Kamis, 31 Desember 2015

Kamis, 31 Desember 2015: Lifelong Learning

Rasanya saya sedang dalam tahap membunuh kompetensi di sini. Sudah 7 bulan saya tidak update ilmu terbaru secara formal melalui seminar atau workshop. Saya sudah hampir lupa bagaimana caranya jadi dokter yang baik dan benar. Bahkan, saya sering bertanya pada diriku sendiri, "apakah saya ini betul-betul seorang dokter?". Memang sih, selama bertugas di pulau sangat terpencil ini, saya selalu dikunjungi sekitar 300 pasien dalam satu bulan, baik itu datangnya lewat poli umum, rawat inap, maupun kunjungan door-to-door, dan terkadang jumlah tersebut dapat meningkat hingga 400 pasien jika sedang peak season seperti saat pancaroba atau musim hujan. Hanya saja, mayoritas pasien yang berkunjung adalah para penderita ISPA, diare, dan gastritis akibat ketidakmampuan pasien dalam menjaga higienitas serta pola makan yang terlampau unik. Orang sini sangat suka makan ikan mentah yang dicampur dengan cabe, cuka, dan gula aren. Belum lagi fasilitas dan obat-obatan di fasilitas kesehata yang kutempati sangat terbatas. Epinephrine dan ISDN saja tidak ada. Entah bagaimana kalau nanti ada pasien syok anafilaktik atau angina pectoris datang ke sini. I don't want to imagine it.

Singkatnya, ilmuku dalam mendiagnosis dan tatalaksana terhadap penyakit lain betul-betul anjlok hingga menyentuh titik nadir atau malah sudah mati. Apalagi begitu sulit untuk menemukan buku-buku kedokteran di tempat terpencil seperti ini. Buku teka-teki silang saja sulit didapatkan. Ditambah lagi sinyal susah dan listrik tak ada. Beginilah nasib sebagai manusia yang hidup di perbatasan negara. Seminar dan workshop kedokteran lebih sering diadakan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, atau Medan yang artinya saya harus menempuh perjalanan jauh untuk ke sana dengan biaya transportasi dan akomodasi yang dapat melonjak kapanpun. Belum lagi biaya pendaftaran seminar seringkali gila-gilaan. Memang sih ilmu itu mahal tapi dengan kondisi spasial dan keuanganku yang seperti sekarang ini, rasanya sulit untuk mengikuti kegiatan seminar dan workshop di tempat yang jauh.
Masalah utamanya adalah dalam profesiku, memperbarui ilmu adalah sebuah kewajiban. Untuk memperpanjang izin profesi, harus ada bukti bahwa saya senantiasa melakukan pengembangan keilmua yang bernama SKP atau Satuan Kredit Profesi.

Sebenarnya mengejar ilmu adalah hal yang menyenangkan, saya sungguh menyukainya. Hanya saja, untuk melakukan hal tersebut ada sumber daya yang harus dikorbankan, ada faktor geografis dan fasilitas yang perlu dipertimbangkan. Akan menjadi hal yang bagus apabila ternyata sumber daya yang dikorbankan sepadan dengan hasil yang didapatkan. Namun terkadang dunia tidak bekerja dalam simetri seperti itu. Air susu tidak selalu dibalas dengan air susu karena itulah lahir ungkapan air susu dibalas dengan air tuba. Saya yakin ungkapan itu lahir dari kisah nyata.

Saya berharap dapat mempelajari berbagai ilmu dan keahlian baru bukan sebab tuntutan SKP namun karena saya benar-benar menyukainya.

We'll see.

Senin, 28 Desember 2015

Final Fantasy IX in Android

Saya harus menunggu 100 tahun untuk bisa memainkan Final Fantasy IX di Zenfone 2 setelah mendownload ratusan file rusak dan membaca ribuan tutorial palsu. Entah kenapa saya harus merasakan begitu banyak kegagalan hanya untuk mewujudkan cita-cita terbesarku ketika masih berusia 12 tahun. Padahal seharusnya meraih cita-cita bisa lebih mudah dari ini. Kadang saya merasa hidup ini aneh. Umurku memang belum terlalu tua hingga bisa membayar penantian selama seabad hanya saja dalam game, waktu bersifat relatif. Dilatasi dan kontraksinya sulit diprediksi kecuali oleh para pemainnya. Pengamat takkan pernah tahu bagaimana rasanya.

Minggu, 27 Desember 2015

Minggu, 27 Desember 2015: Movie

Sejak Natal kemarin, tak ada niat keluar ataupun jalan-jalan yang terbersit dalam pikiranku. Saya hanya ingin di kamar, tidur, nonton, internetan. Hal-hal yang tak mungkin kulakukan jika berada di Ndao.
Saya menonton semua film rilisan 2015 yang menurutku menarik dan tak pernah saya nonton sejak berada di daerah perbatasan. The Martian, Black Mass, Spectre, Pawn Sacrifice, dan The Walk. Saya berharap menemukan Star Wars untuk melihat seberapa parah plotnya namun hal itu belum dapat terwujud karena tak ada bioskop di sini. Tak ada apa-apa di sini kecuali listrik dan sinyal 3.75 G.

Saat menonton film-film tersebut, saya menemukan satu kesamaan pada semua tokoh utamanya, mereka semua menderita penyakit jiwa.
Whitey Bulger yang diperankan oleh Johnny Depp di film Black Mass jelas-jelas seorang psikopat dan sosiopat. Kejahatannya terlalu banyak, hobi melakukan kekerasan dan membunuh. Lalu Tobey Maguire yang tak lagi jadi Spiderman di Pawn Sacrifice juga memerankan Bobby Fischer, seorang juara dunia catur yang menunjukkan gejala psikosis. Black Mass dan Pawn Sacrifice adalah film yang berbasis kisah nyata, sama halnya dengan film The Walk. Meskipun sepertinya agak sulit untuk mengatakan bahwa Philipe Petit yang diperankan oleh Joseph Gordon Levitt sebagai karakter yang mengalami gangguan jiwa, seperti yang terlihat pada karakter Bond di film Spectre dan Mark Whitney di film The Martian namun saya tetap merasa kalau mereka bertiga mungkin memiliki gangguan jiwa laten.

Matt Damon yang melepas keliaran tokoh Bourne lalu menjadi Mark Whitney di The Martian, terpaksa ditinggal sendiri di Mars selama berbulan-bulan. Sungguh aneh jika dia tak mengalami gangguan jiwa di lingkungan seperti Mars yang tak berpenghuni dan hanya makan kentang selama berbulan-bulan. Begitu juga dengan Daniel Craig yang kembali berperan sebagai Bond di Spectre, terlalu luar biasa jika Bond tidak mengalami gangguan mental selama dia menjalankan perannya sebagai agen rahasia yang senantiasa diteror bahaya.

Jika harus memilih mana yang terbaik dari semua film di atas, sepertinya saya lebih suka Pawn Sacrifice. Meskipun saya memang tidak suka catur karena saya tak pernah bisa menemukan sisi menariknya olahraga ini (entah kenapa catur bisa masuk olahraga), saya tertarik melihat karakter Bobby Fischer yang flamboyan dan tak terduga.

Sabtu, 26 Desember 2015

Sabtu, 26 Desember 2015: Transporté

Akhirnya bisa libur juga. Libur yang sejati, tanpa ketukan di pintu saat pagi buta, namun yang terpenting adalah kebebasan mendapatkan sinyal internet yang bisa diakses tanpa mengenal dimensi ruang dan waktu.

Tapi kalau memikirkan lagi perjalanan yang harus ditempuh untuk kembali ke tanah purbakala itu... rasanya miris. Transportasi publik di negara ini masih parah. Terlalu parah untuk dideskripsikan. It's beyond of imagination. Saya berharap bisa punya kapal dan pesawat pribadi agar tak perlu lagi merasakan sesaknya berhimpitan di transportasi publik yang toiletnya rusak. Sayangnya, saya masih terlalu miskin untuk bisa membeli barang seperti itu. Inilah salah satu kekurangan menjadi orang yang tidak kaya, terkadang sulit untuk mencapai hal yang kita inginkan. Mungkin "terkadang" bukanlah kata yang tepat, karena sepertinya "sering" adalah yang cocok.
Tak perlu putus harapan, suatu saat nanti, transportasi yang nyaman akan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa melihat strata sosial. Namun, entah kapan itu dapat terwujud. Keep dreaming.

Kamis, 24 Desember 2015

Kamis, 24 Desember 2015: Post-norte

Awalnya, saya ingin membuat sebuah catatan akhir tahun untuk merangkum perjalanan hidupku selama 2015 tapi begitu mencapai empat paragraf saya langsung terserang kemalasan dan kelelahan akut yang tidak jelas kausanya tapi tetap kupaksa untuk meneruskan. Saat sedang menulis paragraf kelima, saya memutuskan untuk menghentikan catatan lalu menghapus semua yang sudah saya tulis.

Saya berpikir, apa gunanya membuat sebuah catatan akhir tahun yang tidak akan kubaca lagi nanti? Biasanya catatan akhir tahun ditulis untuk menjadi bahan introspeksi diri sekaligus sebagai sumber pembelajaran di masa depan. Masalahnya, introspeksi tak pernah ada dalam kamusku. Seringkali, saya justru melakukan kesalahan yang sama tiap tahunnya. Terpeleset di lantai yang licin, main PSP hingga lupa waktu, dan jarang olahraga hanyalah beberapa kesalahan yang senantiasa berulang dari tahun ke tahun sejak saya mengenal konsep waktu. Nyaris tak ada yang berubah.

Rabu, 16 Desember 2015

Rabu, 16 Desember 2015

Sejak berada di pulau ini, saya terjangkit kebiasaan buruk orang-orang di sini, yakni malas mengunci pintu kamar dan selalu membiarkan kunci motor tergantung di kendaraan. Pulau ini terlalu aman dan tentram sehingga saya tidak perlu melakukan hal-hal merepotkan seperti memutar kunci lalu menyembunyikannya di tempat yang aman. Seandainya semua wilayah Indonesia bisa aman seperti di Pulau Ndao. Waktu masih di Makassar dulu, pencurian dan perampokan terjadi hampir setiap hari. Bahkan kendaraan dan rumah yang sudah dikunci mati pun, masih bisa dicuri. Sungguh ironis, padahal hampir semua orang di Makassar dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya mengaku sebagai orang yang beragama tapi tingkat kejahatan di sana sungguh mengerikan. Saya jadi berpikir, mungkin Pulau Ndao tidak termasuk wilayah Indonesia.

Selasa, 15 Desember 2015

Mardi, 15 Décembre 2015: Précurseur

Entah kenapa saat berada dalam kamar mandi, begitu banyak ide yang tampak brilian bermunculan di kepala namun ketika keluar dari kamar mandi, semua ide itu lenyap tak bersisa atau terkadang retensi pada ide-ide itu masih terjaga namun tidak terlihat lagi sehebat saat berada di kamar mandi.

