Senin, 12 Januari 2015

Refarat Hipopigmentasi Dan Hiperpigmentasi Post Inflamasi



A.    PENDAHULUAN

Warna kulit normal terdiri dari campuran empat biokrom, yaitu; melanin (coklat), hemoglobin tereduksi (biru), oksihemoglobin (merah), dan karotenoid (kuning ; eksogen dari diet). Faktor penentu utama dari warna kulit adalah pigmen melanin, dan variasi dalam jumlah, distribusi, dan jenis melanin (eumelanin dan pheomelanin) melanin pada kulit adalah dasar dari tiga warna kulit manusia utama yaitu: hitam, coklat, dan putih . Eumelanin adalah pigmen utama penghasil warna coklat dari kulit. Pheomelanin berwarna kuning atau merah dan juga diproduksi hanya dalam melanosit . Gangguan kehilangan atau pengurangan pigmentasi mungkin terkait dengan hilangnya melanosit atau ketidakmampuan melanosit untuk memproduksi melanin atau transportasi melanosom.1,2,3

Warna kulit yang  tidak normal  disebabkan oleh ketidakseimbangan pigmen yang disebutkan di atas (misalnya dalam sianosis, chloasma dan carotenaemia) atau oleh adanya pigmen yang abnormal. Kadang-kadang sulit untuk membedakan antara warna pigmen ini, misalnya yang warna coklat merah kekuningan dari haemosiderin dengan melanin. Pemeriksaan histologi mungkin diperlukan untuk menetukan diagnosa . Dalam prakteknya, sebagian besar masalah pigmentasi disebabkan oleh terlalu banyak, atau terlalu sedikit melanin. 4


B.     DEFENSI DAN EPIDEMIOLOGI

1.      Hipopigmentasi Post Inflamasi

Hipopigmentasi atau hipomelanosis post inflamasi adalah depigmentasi pada kulit akibat dari proses peradangan. Banyak kondisi-termasuk  penyakit papulosquamousa seperti dermatitis atopik, dermatitis seboroik, dan psoriasis; gangguan vesiculobullous; penyakit radang seperti jerawat dan lichen planus, penyakit jaringan ikat seperti lupus erythematosus, dan mikosis  fungoides bias mencetuskan keadaan ini. Hipopigmentasi post inflamasi juga terlihat setelah terapi laser nitrogen cair. Hipopigmentasi post inflamasi, lebih berdampak buruk secara psikologis dan prognosis untuk pemulihan pigmentasi normal lebih jelek.5,6

Tabel1. Penyebab Hipopigmentasi Post Inflamasi (7)
1
Penyakit Kulit Inflamasi
Dermatitis Kontak Alergi
Dermatitis Atopik
Graft Kronis vs Reaksi Host
Diskoid Lupus Eritematosus
Reaksi Serangga Gigitan
Lichen Planus
Lichen Striatus
Lymphomatoid Papulosis
Pitiriasis Lichenoides Kronika
Psorias is
Sarkoidosis
Scleroderma
Sindrom Stevens-Johnson
2
Infeksi
Chickenpox
Herpes Zoster
Impetigo
Onchocerciasis
Pinta
Pityriasis Versicolor
Sipilis
3
Terkait prosedur
Chemical Peeling
Cryotherapy
Dermabrasi
Laser
4
Lain-lain
Luka Bakar

2.      Hiperpigmentasi Post Inflamasi 

Hiperpigmentasi post inflamasi adalah kelainan pigmen yang terjadi akibat akumulasi pigmen setelah terjadinya proses peradangan akut atau kronik seperti halnya pada hipopigmentasi post inflamasi.  Hiperpigmentasi post inflamasi  dapat terjadi pada perempuan dan laki-laki, dengan insiden yang sama dengan insiden infeksi, dapat terjadi pada semua usia lebih sering mengenai manusia yang berkulit gelap, karena individu yang berkulit gelap memiliki respon yang cepat terhadap jejas termal, abrasi mekanik, dermatitis dan sebagainya, sebab mereka memiliki melanosit yang lebih banyak. Dalam sebuah survei diagnostik terhadap 2000 pasien Afrika-Amerika yang mencari perawatan dermatologi, diagnosis ketiga yang paling sering adalah gangguan pigmen dimana hiperpigmentasi post inflamasi merupakan diagnosis yang paling banyak.5,6,8

