan sering crash. Entah apa yang dipikirkan Google.

Mungkin mereka lelah mengejar pesaingnya dalam bidang media sosial dan hanya fokus pada pengembangan produk lain. Jika memang tidak mampu diurus, lebih baik Blogger dijual saja ke developer yang ingin mengembangkannya. Miris rasanya melihat nasib Blogger yang seolah-olah terlupakan.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...