Dulu saya pernah berencana menulis sebuah kisah tentang kehidupan alien di galaksi Andromeda saat sedang mandi. Sudah ada gambaran kasar mengenai plot, karakter, dan jenis konfliknya yang akan tersaji di situ. Akan ada pertempuran, perjalanan waktu, dan kapal antariksa yang dapat menembus kecepatan cahaya dan black hole. Namun saat saya sudah siap menulisnya, ide itu jadi terlihat konyol. Mengapa saya harus menulis kisah tentang mahluk Andromeda yang saya sendiri belum pernah melihatnya? Selain itu saya juga sulit untuk memikirkan teori apa yang dapat menjelaskan sebuah pesawat yang dapat melebihi kecepatan cahaya dan lolos dari cengkeraman black hole. It makes no sense at all. Rasanya sangat sulit untuk membayangkan sebuah dunia yang memiliki teknologi dan ilmu pengetahuan begitu maju hingga bisa menegasi semua pencapaian ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Imajinasiku tidak bisa seliar itu. Q[pPada akhirnya, kisah pertempuran Andromeda hanya berakhir pada tataran ide saja. Seandainya, para penulis fiksi seperti Asimov dan Philip Kindred Dick punya masalah hidup seperti saya, dunia mungkin takkan pernah bisa membaca dan menonton kisah tentang Nightfall, Minority Report, ataupun Bladerunner.

Selasa, 15 Desember 2015: Morphed

Kombinasi sinar ultraviolet dan suhu di pulau ini telah mengubah warna rambutku menjadi kemerahan, menghitamkan kulitku, dan mengubah moodku. Bisa jadi faktor air dan stress juga berperan dalam evolusi pigmen dan mentalku tapi intinya adalah this island has taken it's toll on me although I've lived a sedentary life in here. Hidup santai tidak menjamin manusia dapat terbebas dari stress dan transformasi dismorfik pada tubuh. Entah apa jadinya diriku setelah masa pengabdianku berakhir nanti, tak dapat ku bayangkan. Yang pasti, itu tak mungkin bisa mendekati penampilan Brad Pitt ketika masih berusia 27 tahun.

Minggu, 13 Desember 2015

Dimanche, 13 Decembre 2015: Feu

"Every lawyer gets at least one case in his lifetime that affects him personally".

Atticus Finch memang hanya menyebut profesi pengacara di ungkapan tersebut tapi saya merasa kalau frasa ini dapat berlaku untuk semua jenis profesi, entah pedagang, guru, dokter, petani, karyawan, pencuri, atau malah pengangguran. Karena saya sendiri pernah mengalaminya, sebuah peristiwa yang mengubah paradigma dan cara berpikirku secara drastis. Tapi saya tak ingin membahasnya di sini karena pengalaman tersebut terlampau transendental dan pribadi untuk dibahas dalam blog ini. Biarpun sebenarnya status pribadi dan kerahasiaan tersebut tidak akan ada pengaruhnya jika ditulis di sini karena memang tak ada pengunjung lain di blog ini selain saya, namun tetap saja saya merasa ada sejumlah hal yang sebaiknya dibiarkan saja tersembunyi dan terbengkalai dalam otak, tidak perlu diungkapkan sama sekali.

Di masa sekarang mungkin sulit untuk menemukan sebuah peristiwa yang mengubah jalan kehidupan seorang manusia atau sebuah bangsa secara drastis. Malah, kawan saya mengatakan bahwa sejak dulu kala, memang tak pernah ada yang namanya revolusi semalam. Hal seperti itu hanya ada dalam novel dan film. Apa yang kita alami dan perubahan yang sedang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa-peristiwa yang telah lampau.

Senin, 07 Desember 2015

Senin, 7 Desember 2015: Tourment

Beberapa waktu yang lalu saat ke Baa, ibukota Kabupaten Rote Ndao, seorang kawan lama di SMP mengirimkan pesan elektronik. Tumben, pikirku. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang. Jarang sekali ada teman pra-kuliah yang masih ingat dengan saya karena, most of time, saya yang lupa sama mereka sehingga efek resiprokalnya, mereka juga melupakan saya. Mungkin saja teman masa SMP ini sedang mengalami anomali. Ya, anomali kadang menjadi latar belakang ketika kawan yang lama tak ada kabar, tiba-tiba menyapa. Terkadang anomali itu berbentuk tawaran MLM (tawaran untuk bisa mendapatkan banyak penghasilan hanya dengan merekrut banyak downline terdengar begitu menggiurkan. Apalagi ada beberapa teman yang sudah membuktikannya. Tapi untuk sementara, I'll pass), minta bantuan supaya bisa melobi petinggi agar bisa memasukkan kenalannya ke Fakultas Kedokteran (Seolah-olah saya ini orang ternama yang punya banyak link ke pejabat kampus. Padahal saya saja jarang ketemu dekan), terkadang dia datang dalam permintaan menjadi joki di SNMPTN (30 juta bayarannya tapi dengan resiko masuk penjara, yang pastinya wajib ditolak), atau malah berbentuk permohonan agar balik ke mantan (sayangnya, saya belum pernah mengalami ini. Hanya kisah pinjaman dari pihak lain). Tapi ternyata, teman lama ini tidak memiliki anomali-anomali tersebut. Sepertinya dia mengirimkan pesan karena pure curiosity. Setelah beberapa kali berbalas pesan, saya tak menemukan tawaran MLM dan lain-lain. Benar-benar hanya mau menanyakan kabarku. Meskipun saya merasa kalau ini justru lebih aneh dari semua anomali-anomali tadi, saya tetap meladeni obrolannya dengan mode percakapan konvensional (padahal sebenarnya saya lebih suka menggunakan mode tempur sarkas kalau sedang berbalas pesan elektronik). Hal itu saya lakukan karena alasan formalitas untuk menjaga suasana percakapan agar tetap netral. Kalau tidak terkontrol seperti itu, takutnya, sarkasku kambuh dan itu akan melukai perasaannya.

Singkat cerita, kami bercakap-cakap tanpa arah dan tujuan yang jelas. Diawali dengan nostalgia masa pra-labil yang kemudian merayap ke topik-topik trivial hingga mengawang-awang ke dialog filosofis imajiner. Saya sampai tak mengerti dengan apa yang sedang saya bicarakan.

Sampai kemudian pembicaraan beralih ke bahasan kekinian tentang apa yang sedang kami lakukan dalam hidup ini. Dia menceritakan kisah hidupnya yang sekarang telah berlabuh di Jawa setelah sebelumnya merantau di Kalimantan. Saat ini dia menjadi karyawan di sebuah pabrik penghasil ban karet dan dia merasa cukup bahagia dengan hidupnya meskipun kadang kerinduan pada kampung halaman membuatnya menitikkan air mata. Mungkin saja dia menangis ketika sedang mengetik hal tersebut. Itu hanya dugaan karena dia langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan hidupku.

Saya pun menceritakan hal-hal yang sudah saya lakukan dalam hidupku. Karena merasa hal yang saya lakukan terlalu sedikit, saya pun menceritakan padanya beberapa hal yang ingin saya lakukan tapi tak pernah kulakukan. Dan ternyata, daftarnya lebih panjang dari hal-hal yang telah kulakukan. Silly me.

Saat mengatakan bahwa saya sekarang bertugas di Pulau Ndao, di wilayah paling Selatan Indonesia, dia terkejut. Mengapa kamu pergi ke tempat sejauh itu, tanyanya. Saya bingung mau jawab apa. Mau bilang terpaksa, saya sendiri yang memilih untuk tugas di daerah perbatasan. Mau jawab karena alasan pengabdian, rasanya itu terlalu klise. Rasanya pertanyaan seperti itu benar-benar terlalu berat untuk orang sepertiku.

Mengapa saya mau bersusah-susah datang ke tempat yang antah berantah seperti ini ya? Padahal ada lebih dari tujuh belas ribu pulau di negara ini, mengapa harus di Ndao yang terpencil ini, saya terdampar?
Tapi kemudian saya teringat dengan kalimat Herman Melville, di buku Moby Dick, yang dialamatkan untuk para pengelana di segala epos dan meridian bumi: “I am tormented with an everlasting itch for things remote. I love to sail forbidden seas".
Mungkin saja, saya hanya merasa penasaran dengan tempat-tempat terpencil.

Sabtu, 05 Desember 2015

Sabtu, 5 Desember 2015: Buoyant

Sebagai manusia, kita ingin merasakan keamanan. Sejak kecil kita diajarkan untuk mengasosiasikan keamanan dengan materi dan perilaku. Kita mengasosiasikan keamanan dengan kepemilikan rumah, kepemilikan properti, kepemilikan uang di bank, bisa pergi bekerja tiap hari. Dalam kenyataannya, semua hal tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita aman. Bagaimana jika terjadi gempa atau badai pada rumah dan properti, bagaimana jika bank bangkrut, bagaimana jika pekerjaan itu raib? Kita menjadikan materi-materi tersebut sebagai tameng untuk merasakan keamanan. Ketika kita merasa tidak aman, kita melakukan berbagai cara untuk meningkatkan rasa aman seperti menabung lebih banyak uang, membuat rumah yang lebih luas atau banyak, mengikuti asuransi, memasang CCTV, atau mencari pekerjaan tambahan. Pada umumnya, semua tindakan itu bisa membantu kita merasakan keamanan seperti halnya perasaan aman ketika menggunakan pelampung di atas kapal ketika sedang berlayar. Kita memasrahkan nyawa kita pada benda tersebut meskipun pada kenyataannya, memakai pelampung tidak benar-benar bisa menjamin keselamatan nyawa kita karena kematian tetap dapat terjadi meskipun kita sudah menggunakan pelampung. Probabilitas kematian manusia di laut sulit untuk diprediksi, ibarat elektron dalam fisika kuantum. It can be anywhere and nowhere in the same time.

Rabu, 02 Desember 2015

Rabu, 3 Desember 2015: Boredom Gene

Pada tahun 1872, para peneliti asal Inggris melakukan ekspedisi menggunakan kapal HMS Challenger. Setelah 3 setengah tahun melakukan rutinitas berlayar, mengambil sampel air, menangkap ikan, dan mengambil sedimen lumpur sejauh 70.000 mil nautical, banyak kru penelitian yang terlihat mengalami gangguan kejiwaan. Dengan total 260 kru, satu dari empat kru sudah pernah melompat dari kapal, serta lebih dari 8 orang menjadi gila atau mati, mungkin karena menjalani rutinitas yang terlalu membosankan. Untungnya, perjalanan tersebut tidak sia-sia karena mereka menemukan lebih dari 4.700 spesies laut baru dan mereka pun berhasil menyusun laporan yang terdiri atas 50 volume, meskipun penyusunan ini membutuhkan waktu sekitar 19 tahun, pada akhirnya, laporan ini menjadi cikal bakal lahirnya ilmu baru yang disebut oceanography atau oseanografi.

Saya bisa mengerti mengapa para peneliti tersebut mengalami frustasi. Berada di lautan selama tiga tahun setengah saya rasa bukanlah pengalaman yang terlalu menyenangkan. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, hanya berteman dengan kru kapal yang kemungkinan besar tidak semuanya memiliki karakter yang cocok, dan pastinya minim hiburan. Apalagi di abad ke-19, belum ada internet maupun televisi. Entah apa yang mereka lakukan untuk membunuh kejenuhan.

