Jumat, 16 Januari 2015

Eel

Di suatu hari yang hujan namun tiba-tiba mendadak panas, seekor belut melompat keluar dari got yang meluap. Jangan bertanya mengapa bisa ada belut yang melompat keluar dari got, karena menjawabnya, akan sama dampaknya dengan memaksa Nona Pandora membuka kotak larangan Zeus, jadi biarkanlah kisah ini mengalir tanpa pertanyaan itu.

Belut tersebut menggelepar beberapa meter dari got yang biasa dia diami, kebingungan. Mengapa dia bisa melompat keluar dari sana? Mengapa dia harus menggelepar? Mengapa dia harus berpikir seperti ini, ya, seperti ini, bertanya-tanya pakai kata "mengapa"? Padahal daripada membuat pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti itu, mudah saja baginya untuk merayap kembali menuju got asal-muasalnya lalu berdiam diri lagi di sana bersama kubangan sampah buangan manusia dan hewan lain seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Namun hari ini, meskipun masih bernama Jum'at, memiliki rasa yang beda dengan hari-hari kemarin saat semuanya masih baik-baik saja, tanpa acara keluar got seperti saat ini. Ada sesuatu yang lain dengan dunia. Airnya, gotnya, cuacanya, dirinya, semua terasa salah namun belut tidak dapat melakukan apa-apa untuk memperbaikinya. Heraklitus yang pernah lewat dalam potongan-potongan kertas buku filsafat tua mungkin saja benar, bahwa dunia senantiasa berubah. Tapi mengapa dunia harus berubah saat belut itu belum siap? Tak bisakah dunia menunggu dirinya berubah?

Di momen seperti itu, belut teringat lagu Warning Sign yang selalu diputar oleh anak pemilik rumah yang gotnya menjadi latar samping kisah ini. Tiap kali lagu itu diputar dengan keras, yang dirasakan belut saat itu hanyalah nonsense. Namun hari ini, lagu tersebut mengalun intens dalam benaknya, seolah-olah ada iPod di sana yang memutarnya lagi dan lagi. Tiba-tiba saja dia rindu pada anak pemilik got, meskipun mereka tak pernah bicara, rindu pada kecoak dan teman-teman cacing yang kadang-kadang dia makan, rindu pada belut lain meskipun dia tak pernah bertemu mereka. Di momen seperti ini, belut merasa dirinya seperti gelembung-gelembung pecah yang dideskripsikan oleh Chris Martin dalam lirik lagu tersebut, pasrah.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...