Mosher (1993) dan Fitzpatrick membagi hipermelanosis menjadi hipermelanosis epidermal dan dermal. Hipermelanosis epidermal (hipermelanosis cokelat) terjadi akibat peningkatan melanin di epidermis. Hipermelanosis dermal (hipermelanosis biru, ceruloderma) terjadi akibat penimbunan melanin di dermis. Hipermelanosis epidermal dan dermal dapat terjadi akibat peningkatan jumlah sel melanosit sehingga jumlah melanin meningkat (melanositik) atau akibat peningkatan jumlah melanin tanpa perubahan jumlah melanosit (melanotik/nonmelanosistik).1,8

Tabel2. Penyebab Hiperpigmentasi Post Inflamasi (7)
1
Dermatologic diseases
Acneiform
Papulosquamous
Lichenoid
Psoriasiform
Vesiculobullous
2
Infections
3
Dermatologic therapy
Topical agents
Drug eruptions
4
Cosmetic procedures
Chemical peels
Microdermabrasion
Cryosurgery
Laser therapy
Intense pulse light therapy
Fillers
5
Trauma

C.    PATOMEKANISME

1.      Hipopigmentasi Post Inflamasi

Melanosit dapat bereaksi dengan normal, meningkat atau menurun dalam produksi melanin ketika menanggapi peradangan kulit atau trauma. Kecenderungan kromatik ini ditentukan secara genetik,dan diwariskan secara autosomal dominan. Orang dengan melanosit yang lemah, yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kerusakan, lebih mungkin untuk menderita hipopigmentasi, sedangkan mereka dengan melanosit yang kuat cenderung untuk menderita hiperpigmentasi. Namun,orang berkulit gelap tidak selalu memiliki melanosit yang kuat,dan begitu juga sebaliknya.7

Melanogenesis adalah proses yang kompleks, yang mencakup sintesis melanin, transportasi dan pelepasan ke keratinosit. Hal ini dikendalikan oleh beberapa mediator (misalnya, faktor pertumbuhan, sitokin) yang bekerja pada melanosit, keratinosit dan fibroblast. Melalui pelepasan mediator ini, peradangan kulit dapat menyebabkan penyimpangan melanogenesis. Sebuah studi dikatakan bahwa hipopigmentasi lebih  diakibatkan oleh penghambatan melanogenesis daripada kehancuran melanosit. Namun, peradangan parah dapat menyebabkan hilangnya melanosit atau bahkan kematian melanosit, dan mengakibatkan perubahan pigmen permanen.5,6,7

2.      Hiperpigmentasi Post Inflamasi

Mekanisme hiperpigmentasi post inflamasi terjadi di lapisan kulit epidermal maupun  dermal. Sel-sel inflamasi melepaskan mediator dan sitokin. Menanggapi proses peradangan, mediator asam arakidonat seperti prostaglandin dan leukotrien merangsang peningkatan sintesis melanin dan transportasi ke keratinosit. Peradangan dapat menyebabkan gangguan melanosit dan pelepasan pigmen ke dalam dermis yang mengakibatkan fenomena yang disebut pigmen incontinence.Hal inilah yang kemudian mengakibatkan penimbunan melanosit baik di lapidan dermal maupuan epidermal yang menyebabkan hiperpigmentasi. 5

 

D.    DIAGNOSA

1.      Hipopigmentasi Post Inflamasi

Diagnosis umumnya dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Ukuran dan bentuk lesi hipopigmentasi biasanya berkorelasi dengan distribusi dan konfigurasi dermatosis inflamasi asli, dan warna berkisar dari hipopigmentasi ke depigmentasi.Namun, dalam beberapa kondisi, inflamasi pasien yang mengalami perubahan pigmen yang sama, digambarkan sebagai cincin hiperpigmentasi , diikuti oleh kerak seperti wafer, hipopigmentasi dan akhirnya resolusi dalam waktu 2 minggu sampai 6 bulan.Hipomelanosis biasanya berdampingan dengan lesi inflamasi, tetapi kadang-kadang hanya lesi hipopigmentasi yang terlihat, misalnya pada sarkoidosis atau mikosis fungoides. Depigmentasi lengkap paling sering terlihat setelah pasien menderita  dermatitis atopik parah dan diskoid lupus eritematosus. 5,6,7

Pemeriksaan Wood dapat membantu membedakan antara hipopigmentasi dan lesi depigmented. Selain itu, mungkin membantu untuk menyingkirkan beberapa diagnose lain. Histopatologi dari hipopigmentasi post inflamasi menunjukkan temuan yang nonspesifik seperti penurunan epidermal melanin, derajat infiltrasi variabel lymfositikyang dangkal, dan adanyamelanophages pada dermis atas. Selain itu, mungkin adabeberapa bukti histopatologi yang dapat membantu untukmenegakkan diagnosis penyebab hipopigmentasi post inflamasi, seperti pada lupus eritematosus.7

Gambar 1Hipopigmentasi post inflamasi lupus eritematous.(1)