Meskipun terpaut oleh perbedaan dimensi ruang dan waktu, saya bisa mengerti penderitaan yang dialami oleh para peneliti HMS Challenger. Saya rasa, kebosanan, kejenuhan, ataupun kejemuan adalah sifat dasar manusia yang tak akan mungkin dapat punah. Itu seperti sudah terinjeksi dalam gen manusia, yang diwariskan di tiap generasi, tanpa mengenal ras ataupun suku bangsa. Apakah hewan dan tumbuhan juga dapat merasakan bosan yang sama dengan manusia? Maksudku, apakah ayam tidak pernah bosan melakukan rutinitas berkokok, makan, dan tidur yang sama tiap hari? Apakah ayam tidak pernah berencana untuk mengubah style berkokoknya agar satu oktaf lebih tinggi, mencoba makan di piring dengan sendok dan garpu, atau tidur di spring bed? Begitu juga dengan tumbuhan, apakah mereka tidak bosan tumbuh di tempat yang itu-itu saja, dari sejak bibit hingga 100 tahun?
Bisa jadi, hewan dan tumbuhan memang tak pernah bosan. Gen bosan mereka cenderung lethal, sehingga lebih dulu mati sebelum sempat diwariskan. Sedangkan gen bosan manusia mungkin bersifat protektif dalam proses evolusi. Bisa jadi, manusia justru lebih cepat mati jika tak memiliki gen bosan. Tapi entah di lokus kromosom mana gen bosan itu terletak. Sepertinya belum ada peneliti yang tertarik untuk mencarinya.

Minggu, 29 November 2015

Minggu, 29 November 2015: Avis

Seorang kawan pernah berkata, "saat dirimu mulai mempertanyakan dogma suatu agama, bersiaplah untuk mendapatkan kebencian. Karena sejak dulu kala, agama, meskipun masing-masing pengikutnya menganggap itu sebagai sesuatu yang universal, dalam kenyataannya tidak pernah benar-benar bisa universal secara praktik. Buktinya saja, ada begitu banyak agama di muka bumi ini. Malah dalam satu agama saja, dapat ditemukan berbagai jenis aliran. Dan semuanya mengaku sebagai yang paling benar, dan satu-satunya yang akan menghuni surga nantinya. Yang terpenting, jaga dirimu baik-baik, karena demi menjaga kemurnian agamanya, banyak orang baik yang akan rela melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Jika dilihat secara objektif, kekerasan yang mengatasnamakan menjaga kemurnian agama, tidak jauh berbeda dengan kekerasan yang mengatasnamakan fanatisme klub sepakbola. Yang membedakan keduanya hanyalah satu membela agama, sedangkan satunya membela klub. Orang yang beragama, mungkin akan mengatakan, jangan samakan keduanya karena yang orang beragama perjuangkan adalah Tuhan. Tapi sekali lagi, dari sudut pandang objektif, yang namanya kekerasan pastilah akan mengakibatkan jatuhnya korban manusia, ada darah yang tercecer di sana, ada rasa sakit yang terlibat di situ.
Lalu ada pertanyaan yang mengemuka, bagaimana kita harus memperlakukan orang-orang yang berbuat kesalahan dan dosa? Apakah kita harus membiarkannya saja? Kata mereka, dengan agama, persoalan ini lebih mudah diselesaikan karena dalam agama ada kitab suci yang telah mengatur segala seluk beluk hidup manusia. Walaupun sebenarnya, tanpa agama pun, manusia akan mampu membuat hukum yang mengatur seluk beluk hidupnya sendiri. Kitab suci agama-agama besar dunia hanya berfokus pada wilayah Timur Tengah. Seolah-olah tak ada lagi manusia lain di belahan bumi yang lain. Begitu juga dengan agama-agama yang lahir di luar Timur Tengah, pada umumnya, di kitab-kitab mereka hanya fokus pada masalah regional ketika agama tersebut berdiri. Tapi oleh para pengikutnya, kitab suci yang notabene ditulis beberapa ribu tahun yang lalu dianggap sebagai panutan hidup untuk umat manusia hingga akhir zaman. Jika ada fakta masa kini yang bertentangan dengan isi kitab suci, maka para pengikutnya pun membela dengan pernyataan bahwa ayat kitab suci harus disesuaikan dengan konteks kesejarahan ketika ayat tersebut diturunkan atau dengan menyatakan bahwa fakta masa kini lah yang salah dan kitab suci yang benar. Seperti misalnya umur bumi, ada kitab suci yang menyatakan bahwa usia bumi tidak lebih dari 10.000 tahun ( http://www.icr.org/article/how-old-earth-according-bible/) meskipun ilmu pengetahuan terkini menemukan fakta bahwa usia bumi sudah melebihi jutaan tahun. Banyak pengikut agama yang memilih untuk mengenyampingkan fakta ilmiah dan memilih kitab suci. Kisah Galileo dan Copernicus yang terkucil karena menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat galaksi juga bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa terkadang para pengikut agama sangat sulit untuk menerima sebuah pandangan baru. Semua yang berbeda bagi mereka terkadang dianggap sebagai ancaman. Karena itu, berhati-hatilah saat engkau mempertanyakan dogma-dogma suatu agama."

Sabtu, 28 November 2015

Sabtu, 28 November 2015: Choix

Seseorang yang memiliki terlalu banyak pilihan hidup cenderung menghabiskan begitu banyak sumber daya hanya untuk melakukan seleksi. Hal ini mirip dengan kondisi bumi yang memiliki begitu banyak pilihan gen penghuni. Ada begitu banyak mahluk hidup di muka bumi ini. Sejak awal pembentukannya, yang dilakukan bumi tiap harinya adalah sibuk melakukan seleksi alam terhadap semua mahluk hidup untuk memastikan gen mana saja yang layak sebagai penghuninya.
Proses seleksi alam ini tidak berlangsung dalam waktu hingga jutaan tahun lamanya. Seandainya saja manusia punya umur sepanjang itu.
Beruntunglah mereka ketika pilihan telah ditentukan, masih ada cukup waktu untuk melanjutkan hidup. Bayangkan jika waktu telah habis ketika pilihan belum sempat diputuskan.

Jumat, 27 November 2015

Kamis, 26 November 2015: Mantis

Seandainya hubungan seksual antara manusia menyerupai hubungan seksual mantis, para pria hanya akan merasakan pengalaman seksual sekali saja seumur hidup. Mantis betina sangat hobi memakan kepala mantis jantan saat sedang melakukan hubungan seksual. Jadi bisa dipastikan ketika hubungan seksual berakhir, maka berakhir pula kehidupan pejantan. Meskipun terdapat kenyataan kejam seperti ini, para mantis jantan yang masih hidup sepertinya tidak peduli. Pada akhirnya, mereka akan senantiasa mengikuti panggilan alam untuk melakukan hubungan seksual, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Yang mengherankan, meskipun praktek seperti ini telah berjalan sejak dulu kala, belalang mantis tidak pernah punah. Mereka tetap berjaya dan kadang mengganggu hidupku saat mereka terbang ke sana kemari di sebuah ruangan.

Bayangkan jika kejadian yang sama berlaku pada manusia. Para wanita langsung membunuh para pria setelah melakukan hubungan seksual. Mungkinkah ras manusia akan punah? Ataukah tetap berlanjut seperti belalang mantis?

Sayangnya, dunia manusia tidaklah seperti dunia mantis meskipun mereka sama-sama hidup di bumi yang sama. Para wanita di dunia manusia sejak dulu kala telah dilabeli dengan predikat mahluk yang lemah sehingga mereka lebih sering menjadi korban intimidasi pria ketimbang menjadi mahluk pembunuh pejantan seperti halnya mantis betina.

Orang-orang mungkin akan memberikan argumen seperti ini, "Jangan samakan manusia dengan mantis. Manusia memiliki cinta kasih dan akal, sedangkan belalang mantis tidak memilikinya".

Jika memang manusia memiliki akal dan cinta kasih? Mengapa mereka tetap saling membunuh dan menyiksa? Bahkan biarpun sudah ada agama yang mengajarkan kasih, manusia tetap bisa saling bunuh dengan mengatasnamakan menjaga keutuhan agama.

Jadi apa bedanya mantis dan manusia?

Lundi, 23 Novembre 2015: Rêve

Di surat At Taubah ayat 38-40, terdapat perintah untuk berperang. Di surat Al Anfaal ayat 45-47, malah terdapat penjelasan strategi untuk berperang. Di kitab Joshua (6:21) terdapat cerita perang yang disertai pembataian rakyat dengan mengatasnamakan Tuhan. Saya tidak tahu persis di kitab suci agama lainnya tapi ayat-ayat dari kitab suci ini, sering digunakan sebagai pembenaran untuk melakukan peperangan. Jika ada yang bertanya, kapan perang di Timur Tengah akan berakhir? Sepertinya itu hal yang mustahil. Karena semua orang di sana berperang dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka semua merasa paling benar dan menganggap bahwa Tuhan senantiasa menyertai mereka dalam pertempuran.

Bayangkan sebuah kasus, seorang suporter klub sepakbola AC Milan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti mendukung klub AC Milan lalu memutuskan untuk mengalihkan dukungan ke klub Inter Milan. Karena jengkel, suporter klub AC Milan lainnya memutuskan untuk membunuh suporter yang membelot tersebut. Kebanyakan orang yang bernalar tidak akan pernah setuju dengan pembunuhan seperti itu, tapi coba gantikan kata klub AC Milan dan Inter Milan dengan kata agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau lainnya. Maka orang-orang yang bernalar tersebut akan memberikan jawaban yang beragam. Akan ada yang setuju dengan pembunuhan tersebut karena mengatasnamakan agama, ada juga yang mungkin tidak sepakat.

Terkadang saya bingung dengan agama, di satu sisi, agama mengajarkan tentang cinta kasih, namun di sisi lain, agama tidak melarang peperangan dan perbudakan. Mungkin karena itulah peperangan di muka bumi ini tidak akan pernah berakhir

Minggu, 22 November 2015

Rabu, 18 November 2015

Tuhan itu apa? Sebagai orang yang mengaku beragama, sungguh tidak mengherankan jika pertanyaan tersebut tidak pernah terbersit dalam pikiran. Karena sejak kecil mereka semua dididik untuk tidak pernah mempertanyakan tentang realitas Tuhan dan ajaran agama.

Maksudku, bayangkan jika seseorang beragama Kristen, dia harus ke gereja tiap Minggu, menyanyikan kidung-kidung yang penciptanya entah siapa atau bayangkan jika seseorang beragama Islam, tiap hari shalat pada subuh, tengah hari, sore hari, menjelang senja, dan malam hari untuk menyembah Tuhan yang belum pernah mereka temui. Mengapa kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan? Apa esensinya? Apakah itu untuk membuat kita jadi manusia yang lebih baik, lebih penyayang, dan lebih cinta damai?
Jika itu alasannya, maka saya meragukannya. Banyak saya melihat justru orang-orang beragamalah yang lebih garang. Mereka tega membakar, membunuh, dan meledakkan atas nama agama. Pertentangan Syiah vs Sunni di Timur Tengah, Yahudi vs Islam di Palestina, Katolik vs Protestan di Irlandia, Hindu vs Islam vs Kristen vs Sikh di India, belum lagi ISIS vs Dunia. Belum lagi konflik-konflik di tempat lain yang tidak terdokumentasi. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Tuhan yang mereka sembah akan senang melihat perbuatan kekerasan yang telah dilakukan?

