Rabu, 07 Januari 2015

Cabs

Semenjak harga cabe mulai berpacu mengejar harga daging sapi yang lebih duluan menembus limit di atas 50.000/kg sejak 5 tahun yang lalu maka sejak saat itulah rasa makanan di warung pondokan tak pernah lagi sama. Kondisi diperparah uppercut harga BBM bersubsidi ketika harga minyak dunia tengah jatuh terpuruk.

Daftar menu warung langganan memang belum di cetak ulang, begitu juga para pegawainya, masih seperti yang dulu, cantik dan lugu. Namun acara kejar-kejaran harga antara cabe, daging sapi, dan BBM bersubsidi telah memberikan dampak besar pada beban produksi ibu pemilik warung. Hal tersebut tercermin dari ketebalan make up-nya yang dulu bisa ditanami jagung, kini ala kadarnya saja dikibaskan ke wajah, asal ada molekul bedak yang lengket. Kebiasaan merokok suami ibu pemilik warung pun mulai berubah dari yang dulunya mengembat Marlboro dua bungkus dalam semalam, kini mereknya berganti jadi GS Filter, yang harganya 7000/bungkus, tanpa cukai, tanpa foto peringatan bahaya merokok. Frekuensi apel anaknya ibu pemilik warung ke pacarnya juga berkurang drastis dari yang dulunya semalam tiga kali, kini jadi seminggu sekali. Entah hal itu terjadi karena harga bensin yang mahal atau karena dia sudah bosan dengan pacarnya. Karena terakhir dia menggerutu kalau pacarnya tidak kesat lagi, entah apa maksudnya. Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian itu adalah ekonomi dapat merubah perilaku seseorang. Uang adalah sebuah kekuatan besar yang dapat mengendalikan umat manusia. Menguasainya dapat membuatmu nyaris mendekati sesuatu yang transenden.
Untungnya, perbedaan perilaku pemilik warung belum terlalu ekstrim hingga membuat rasa ayam berubah jadi rasa udang atau sebaliknya. Hanya saja lidah dan lambung tak bisa bohong. Kurangnya cabe dan porsi telah mengurangi kenikmatan makan.

I'm not a picky in food but when it comes to taste... I'll stand in deliciously side.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...