Konsep keagamaan itu sendiri, kalau dipikir dengan akal, sebenarnya merupakan sesuatu yang penuh ambiguitas. Tapi dalam agama, ada konsep yang bernama iman, yang bertujuan untuk menihilkan semua ambiguitas tersebut. Inti dari konsep iman adalah apapun yang disebutkan dalam kitab suci, percayailah, meskipun itu tidak masuk akal dan aneh. Sebagai contoh, silsilah Yesus dalam kitab Lukas dan Matius, kenapa bisa begitu berbeda? Padahal ini adalah silsilah seseorang yang dianggap sebagai anak Tuhan. Jika hal ini dirunut secara ilmiah, maka tentu sulit untuk diterima oleh nalar, namun jika memakai konsep iman, hal ini dapat diterima begitu saja tanpa keraguan di dalamnya. Contoh lain dari Quran, adalah kitab suci ini tidak melarang konsep perbudakan dan malah juga tidak melarang hubungan seksual dengan budak meskipun budak tersebut belum dinikahi, hal ini dapat dilihat pada surat Al Mu'minun ayat 5 dan 6. Zeitgeist di masa ini tidak akan sepakat dengan perbuatan tersebut tapi sekali lagi, konsep iman tidak akan mempermasalahkan hal tersebut karena akan selalu ada upaya pembenaran theologis untuk hal tersebut.

Martin Luther pernah mengatakan bahwa 'Reason is the greatest enemy that faith has; it never comes to the aid of spiritual things, but more frequently than not struggles against the divine Word, treating with contempt all that emanates from God.' Saat mengatakan hal tersebut, dia mungkin menyadari bahwa banyak perkara dalam agama yang sulit terjamah oleh akal. Iman hanya akan berhenti pada percaya saja bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, sedangkan akal akan terus berupaya mencari bagaimana dan kapan alam semesta ini diciptakan. Banyak orang beragama yang tidak mau mencari tahu lebih jauh mengenai alam semesta ini, karena mereka takut kalau mereka mengeksplorasi lebih jauh, mereka akan menemukan bahwa fakta ilmiah yang tidak klop dengan kitab suci. Pada situasi seperti ini, mereka seringkali mengabaikan fakta ilmiah dan lebih memilih kitab suci. Misalnya seperti penentuan umur bumi, banyak theologian yang percaya bahwa umur bumi ini "baru" 10.000 tahun, sedangkan fakta ilmiah yang ada saat ini justru menunjukkan bahwa usia bumi lebih dari itu. Apakah theologian mau menerima fakta tersebut? Entahlah.

Jumat, 13 November 2015

Jumat, 13 November 2015: Anestetik

Sepertinya ada lagi pasien yang sedang tidak beruntung. Dia datang dengan luka robek ke PKM saat tidak ada lagi lidocaine yang tersedia. Sepertinya dia pasien ke empat dalam bulan ini. Setelah luka dibersihkan dan dinilai baik-baik, terlihat jelas bahwa robekan sebesar 4x15 cm bukanlah jenis luka yang harus dibiarkan saja tanpa jahitan. Prosedur dilanjutkan dengan informed consent mengenai kondisi luka, efek jika luka dijahit atau tidak dijahit, ketiadaan anestetik lokal di PKM, dll. Akhirnya pasien setuju untuk mendapatkan tindakan hecting tanpa anestetik. Setelah sebelumnya diberi analgesik preemptive maka dimulailah prosesi hecting yang diiringi oleh jeritan pasien. Kasihan sekali kalau harus menjahit pasien dalam kondisi tanpa anestetik lokal, hanya saja kita harus mempertimbangkan resiko buruk jika luka dibiarkan terbuka. Jahitan yang semestinya bisa lebih dari 10 jahitan, saya hemat saja jadi 4 jahitan di titik-titik luka tertentu yang intinya adalah luka menutup, perdarahan aktif berhenti, memperbesar kesempatan penyembuhan jaringan di lokasi yang fisiologis, serta mengurangi resiko infeksi luka yang terbuka akibat terpapar dengan lingkungan luar. Miris rasanya mendengar jeritan pasien yang terus-menerus tiap kali jarum menusuk kulitnya. Saya membayangkan kalau jarum itu yang menusuk kulitku lalu dalam hati saya berseru, "Terpujilah orang yang pertama kali menemukan Lidocaine."

Untungnya, 3 pasien sebelumnya dijahit tanpa anestesi hingga sekarang sehat wal afiat dan masih mau datang ke PKM meskipun sudah pernah merasakan siksa dunia, mendapat jahitan tanpa anestesi. Semoga pasien yang ini juga tetap mau datang kontrol, 2 hari lagi. Kalau pun tidak datang, berarti saya yang harus mengunjungi rumahnya.

Kamis, 12 November 2015

Kamis, 12 November 2015

Kemarin saya dapat kabar bahwa seorang junior di FK Unhas baru saja meninggal saat sedang menjalankan program Internship di Kepulauan Aru. Sedihnya, harus internship di tempat sangat terpencil begitu lalu mengantar nyawa di sana.

Sabtu, 31 Oktober 2015: Sapiens

Ada begitu banyak kejadian yang telah berlalu sejak tulisan terakhir diterbitkan. Pengumuman NS 2, Monev dan segala persiapannya, pengalaman spiritual yang kualami, omong kosong yang kuhadapi dan sebagainya. Tapi saya rasa semua kejadian itu terlalu penting untuk ditulis dalam blog yang trivial seperti ini. Saya sedang tidak mood untuk membahas hal-hal penting dan serius di blog ini.

Apa yang akan saya bahas kali ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi dalam hidupku atau apapun yang berhubungan dengan hal tersebut.

Saya tidak pernah suka ekonomi. Saya merasakan ada sesuatu yang buruk dalam ekonomi sehingga saya ingin menjauhinya seperti kutub utara magnet terhadap kutub utara magnet lainnya. Padahal ketidaksukaan itu terbit tanpa didasari oleh pengenalan yang baik terhadap subyek ekonomi. Saya belum sempat masuk ke dalam rumah ekonomi, berbincang dengan penghuninya, minum teh bareng, bercengkrama, dan sebagainya. Sebetulnya ketidaksukaan seperti ini sudah masuk dalam kategori logical fallacy, tapi mau bagaimana lagi, pertimbangan yang berasal dari asumsi emosional belaka bukanlah teman yang baik bagi logika. So, just try to continue the life with it.

Hanya saja yang menjadi masalah, hidup ini penuh dengan persoalan ekonomi. Makan, minum, rumah, pakaian, internet, semuanya adalah benda-benda ekonomi. Oleh karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup akan selalu memaksa manusia untuk menjadi mahluk ekonomi, Homo economicus. Alih-alih disebut sebagai Homo sapiens, kera yang bijaksana, manusia memang lebih layak dikatakan sebagai mahluk ekonomi karena manusia tidak selalu bijak dalam menjalani hidup, lihat saja semua pembunuhan dan peperangan yang telah dilakukan oleh manusia sejak awal zaman hingga kini, bukannya kebijaksanaan yang terlihat di sana, namun justru kecenderungan ekonomi yang menggerakkan manusia untuk menguasai sumber daya sebanyak-banyaknya.

Sejatinya, sebagai mahluk ekonomi, tak ada yang namanya kebaikan dan kejahatan dalam setiap perbuatan manusia. Ranah baik dan buruk itu hanyalah topik buatan para rohaniwan dan moralis. Dalam ekonomi, baik-buruk adalah topik yang tidak relevan karena kebaikan dan keburukan pada manusia secara ekonomi ditentukan oleh insentif yang mereka dapatkan jika melakukan suatu perbuatan. Manusia selalu dapat dimanipulasi asalkan motif ekonominya diketahui. Jika suatu perbuatan A diberi insentif 100, sedangkan suatu perbuatan B diberikan insentif 10, sudah jelas manusia akan memilih melakukan perbuatan A. Jika suatu perbuatan A diberi hukuman cambuk sedangkan perbuatan B diberi hadiah uang, maka manusia akan lebih memilih melakukan perbuatan B. Memang tidak semua manusia mengikuti pola seperti ini, terkadang terdapat anomali, namun hal tersebut dapat diabaikan karena jumlahnya sangat kecil. Nah, di celah insentif ini lah agama memainkan peran dalam memanipulasi perilaku manusia atau behavioral engineering, melalui konsep dosa dan pahala, surga dan neraka. Agama mengarahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan dengan iming-iming surga lalu melarang dilakukannya perbuatan lain dengan ancaman neraka, dan manipulasi perilaku ini sangat efektif dalam menggerakkan manusia selama ribuan tahun lamanya. Agama selalu berhasil dijadikan sebagai topeng untuk menutupi motif ekonomi.

Kekuatan agama dalam memanipulasi perilaku manusia sampai pada tataran di mana manusia dapat mempercayai semua hal imajinatif sebagai sesuatu yang nyata.
Bayangkan, jika ada yang mengatakan padamu bahwa terdapat teko yang melayang-layang di antara planet Bumi dan Mars, dan teko tersebut begitu unik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata dan teleskop biasa serta karena keunikannya, maka teko tersebut dengan sendirinya ada di sana tanpa ada yang menciptakannya. Apakah kamu dapat mempercayai keberadaan teko imajinatif tersebut? Mungkin sulit untuk mempercayai adanya benda seperti itu di luar sana, tapi bagaimana jika hal tersebut telah diucapkan berulang-ulang selama 2000 tahun oleh nenek moyang, pemerintah, guru-guru, orang tua, dan temanmu?

Saya yakin, saat membaca hal ini, orang-orang akan berpikir bahwa saya adalah seorang atheis. Terserah apa yang orang katakan tentang saya, itu tidak terlalu berpengaruh pada kehidupanku. Kisah teko tersebut hanyalah sebuah parabel yang diciptakan oleh Bertrand Russel untuk menyatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak ada bedanya dengan teko imajinatif yang bisa jadi ada di luar sana atau malah tak ada sama sekali karena belum pernah ada bukti langsung yang menunjukkan keberadaannya selain klaim sepihak dari orang-orang yang mempercayainya. Tapi menurut saya, parabel tersebut hanyalah satu cara untuk memicu kekritisan berpikir.

Apakah dasar dari suatu keyakinan? Thomas Aquinas menggunakan 5 argumen sebagai dasar untuk menyatakan keyakinannya pada Tuhan.

Argumen pertamanya, The Unmoved Mover. Tidak ada gerakan yang dapat timbul tanpa adanya penggerak pertama. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penggerak pertama adalah sesuatu yang disebut Tuhan.
Argumen kedua adalah The Uncaused Cause. Tidak ada sesuatu yang dapat timbul dengan sendirinya. Setiap akibat pasti memiliki sebab. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penyebab pertama atas segala sesuatu adalah Tuhan.
Argumen ketiganya disebut The Cosntological Argument. Isi argumen ini adalah ada suatu waktu ketika tidak ada satupun benda fisik yang ada di semesta ini. Namun karena saat ini sudah ada benda fisik, maka pasti ada sesuatu yang bersifat non-fisik yang membawa keberadaan semua benda fisik yang ada di semesta ini dan sesuatu tersebut adalah Tuhan.
Sebetulnya masih ada lagi argumen keempat dan kelima tapi intinya, semua argumen itu mirip. Tuhan adalah sumber segalanya. Kebaikan, kejahatan, semuanya berasal dari Tuhan.

Senin, 19 Oktober 2015

Senin, 19 Oktober 2015

Saya tidak pernah berpikir kalau apa yang saya lakukan di sini, di perbatasan paling Selatan Indonesia, yang jauh dari listrik dan sinyal 3G sebagai suatu pekerjaan. Karena hidupku begitu damai, tenang, tentram, nyaris tanpa riak, dan sejahtera. Tapi semua berubah begitu monev menyerang.

Rabu, 14 Oktober 2015

Jumat, 29 Oktober 2015: Grown

Saya memiliki beberapa ingatan masa lalu yang selalu terbersit di saat yang tak tepat, di momen-momen yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan memori masa lalu yang pernah kualami. Seperti saat sedang berkendara, tiba-tiba saja ingatan keusilan masa TK berkelebat di kepalaku. Entah di mana korelasi antara berkendara dengan keusialan masa TK, kecuali saya sedang di jalan raya bersama geng motor, mungkin keterkaitannya masih dapat dijelaskan secara komprehensif karena masa TK-ku saya rasa cukup agresif untuk ukuran anak usia 4 tahun. Memangnya siapa anak usia 4 tahun tidak agresif? Yang menjadi masalah, ingatan tersebut muncul dalam bentuk citra buram bergerak seperti video dengan resolusi yang buruk, bukannya Blu-Ray atau Full HD tapi malah seperti 3GP atau FLV. Mungkin buruknya citra memori yang berkelebat di benakku lebih disebabkan oleh keenggananku untuk mengingat momen-momen masa lalu tersebut. Mengingat rinciannya justru membuatku harus memakai banyak sumber daya otak. Hanya saja, hal tersebut sulit terwujud karena entah bagaimana, momen yang tak ingin kuingat itu telah meninggalkan jejas yang begitu dalam di sinapsis otakku hingga terkadang fragmen memori yang seharusnya sudah terkubur bersama kumpulan ingatan bawah sadar lainnya justru menyeruak lalu mendobrak masuk ke zona alam sadar. Padahal itu adalah hal yang sangat terlarang dan menjengkelkan bagi seseorang yang terkadang dikendalikan oleh ilusi kontrol sepertiku.

Rasanya pasti asyik kalau bisa mengendalikan apa saja yang ingin kita ingat kemudian menghapus apa yang kita anggap tak berguna. Terlalu banyak hal yang ingin kuingat tapi tak bisa lagi kukembalikan ke memori, seperti rumus trigonometri, mekanika, pelajaran kuliah, buku novel yang pernah kubaca dan beberapa hal lainnya. Padahal saya telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk bisa memaksa mereka masuk ke dalam girus dan sulkus otakku. Saya jadi berpikir, untuk apa sebenarnya saya mempelajari trigonometri,membaca buku kuliah dan mengenali manusia-manusia lain di berbagai kota jika pada akhirnya hal-hal tersebut justru kulupakan.

Saya tak dapat lagi mengingat dengan detail wajah dan nama teman-temanku di masa TK, SD, SMP, hingga SMA. Bahkan teman kuliah pun, sudah mulai memudar dari ingatanku. Mungkin ini tanda-tanda penuaan.

Selasa, 13 Oktober 2015

Senin, 12 Oktober 2015: Dette

Dulu saya pikir, ketiadaan dana bukanlah penghalang untuk melakukan berbagai hal, termasuk salah satunya kegiatan di Puskesmas. Tapi sepertinya saya salah. Kegiatan di Puskesmas ini nyaris mati karena ketiadaan dana. Untungnya kegiatan kuratif masih berjalan baik, dengan jumlah kunjungan pasien rata-rata 400-an orang/bulan. Bulan lalu saja, saya harus menangani 421 pasien dengan berbagai jenis keluhan dan kondisi. Jadi selama 5 bulan di sini, sekitar 2000an pasien sudah datang ke Puskesmas, hampir mendekati jumlah penduduk di Pulau Ndao yang berjumlah 2800 orang.

Kegiatan pelaporan, promotif, dan promotif dijalankan ala kadarnya secara tersengal-sengal.
Setelah 5 bulan di sini, saya baru tahu jika hutang Puskesmas ini sudah melebihi jumlah pemasukan Puskesmas dalam 6 bulan. Remarkable.
Saking banyaknya hutang, kadang saat pasien datang, selain berobat, mereka juga menagih hutang. Sungguh suatu fenomena yang aneh. Meskipun hingga saat ini belum pernah ada satu pun pasien yang menagih langsung hutang Puskesmas ke saya, tapi teman-teman yang bertugas di loket dan di luar ruang periksa, sering sekali curhat mengenai beberapa pasien yang datang menagih hutang. Saya sampai membuat hipotesis bahwa sebenarnya para pasien yang datang ke Puskesmas tidaklah benar-benar sakit, tapi mau menagih hutang atau mereka sakit karena mau menagih hutang. Tapi sekali lagi, that's only a hypothesis. Belum lagi tuntutan para kader Posyandu yang belum dapat insentif sejak Januari. It's a weird circumstance.

Kamis, 08 Oktober 2015

Rabu, 7 Oktober 2015: Nobel Whatever

Kemarin pemenang Nobel Fisika dan Kedokteran telah diumumkan. Dan tak ada namaku ataupun nama orang yang berbau Indonesia di sana. Mengecewakan. Saat pengumuman Nobel Sastra, Perdamaian, dan Ekonomi nanti, saya yakin polanya akan tetap sama. Bahkan mungkin hingga satu dekade ke depan, pola itu akan terus berulang. Tak akan ada Indonesia di sana ataupun di mana-mana. Tak perlu menjadi wanita Gypsy untuk bisa meramalkan hal tersebut. Cukup memahami saja bahwa beberapa hal di dunia ini sudah diatur oleh hukum alam maka semua pernyataan sebelumnya akan benderang seperti mentari di tengah hari. Meskipun para ilmuwan sepakat bahwa dunia ini adalah kumpulan probabilitas yang tertunda, kecuali Einsten yang mengingkarinya dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak bermain dadu, tetap saja beberapa hal di dunia ini sudah memiliki kerangka, template, cetakan pasti yang sulit untuk diutak-atik dengan cara apapun. Contohnya saja upaya melawan gravitasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang memiliki daya dorong melebihi akselerasi 9,8 meter per detik kuadrat. Tak ada satupun manusia yang memiliki akselerasi seperti itu tanpa alat bantu. Sehingga pemandangan manusia yang melayang di udara bumi tanpa alat bantu merupakan hal yang mustahil ditemukan dalam waktu dekat. Sama mustahilnya dengan orang Indonesia meraih Nobel dalam satu dekade ke depan. Saya tidak bermaksud untuk menjadi inferior di sini tapi terdapat banyak variabel determinan yang menyebabkan orang Indonesia sulit meraih Nobel.

Entah kenapa, saya merasa ada yang salah dengan negara ini. Mungkin itu karena terlalu banyak orang-orang seperti saya di negara ini, yang hobinya hanya suka protes dan mengajukan komplain kemana-mana tanpa memberikan solusi. Tapi protes dan komplain adalah salah satu jenis kebebasan yang dijamin oleh undang-undang. Selama itu hanya berbentuk free speech bukan hate speech, saya rasa tak ada yang salah dengan banyak protes. Solusi akan timbul dengan sendirinya begitu protes mencapai titik kulminasi. Yang menjadi masalah, saat solusi sudah ada, akankah para pemegang keputusan mau mengambilnya. Karena seringkali, solusi yang datang bersifat kurang populis dan cenderung mengancam status quo. Seperti yang dapat kita lihat dalam kasus pembantaian Salim Kancil. Di desa Salim Kancil, para petani mengeluhkan kerusakan alam yang diakibatkan oleh penambangan pasir liar. Mereka mengajukan protes dan memberikan solusi agar dilakukan penghentian tambang liar. Tapi ini solusi yang buruk bagi para penguasa. Penghentian tambang liar sama artinya dengan mematikan sumber pemasukan para calo tambang liar yang notabene adalah para penguasa di desa. Jadinya, suara protes itu dibungkam. Salim Kancil sebagai salah satu penentang tambang liar langsung dibacok beramai-ramai hingga tewas oleh kaki tangan para penguasa. Sungguh kejam. Dan parahnya, kasus seperti itu dapat ditemukan pada banyak tempat di negara ini. Kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera saat ini pun memiliki akar masalah yang sama dengan kasus Salim Kancil. Sumber daya alam.

Di negara ini ada terlalu banyak sumber daya alam, bahkan mungkin jika sumber daya alam Jepang, Singapura, Taiwan, dan Hongkong digabung jadi satu, masih belum bisa menyamai apa yang ada di Indonesia. Tapi Indonesia jauh lebih miskin ketimbang negara-negara yang minim sumber daya alam. Kadang saya berpikir jika sumber daya alam yang melimpah bukanlah suatu anugerah tapi sumber malapetaka. Pengerukan sumber daya alam plus keserakahan manusia lebih cenderung menghasilkan efek kerusakan alam dan peperangan dengan berbagai skala jika dibandingkan dengan kemakmuran manusia yang mungkin hanya dinikmati segelintir orang. Entah ini masih memiliki relevansi dengan hadiah Nobel atau tidak, tapi saya rasa itu sudah tidak penting lagi. Whatever.

Selasa, 06 Oktober 2015

Senin, 5 Oktober 2015: A Study In Semantic

Sherlock Holmes telah menjadi salah satu icon fiktif paling populer di dunia orang-orang yang biasa membaca kisah-kisah detektif. Saya harus menyebutkan secara spesifik cakupan kepopulerannya karena populer adalah suatu jenis kenisbian yang sulit untuk dikuantifikasi. Meskipun sekarang kita dapat melihat keobjektifan popularitas seseorang dari jumlah follower twitter atau instagram, tapi tetap saja, kepopuler masih berada pada area yang bersifat relatif. Contohnya saja, orang di Ndao tidak ada satupun yang mengenal Sherlock Holmes, tapi mereka mengenal dengan baik Dody Latuharai. Siapa itu Dody Latuharai? Dia adalah penyanyi asal Ambon yang lagunya sering dinyanyikan oleh orang Ndao. Saya yakin orang Inggris, yang menjadi asal muasal Holmes, tak ada yang mengenalnya. Bukannya bermaksud untuk mengecilkan ketenaran Dody, tapi coba saja telepon salah seorang di Inggris untuk membuktikannya. Sebagai awalan, langsung saja telepon perdana menteri Inggris, sekalian untuk minta agar tagihan telepon internasionalmu dapat dibayarkan.

Ada yang pernah berkata bahwa terkadang kepopuleran memiliki keterkaitan langsung dengan tingkat intelegensia, namun banyak referensi lain yang menyebutkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkaitan sama sekali. Sebenarnya, saya ingin menyebutkan contohnya secara eksplisit di sini berdasarkan beberapa rujukan ilmiah tersebut, namun rasanya itu akan menjadi hal yang kurang etis karena apa yang saya anggap populer bagi para intelek mungkin akan dianggap sebagai suatu penghinaan bagi orang-orang yang saya anggap kurang intelek. Lagipula, apalah saya ini hingga bisa menghakimi tingkat intelektualitas manusia lain? Jadi untuk menghindari perdebatan panjang, maka saya memakai saja asumsi dasar bahwa popularitas tak ada kaitannya dengan intelektualitas agar semua bisa senang dan tak ada pertumpahan darah. Rasanya akan terdengar konyol jika sampai ada yang harus mati karena persoalan popularitas. Masalahnya, itu faktual. Ada beberapa kasus di mana orang sampai harus mati karena ingin populer. Tapi lagi-lagi saya tak ingin menyebutkannya di sini karena persoalan etis. Pada sisi lain, hal yang ingin saya bahas sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan popularitas tapi hanya tentang kasus pertama yang ditangani Sherlock Holmes bersama James Watson, A Study in Scarlet.

Sir Arthur Conan Doyle membuat karya ini berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika saya belum lahir. Bahkan mungkin ketika Presiden Indonesia yang sekarang belum lahir. Sehingga beberapa fakta yang disampaikan Doyle dalam novel tersebut mungkin sudah terdengar basi bagi kebanyakan orang di masa kini. Di era Doyle, Scotland Yard tidak bisa membedakan antara darah korban dan darah hewan yang sudah mengering. Keduanya sama keringnya, sama hitamnya. Selain itu, teknik identifikasi zaman dulu, belum mengenal replikasi DNA, oleh karena itu, mayat yang sudah lama rusak akan sulit dikenali. Namun ada beberapa nilai di kisah Sherlock yang tak pernah lekang oleh zaman. Bahkan saat kisah A Study in Scarlet diadaptasi ke layar kaca di abad ke-21 menjadi A Study in Pink dengan begitu banyak alur yang diubah dan ditambahkan dalam kisah A Study in Pink sehingga nyaris berubah 180 derajat dari kisah A Study in Scarlet, seperti perubahan gender korbannya, makna pesan kematiannya, dan cara mengungkap kejahatannya, namun tetap saja ada beberapa punchline Sherlock dan Watson di masa lalu yang masih tetap relevan untuk digunakan. Seperti perdebatan mereka berdua tentang tata surya, di mana Sherlock ternyata tidak pernah mengetahui kalau bumi berputar mengelilingi matahari. Joke yang ini betul-betul membuatku tertawa hingga nyaris asfiksia. Tapi temanku yang menontonnya justru hanya terdiam. Saya bisa memakluminya karena saat dia menontonnya, tak ada subtitle di sana. Menonton film detektif luar negeri tanpa subtitle adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia, kecuali nilai TOEFL orang yang menontonnya telah mencapai 615 atau minimal dengan IELTS 7. Rintangan bahasa dapat menghilangkan kelucuan sebuah lelucon yang bersifat semantik dan sintaksis. Dan saya yakin, tidak banyak orang yang mengerti apa itu semantik dan sintaksis. Saya asal mencomot kata itu dari Kamus Besar Bahasa Indonesia karena kata-kata itu terdengar intelek. Bagi orang yang jarang membaca, kata semantik akan sama asingnya dengan kata sedat. Keduanya meskipun bahasa Indonesia, terdengar begitu asing di telingaku. Sepertinya saya juga masih jarang membaca.

Kamis, 01 Oktober 2015

Selasa, 30 September 2015: Theologian Fallacy

Saya bangun di pagi ini dengan memikirkan sisa mimpi semalam. Saya lupa detailnya seperti apa tapi nampaknya itu tidak ada kaitannya dengan angka-angka yang bisa dipasang dalam judi porkas. Tak ada naga, ular, kambing, ataupun anjing di situ. Tak ada juga Leonardo DiCaprio di sana, sehingga saya yakin kalau sekuel film Inception belum dibuat sama sekali. Padahal saya berharap Christopher Nolan mau mengambil mimpiku sebagai setting film Inception atau setidaknya sekuel Dark Night yang keempat. Di mimpiku hanya ada serangkaian citra inkoheren yang disertai dialog-dialog antar arketipe yang sulit dideskripsikan oleh fungsi kognitif alam bawah sadarku. Sebetulnya, saya tidak tahu-menahu soal fungsi kognitif di alam bawah sadar. Saya asal menyebutkannya saja agar tulisan ini terkesan ilmiah. Memangnya siapa peduli dengan hal tersebut. Tidak ada juga yang akan membaca tulisan ini. Profesor, doktor, magister, sarjana, calon sarjana, bakal calon sarjana, ataupun janin bakal calon sarjana sudah punya bahan bacaannya sendiri, entah itu berbentuk jurnal, disertasi, tesis, skripsi, broadcast online shop maupun sms promo telkomsel. Pokoknya mereka terlalu sibuk dengan aktivitas intelektual jenis lain yang hanya dapat didefinisikan oleh otak mereka sendiri. Saya tak mungkin mengetahuinya kecuali saya memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Professor Xavier atau Jane Grey. Kemungkinan mereka akan membaca tulisan ini adalah satu berbanding semua bintang di langit malam bulan September. Untuk nilai rincinya, biarkan itu menjadi urusan Tuhan yang menciptakan bintang, tapi itu dengan asumsi dasar bahwa Tuhan benar-benar ada.

Akhir-akhir ini, saya semakin sering menemukan manusia yang tak percaya pada Tuhan. Kalau dulu, mungkin saya akan kaget setengah mati saat mengetahui fakta ini. Tapi sekarang, hal seperti itu sudah terdengar biasa saja. Mendengarkan hal tersebut sudah sama biasanya dengan mendengar orang yang sedang membicarakan tentang nilai rupiah yang anjlok atau harga tahu dan cabe yang melonjak. Tak ada lagi unsur kejutan di dalamnya. Seolah itu telah menjadi hukum alam yang wajib berlangsung, jika hal sebaliknya yang terjadi, justru itu akan menjadi hal yang sangat mengejutkan. Mereka semua punya alasan masing-masing untuk tidak percaya pada Tuhan dan hal tersebut semestinya tidak perlu dikuatirkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Seharusnya kita biarkan saja semua kepercayaan dan ketidakpercayaan pada Tuhan berkembang selama hal tersebut tidak sampai memicu timbulnya Perang Dunia Ketiga. Tidak perlu saling memaksa dan mengolok karena saya tak pernah melihat ada orang beragama yang pindah keyakinan menjadi atheis setelah agama dan Tuhannya diolok, begitu juga sebaliknya, tak ada orang atheis yang jadi mau beragama setelah ada yang mengolok ketidakpercayaannya pada Tuhan. Berdebat adalah tindakan yang kontraproduktif. Mungkin pendapat ini sudah basi tapi saya rasa masih relevan dengan situasi kekinian.

Jika berbicara situasi kekinian, timeline Facebook dan Twitter-ku sudah dipenuhi oleh kampanye rasialis dan partisan. Sejak memiliki keduanya di tahun 2008, saya tidak pernah melihat timeline yang begitu riuh dengan hujatan dan makian yang mengalir deras bagaikan hujan di bulan Februari kecuali saat kampanye presiden dulu. Untungnya sekarang sudah ada fitur untuk menyembunyikan status-status mengganggu tanpa harus menghapus pertemanan walaupun sebenarnya menghapus pertemanan di FB adalah tindakan yang saya rasa lebih masuk akal. Kadang saya berpikir, orang-orang yang berteman dengan saya di FB itu berasal dari planet mana?

Rabu, 30 September 2015

Minggu, 27 September 2015: Evolusi

Enviromentalis sudah terlalu sering meneriakan seruan untuk menghentikan pembuangan limbah plastik di lautan. Saking seringnya mendengar hal tersebut, dalam alam bawah sadar, saya nyaris menjadi enviromentalis juga karenanya. Kekuatan persuasi enviromentalis terlalu kuat untuk ditolak, seperti es krim di musim panas. Apalagi kalau yang melakukan persuasi adalah wanita berusia 20-an tahun dengan senyum manis dan kalimat bernada lembut plus jomblo serta bukan lesbian. Kombinasi yang dapat meluluhlantakan hati karang para pria yang kekurangan perhatian lintas gender. Sayangnya, saya tidak termasuk dalam golongan pria tersebut, jadi, maafkan anomali tersebut. Mengapa para enviromentalis begitu getol mengkampanyekan larangan buangan limbah plastik di laut? Alasan klasik sebenarnya, mahluk laut dan burung laut bisa mati karena plastik-plastik tersebut. Bayangkan jika para ikan tersebut memakan plastik karena mengira itu adalah alga, lalu para burung juga memakan plastik karena mengira itu adalah ikan, dan terakhir, manusia pun memakan plastik karena mengira itu adalah ikan dan burung. Itu pasti akan menjadi sebuah dunia yang indah jika para ikan, burung, dan manusia tidak mati karenanya. Memangnya berapa tingkat insidensi kematian ikan, burung, dan manusia setelah menelan plastik? Tak perlu malu jika tak bisa menjawabnya, karena saya juga tidak tahu jawabannya.

Bukannya bermaksud untuk kontra dengan perjuangan para enviromentalis, namun jika kita percaya pada teori evolusi dan seleksi alam, mahluk dalam laut dan burung laut seharusnya tak punya masalah dengan plastik di laut. Karena pada akhirnya alam akan mempertahankan mahluk yang memiliki gen yang resisten terhadap limbah plastik, sedangkan mahluk yang rentan akan punah dengan sendirinya. Survival of the fittest. Tapi sekali lagi, itu kalau kita percaya pada Darwin. Namun nampaknya manusia tidak bisa menunggu selama itu. Karena proses seleksi alam bersifat time-consuming, kita berbicara soal pewarisan genetika yang memerlukan waktu puluhan hingga jutaan tahun. Manusia sendiri mungkin sudah terlebih dahulu punah sebelum bisa menyaksikan lahirnya ikan dan burung yang bisa memetabolisme plastik.

Terlalu lama di tempat yang mematikan kreativitas ilmiah biasanya akan berkompensasi pada peningkatan kreativitas pada area mistisme. Manusia yang mengalaminya akan mulai menuliskan hal-hal yang out of ideas dan ambivalen, kadang tak terarah seperti tulisan ini. Kita bisa mencampur baurkan persoalan evolusi dan literatur tanpa mempedulikan transisi penulisan yang kasar dan acak. Dalam psikiatri, hal ini disebut sebagai flight of ideas. Hanya penderita hipomania dan mania yang mengalaminya. Namun dalam kamusku, itu disebut lompatan inspirasional. Seringkali, orang awam salah mengartikan hal tersebut sebagai sebuah kegilaan hanya karena mereka tidak bisa memahami gambaran besar dari lompatan inspirasional. Kita tidak bisa menyalahkan orang awam atas ketidakmampuan mereka dalam memahami kepelikan berpikir beberapa manusia tertentu seperti halnya kita tidak boleh menyalahkan segelintir orang yang memiliki keistimewaan dibanding mayoritas manusia yang ada di muka bumi ini.

Banyak orang beragama yang tidak mau mempercayai evolusi hanya karena kitab sucinya tidak pernah menuliskan secara eksplisit kata evolusi di dalamnya. Di kitab injil maupun quran maupun kitab suci lainnya, tidak pernah ada ayat yang mengatakan, "Dan terciptalah Adam dan Hawa melalui proses evolusi". Begitu pula dengan kaum evolusionis yang tak percaya bahwa Tuhan itu ada karena mereka pernah tak bisa melihat atau mendengar Tuhan saat bekerja. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana wujud Tuhan.

Tapi apakah hanya karena alasan itu maka manusia punya pembenaran untuk saling mencerca? Saya mulai terdengar seperti moralis ketika menuliskan hal ini. Terdengar seperti ingin benar sendiri.

Minggu, 27 September 2015

Sabtu, 26 September 2015: Chaos

Kemarin saya sempat menuliskan bahwa psikologi adalah bidang yang cocok untukku, tapi setelah dipikir matang-matang, mungkin itu merupakan suatu kekeliruan berpikir yang trivial. Psikologi bukanlah suatu profesi yang dapat membantuku untuk memprediksi berbagai karakter manusia yang akan kuhadapi di kehidupan sehari-hari. Karena terkadang, dalam hidup ini, kita dapat temukan beberapa jenis manusia yang unpredictable seperti Fyodor Pavlovitch Karamazov, Holden Caulfield, Howard Roark, atau Amy Earhart. Mereka semua unpredictable karena mereka seharusnya hanyalah tokoh fiktif yang ada dalam novel. Hanya saja, ada momen ketika karakter mereka tiba-tiba saja hinggap pada seseorang dalam kehidupan nyata. Dan saat momen itu datang, hanya ada satu ekspresi kata yang dapat merepresentasikannya, awkward.

Waktu kuliah dulu, saya beberapa kali mendapati momen awkward psikologis seperti itu. Salah satunya saya temukan pada diri seorang senior dari Malaysia yang waktu itu menjadi teman kelompok diskusi di blok reproduksi, yang coba kita sebut saja namanya sebagai Freud, tapi karena dia wanita, panggil saja dia Kak Elektra. Awalnya, saya dan seorang rekan seangkatan yang kebetulan juga berjenis kelamin wanita, sebut saja namanya Clair, menganggap bahwa Kak Elektra adalah orang biasa dengan sifat biasa yang biasa dapat ditemukan di tempat-tempat biasa seperti pasar atau lapangan bola. Tak ada kesan psikopat, sinister, atau sejenisnya yang terdeteksi dari aura dirinya, karena saya saat itu saya memang tidak bisa membaca aura, sampai sekarang pun begitu. Lagian, apa itu aura? Intinya, dia tampak 100% normal. Namun, setelah beberapa hari berinteraksi, tepatnya dua hari, saya dan Clair mulai menangkap keanehan dalam diri Kak Elektra. Dia seperti tak mau lepas dari kami berdua. Kemana-mana minta ditemani, ke kantin, perpustakaan, ke kelas, bahkan sampai dalam toilet pun dia meminta agar salah satu dari saya atau Clair, harus menemaninya. Untungnya, dia tak pernah memilih saya untuk urusan yang satu itu. Dan yang paling aneh, dia hanya mau agar ditemani oleh saya dan Clair. Dia tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Padahal saya dan Clair belum sampai satu minggu mengenal Kak Elektra. Setelah berinteraksi selama 8 jam 32 menit 32 detik, saya menangkap kesan inkoherensi dan irelevansi pada setiap kalimat yang dibangun oleh Kak Elektra. Akhirnya saya dan Clair berkesimpulan, ada yang tak beres dengan Kak Elektra. Sebetulnya kisah ini masih panjang. Ada plot di mana Kak Elektra minta ditemani keliling kampus hingga ajakan menginap bareng dan adegan yang melibatkan organisasi mahasiswa Malaysia di Makassar. Tapi saya terlalu lelah untuk mengetik semuanya.

Akhir cerita, Kak Elektra dipanggil oleh orang tuanya kembali ke Malaysia lalu menjalani psikoterapi untuk gangguan bipolar selama satu tahun. Pada dua tahun berikutnya, saya kembali bertemu dirinya di masa koas. Dia sudah sehat dan terlihat lebih gemuk. Dan dia sepertinya sudah lupa dengan kisah petualangan dua hari yang aneh di tahun 2009. Karena saat berpapasan di koridor rumah sakit, tak ada reaksi sedikit pun yang kulihat dari dirinya. Syukurlah. Tak perlu ada awkward moment yang harus kualami. Saya dan Clair pun tidak pernah membahasnya lagi karena saya memang tidak pernah bertemu Clair, entah di mana dirinya saat ini. Terakhir saya dengar dia ada di Papua. Kak Elektra pun sudah menjadi dokter dan dia kembali ke Malaysia dengan bahagia. Darimana saya tahu itu? Saya berteman dengannya di Facebook dan saya sendiri lupa, kapan saya berteman dengannya di media sosial.

Bicara soal media sosial, hari ini resmi ibu saya punya BBM. Setelah puluhan tahun menjalani hidup di bumi, akhirnya ibuku memasuki era teknologi. Dan semua itu terjadi setelah ibuku meninggalkan Nokia 3300 dan berhijrah ke Acer Android. Saat ditelepon dia membicarakan beberapa perubahan dalam gaya hidupnya, seperti dia menginstall program kamus besar bahasa Indonesia dan kamus Inggris sehingga bila ada kata-kata sulit yang didengar atau dibacanya, dia bisa segera mencarinya di kamus. Ada beragam reaksi yang timbul dari modernisasi ini. Adik kedua dan ketigaku tampaknya baik-baik saja dengan kemajuan ini, tapi adikku yang keempat sepertinya mengalami shock culture, padahal yang semestinya mengalami shock culture adalah ibuku. Terlepas dari semua reaksi tersebut, saya merasa lansia yang mau mengembangkan diri agar tak ketinggalan perubahan zaman adalah jenis lansia yang langka. Dan itu patut diapresiasi.

Jumat, 25 September 2015

Jumat, 25 September 2015: Fluke

Stephen Hawking dalam buku Grand Design sepertinya sudah menerima premis bahwa rancangan semesta yang indah dan teratur seperti yang kita tinggali saat ini tidak harus berasal dari seorang atau sesuatu yang pintar, tapi lebih karena suatu mekanisme seleksi alam untuk bertahan hidup dalam periode yang sangat lama. Pada akhirnya alam akan menyusun dirinya sendiri agar dapat mencapai keadaannya seperti saat ini. Mayoritas ilmuwan di Barat percaya akan hal ini. Tak perlu ada Tuhan di semesta ini.

Hanya saja, saya merasa otak saya terlalu kecil untuk mencerna proses rumit penciptaan alam semesta yang tak melibatkan intelligent designer. Dari semua planet yang ada di tata surya ini, mengapa hanya bumi yang memiliki manusia? Mengapa tidak ada alien yang menghubungi kita? Apakah mungkin hanya manusia yang memikirkan hal-hal rumit seperti ini?

Hahaha... saya terbangun di pagi hari dan pemikiran ini tiba-tiba saja muncul. Kata-kata Hawking yang kubaca 4 tahun yang lalu tiba-tiba saja menyambar otakku seperti petir pada pohon yang kering. Metafora yang mungkin terkesan berlebihan, tapi literally, otak yang bertengger di kraniumku saat ini sudah kering kerontang bagai Sahara di bulan Oktober. Jangan tanya seperti apa Sahara di bulan Oktober, saya tidak pernah ke sana. Tapi intinya, sejak saya meninggalkan institusi pendidikan, kemampuan reasoning dan logikaku menurun drastis hingga nyaris mencapai titik nadir. Yang sepertinya berkembang dari diriku saat ini adalah kemampuan berbudaya dan bersosialisasi secara direktif. Keterampilan yang meningkat secara tidak sengaja setelah saya meninggalkan menara gading ilmu pengetahun.

Dulu, saya bercita-cita menjadi ilmuwan agar saya tidak perlu berurusan dengan manusia. Cukup mengurusi makanan tikus, spesimen darah, lendir, dan rangkaian panjang genome, lalu hidup damai hingga akhir hayat. Sayangnya, jalan hidupku berbelok ke layanan sosial yang mengharuskan interaksi dengan manusia lain. Dan akhirnya, di sinilah diriku saat ini. Menjadi manusia di bumi. Dan rasanya cukup menyenangkan hidup seperti ini. Meskipun interaksi dengan manusia lain kadang melelahkan (sebenarnya seringkali), karena harus melibatkan proses membaca perilaku dan antisipasi, setidaknya itu selalu membuahkan kepuasan ketika kita berhasil memprediksi perilaku orang lain seperti membaca sebuah buku yang terbuka.

Mungkin seharusnya saya menjadi psikolog saja.

Selasa, 15 September 2015

Selasa, 15 September 2015

Jika Dagny Taggart dan John Galt memang ada di dunia ini, mereka mungkin akan menyanyikan lagu Arctic Monkeys, Stop The World Cause I Wanna Get Off With You, lalu menghilang ke Atlantis seperti yang mereka sudah lakukan di Atlas Shrugged. Saya merasa Ayn Rand begitu membenci altruisme hingga dia harus menulis Atlas Shrugged dan The Fountainhead untuk memperjelasnya. Menurutnya, kolektivisme adalah hal yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Individu semestinya bebas untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa perlu memikirkan kebaikan kelompok. Nilai tertinggi adalah kebaikan individu. Seseorang tidak boleh mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan publik. Tidak ada yang namanya pengorbanan dalam kamus Ayn Rand.

Saat membaca Atlas Shrugged dan Fountainhead, saya seperti sedang dalam program cuci otak. Semua nilai-nilai yang saya sudah pelajari selama ini, seperti Pancasila, betul-betul bertentangan dengan nilai-nilai yang dipercaya oleh Ayn Rand. Pancasila yang saya kenal selama ini, sangat menekankan pentingnya mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Namun Ayn Rand yang libertarian, sangat mengutuk hal tersebut. Menurutnya, saat individualisme tergilas oleh kolektivisme, maka saat itulah kreatifitas dan kehendak bebas manusia sirna ditelan bumi. Manusia yang inkompeten akan menjajah manusia-manusia yang kompeten atas nama kepentingan publik.

Filosofi Ayn Rand sangat tegas. Tidak ada yang namanya abu-abu di muka bumi ini, semua hanya hitam dan putih. Dia percaya dengan logika Aristoteles mengenai prinsip identitas eksistensi, A=A, kebenaran itu sifatnya absolut. Nilai keabsolutan tersebut bukan berasal dari pendapat mayoritas, wahyu ataupun firman Tuhan, tapi semata berasal dari prinsip eksistensi manusia. Bahwa semua hal benar jika itu sesuai dengan prinsip bertahan hidup manusia.

Dunia ideal yang diinginkan Ayn Rand begitu indah. Sebuah utopia yang mustahil diwujudkan di dunia saat ini. Apalagi semenjak hampir semua orang di dunia ini menjadi pendukung sosialisme baik secara sadar maupun tak sadar.

Sabtu, 12 September 2015

Sabtu, 12 September 2015: Asimetri

Setelah membaca novel Anthem, saya jadi penasaran untuk membaca karya Ayn Rand yang lain. Dari riset kecil yang saya lakukan di dunia maya, saya menemukan bahwa karya paling fenomenal dari Ayn Rand adalah Atlas Shrugged, yang saat ini sedang saya baca. Dari 1227 halaman novel edisi ulang tahun ke-35 ini, 17 halaman depannya terdiri atas sampul, halaman dedikasi, dan mukadimah, dan satu halaman terakhirnya adalah komentar dari penulis sehingga praktis inti novelnya terdiri atas 1209 halaman. Dari semua bab yang ada, Bab This Is John Galt Speaking adalah yang paling panjang. Mungkin karena di situlah inti filosofi yang ingin Ayn Rand sampaikan pada pembacanya.

Sebenarnya, nama Ayn Rand tidak terlalu asing di telingaku. Sewaktu masih kuliah dulu, saya sering membaca karya-karya Libertarian yang mana salah satu pionirnya adalah Ayn Rand. Kebanyakan karya yang saya baca berkaitan erat dengan keengganan para libertarian dan kapitalis untuk melibatkan pemerintah dalam urusan privat warga negara, yang mana hal ini merupakan ekstrim yang berlawanan dengan sosialisme dan Keynesian yang justru menganjurkannya. Sebagai anak ingusan yang tanpa dasar analitik dan referensi yang kuat, perdebatan antara kedua paham ini begitu membingungkanku. Pada beberapa aspek, libertarian dan kapitalismenya terlihat menawan dengan berbagai kebebasan yang ditawarkannya, di aspek lain, sosialisme dan moneteris Keynesian tampak seksi dengan keterlibatan negara untuk menyetarakan kesejahteraan rakyat. Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan semakin sibuknya jadwal jaga serta tugas di rumah sakit, saya mulai kehilangan fokus pada perdebatan kekal antara libertarian, kapitalisme, Keynesian, dan sosialisme. Saya betul-betul tidak peduli lagi dengan bacaan fiksi dan non-fiksi di luar bidang kedokteran. Yang menarik perhatianku bacaan jurnal. Buku bacaan di luar kedokteran yang rutin saya baca sampai selesai selama kuliah hanyalah buku karya J.K. Rowling, Andrea Hirata, Dewi Lestari, Dan Brown, Goenawan Mohammad, dan Dostoevsky. Di antara semua penulis tersebut, Goenawan Mohammad, saya anggap cukup berpengaruh dalam membantuku mempertahankan animo membaca. Saya selalu menyukai Catatan Pinggir yang ditulisnya ketika mengangkat topik mengenai buku atau karya sastra yang pernah dibacanya. Saya kagum dengan kemampuannya mereview sebuah karya sastra, begitu menarik sehingga menghadirkan rasa penasaran untuk ikut membacanya juga. Saya pun bercita-cita untuk bisa membaca semua buku-buku klasik yang pernah dibaca oleh Goenawan Moehamad. Semua penulis yang pernah disebutnya dalam Catatan Pinggir, mulai dari Miguel Cervantes, Hemingway hingga Kafka, saya simpan dalam memori dan berharap suatu hari nanti dapat membaca karya-karya mereka seperti yang dilakukan oleh Goenawan Mohammad. Namun cita-cita itu tersendat karena hingga selesai kuliah saya tak pernah sempat untuk membaca selain jurnal kedokteran yang hampir tiap minggu saya terjemahkan karena ada order dari konsulen, residen, dan koas. Yang terparah, saya tidak punya alokasi dana untuk membeli semua buku tersebut. Buku Hardcover Anna Karenina karya Leo Tolstoy bisa berharga sekitar 100-250ribu, tergantung kualitasnya. Saya terlalu miskin saat itu walaupun sebenarnya saat ini pun, saya tidak bisa dibilang kaya raya karena hingga sekarang saya belum sepenuhnya menjadi mahluk produktif yang independen. Kendala lainnya adalah saya tidak punya kamar khusus untuk menyimpan semua buku-buku itu, kalaupun saya punya uang untuk membelinya. Jika sudah punya uang banyak, saya akan membeli semua buku tersebut dan mencari orang-orang yang mau mendiskusikannya bersama dalam sebuah obrolan santai ataupun forum serius.

Salah satu hal yang paling saya sesalkan dalam pendidikanku di masa lalu adalah saya tidak punya cukup kesempatan untuk membaca karya sastra dari seluruh dunia karena perpustakaan adalah hal yang sulit ditemukan di pulau tempat tinggalku. Saya tidak bisa mengeksplorasi berbagai perspektif lain yang bertebaran di seluruh dunia. Pengetahuan dan perspektif yang kumiliki saat itu hanyalah apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan sekolah dengan berbagai keterbatasannya serta televisi yang tayangannya tak dapat kita pilih sendiri. Dalam dunia seperti itu, hidupku seperti katak dalam tempurung. Itulah masalah utama daerah-daerah yang terisolasi dan terpencil. Masyarakat di sana tidak punya banyak alternatif perspektif. Ada asimetri dalam informasi sehingga mereka seringkali menjadi objek eksploitasi. Karena itu di suatu hari nanti, saya berharap bisa turut berkontribusi dalam mengatasi disparitas informasi. Itu mungkin harapan yang terkesan kosong, namun tidak ada salahnya mencoba.

Kamis, 10 September 2015

Kamis, 10 September 2015: Ayn Rand - Atlas Shrugged

“Money will not purchase happiness for the man who has no concept of what he wants: money will not give him a code of values, if he’s evaded the knowledge of what to value, and it will not provide him with a purpose, if he’s evaded the choice of what to seek. Money will not buy intelligence for the fool, or admiration for the coward, or respect for the incompetent. The man who attempts to purchase the brains of his superiors to serve him, with his money replacing his judgment, ends up by becoming the victim of his inferiors. The men of intelligence desert him, but the cheats and the frauds come flocking to him, drawn by a law which he has not discovered: that no man may be smaller than his money. Is this the reason why you call it evil?"

Buku filosofis materialis dalam balutan novel yang menjelaskan bahwa money is not the root of all evil.

Dari dulu saya berpikir seperti itu tapi tak pernah dapat menemukan penjelasan logisnya. Nanti setelah membaca buku ini barulah saya temukan fondasi penjelasan yang komprehensif.

Bagi penganut paham spiritualis dan altruisme, ini bukanlah buku yang menyenangkan untuk dibaca.

Senin, 31 Agustus 2015

Senin, 31 Agustus 2015: Energy

“I keep thinking of what they told us in school about the sun losing energy, growing colder each year. I remember wondering, then, what it would be like in the last days of the world. I think it would be ... like this. Growing colder and things stopping.”

“I never believed that story. I thought by the time the sun was exhausted, men would find a substitute.”
-Ayn Rand, Atlas Shrugged-

Mungkin tidak terlalu banyak orang di muka bumi ini yang pernah berpikir tentang apa jadinya bumi jika matahari sudah sampai masa kadaluwarsa-nya. Masa itu memang terasa masih jauh jika dipikirkan sekarang. Apalagi akhir-akhir ini matahari menyengat dengan kegarangan yang ekstra-panas sehingga pikiran tentang berakhirnya reaksi fusi nuklir di matahari sepertinya terkesan sebagai dongeng belaka.

Saya bukan fisikawan termonuklir, bahkan untuk jadi fisikawan saja, nampaknya mustahil. Namun tanpa menjadi keduanya pun, saya dapat merasakan bahwa matahari yang kita lihat saat ini, yang menyinari bumi tanpa pernah absen sehari pun selama di khatulistiwa, pasti memiliki ajal. Entah kapan ajal itu datang, hanya matahari dan penciptanya yang tahu. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika masa itu tiba, masih adakah manusia yang akan menyaksikannya?

Dalam novel City at World's End, Edward Moore Hamilton memberikan sebuah kisah distopia tentang masa depan bumi ketika matahari telah menjadi bintang merah raksasa ketika mulai kehabisan energi. Bumi menjadi terlalu dingin untuk dihuni sehingga manusia harus diungsikan ke galaksi lain. Namun ada sekelompok manusia yang berkeras untuk tetap bertahan di bumi. Mereka melakukan segala upaya agar bumi tetap dapat dihuni. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan panas dari inti bumi. Akhir kisah tersebut tidak penting untuk dibahas. Yang patut dijadikan sorotan dalam kisah tersebut adalah semangat bertahan hidup manusia. Mungkin Hamilton termasuk orang yang begitu mengagumi semangat hidup manusia sepertihalnya Ayn Rand. Sesulit apapun keadaan, manusia akan selalu mencari jalan untuk dapat bertahan hidup. Bahkan mungkin ketika matahari mulai redup, bisa jadi manusia akan terus hidup melebihi umur mentari.

Tapi itu hanyalah kisah fiktif yang berasal dari imajinasi penulis. Karena jika menilik ke belakang melalui dokumen sejarah, kita dapat menyaksikan bahwa manusia sedang dalam tahap penghancuran dirinya sendiri. Entah disadari atau tidak, manusia saat ini sedang merusak faktor-faktor yang sebenarnya berperan dalam menjaga kelangsungan hidup mereka. Hutan, laut, udara, telah dirusak oleh produk buangan manusia. Saya tidak bermaksud menjadi enviromentalis atau bersikap hipokrit karena saya menyadari bahwa saya sendiri secara langsung dan tidak langsung turut ambil bagian dalam proses pengrusakan tersebut.

Entah apa solusi terbaik untuk dapat mempertahankan kelestarian umat manusia di muka bumi ini. Karena selalu ada dilema dalam upaya tersebut. Untuk setiap 10 manusia yang hidup, selalu akan ada 10 tumbuhan dan hewan yang dikorbankan.

Minggu, 30 Agustus 2015

Pria dan Dompetnya

-Put-

Hari ini saya membongkar kembali barang-barang milik kakak untuk mencari dompet yang menjadi kado ulangtahun dariku saat dia memasuki usia 22 tahun, kalau tidak salah. Saya memutuskan untuk memberinya dompet karena pada saat itu kondisi dompet yang sedang dia gunakan lebih memprihatinkan daripada persediaan makananku saat memasuki tanggal tua.

Sayang, ternyata kakak bukanlah wanita (karena dia memang bukan wanita) yang membutuhkan baju baru saat merasa baju yang dimilikinya tidak lagi menarik. Dompet pemberianku tidak pernah digunakan, dan dia tetap memilih untuk memakai dompet buluknya. Akhirnya daripada dompet itu kehilangan fungsinya, saya memutuskan untuk menghibahkannya ke kakak yang lain.

Saat mencari dompet itu, ternyata saya mendapatkan 2 dompet lain yang juga sepertinya merupakan kado ulang tahun. Saya tertawa. Mendapat kado dompet sebanyak 3 kali seharusnya sudah bisa membuat dia sadar kalau dompet yang sedang dia pakai sebenarnya sudah layak untuk dimuseumkan.

Tapi apalah daya. 

Sekarang saya percaya kalau kalimat “pria itu makhluk paling tidak peka” yang sering diucapkan wanita bukanlah mitos semata.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Sabtu, 29 Agustus 2015: Lunatic

Kalau dipikir-pikir, melihat bulan purnama seperti yang kulakan saat ini, adalah salah satu momen alam yang langka. Purnama hanya dapat ditemukan sebanyak 12 kali dalam setahun. Memang itu belumlah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menanti datangnya komet Halley yang mampirnya sampai butuh waktu 76 tahun sekali. Tidak semua manusia yang pernah menghuni bumi ini dapat melihat komet Halley. Bahkan seorang Nuh yang konon katanya punya umur sampai 600 tahun pun, mungkin hanya punya kesempatan melihat Halley sebanyak 7 kali. Sehingga saya tak ingin melewatkan kesempatan melihat purnama walaupun hanya sekali. Di usiaku yang sudah seperempat abad lebih lima bulan dua hari ini, semestinya saya sudah melihat 305 purnama. Tapi sepertinya, pengalaman mentalku tidak sampai merekam memori sebanyak itu. Terlalu banyak momen purnama yang kulewati dengan ketidakpedulian pada pekatnya malam atau ketidaksengajaan terkurung di ruangan tertutup.

Purnama yang kulihat malam ini bisa jadi merupakan benda yang sama dengan yang dilihat oleh nenek moyangku dulu ribuan tahun yang lalu. Apakah mereka merasakan kekaguman yang sama ketika mendongakkan kepala ke angkasa malam? Atau hanya saya saja yang.merasakan sentimen seperti itu?

Ada kisah yang menyebutkan bahwa di Inggris masa lalu, sering ditemukan banyak orang yang menjadi gila ketika bulan purnama. Karena itu timbul istilah "lunatic" untuk mengatakan jenis kegilaan itu. Saat itu, orang yang melakukan hal-hal gila yang melanggar hukum di malam bulan purnama tidak ditangkap.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...