 

2.      Hiperpigmentasi Post Inflamasi

Mengambil anamnesis menyeluruh adalah langkah pertama yang paling penting dalam diagnosis. Anamnesis keluhan utama dari pasien termasuk tanda gelap, bintik-bintik gelap, warna kulit tidak merata, dan perubahan warna. Pasien dengan PIH memiliki mendasari inflamasi kulitkondisi yang mungkin klinis atau subklinisatau riwayat traumaLesi atau makula hiperpigmentasi ditemukan disekita lesi inflamasi, diagnosis hiperpigmentasi post inflamasi sangat jelas. 5,8

Pemeriksaan klinis dimulai dengan menilai batas, bentuk, dan kedalaman pigmentasi, ditunjang oleh penggunaan dermatoscope atau lampu Wood. Jika melanin terdeposit di epidermis, lesi cenderung cokelat, tapi melanin di dermis menyebabkan lesi berwarna abu-abu atau abu-abu - biru gelap.Di bawah lampu Wood, lesi epidermal berbatas tegas bila ditekan.5,8

Gambar 2. Hiperpigmentasi post inflamasi pada pasien akne (8)


E.     PENATALAKSANAAN

1.      Hipopigmentasi Post Inflamasi

Pengobatan melibatkan identifikasi dan mengobati penyebab yang mendasarinya. Selama peradangan masih berlanjut, repigmentation tidak mungkin terjadi. Setelah penyebab yang mendasari secara efektif diobati, hipopigmentasi yang biasanya membaik seiring waktu.5,6

Aplikasi dua kali sehari dari steroid topikal potensi sedang  dalam kombinasi dengan preparat  berbasis tar.  Steroid dapat mempengaruhi sel inflamasi yang bertanggung jawab untuk peradangan , sementara tar  dapat menyebabkan melanogenesis.Aplikasi dua kali sehari 1 % pimecrolimus krim selama 16 minggu. Tingkat perbaikan selama 2 minggu pertama setelah penggunaan pertama. Aplikasi topikal dari 0,1 % 8 - methoxypsoralen , 0,5-1 % tar batubara atau anthralin diikuti oleh paparan sinar matahari dapat membantu dalam memulihkan pigmen.7

Berbagai regimen photochemotherapy topikal (topikal psoralen UVA, PUVA) seperti aplikasi topikal dari 0,001- 0,5% 8-methoxypsoralen di aquaphor atau salep hidrofilikke daerah yang sakit  selama 20-30 menit, diikuti oleh UVA 1-3 kali per minggu pada dosis awal 0,2 - 0,5 J / cm2 , ditingkatkan 0,2-0,5 J / cm2 perminggu. Excimer laser 308  nm dapat digunakan untuk merangsang pigmentasi lesi hipopigmentasi, dan memiliki tingkat respon 60-70 % setelah sembilan perawatan dua kali seminggu . Namun, pengobatan selanjutnya teratur diperlukan setiap 1-4 bulan untuk menjaga hasil .  Untuk lesi yang luas, narrow-band UVB fototerapi atau oral PUVA dapat digunakan 2-3 kali seminggu. 7

Dalam lesi depigmented dengan kerusakan total melanosit, cangkok epidermal atau melanosit dapat dipertimbangkan.  Berbagai metode kamuflase termasuk  make-up, produk penyamakan dan tato mungkin menjadi alternatif pilihan.5,6,7


2.      Hiperpigmentasi Post Inflamasi

Prinsip dasar pengobatan  hiperpigmentasi post inflamasiyaitu:8

a)      Mengelola atau mengendalikan kondisi kulit yang mendasari peradangan

b)      Hentikan semua iritasi potensial seperti parfum, kosmetik,  astringen, witch hazel, dan alkohol

c)      Sunscreen dan sun protection untuk semua pasien, diutamakan  yang mengandung zink  atau sunblockberbasis titanium untuk menghindari iritasi.

d)     Kesabaran

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan hiperpigmentasi post inflamasi, termasuk lokasi pigmen (epidermal atau dermis), perawatan yang memadai dari setiap penyakit radang mendasari, kepatuhan pasien, dan respon terhadap pengobatan.

Tabel 3.  Terapi Topical untuk Hiperpigmentasi Post Inflamasi(5,8)

Penyebab
Dosis
Waktu untuk menimbulkan efek
Single agent
Tretinoin
Akne, shaving, ekzema,ringworm hair, folliculitis
Sekali sehari
4 minggu
Tazarotene
Akne
0.1% krimsekali sehari
10 minggu
Hydroquinone
Semua jenis
4%-8% krimsekali sehari
1-3 bulan
Azelaic acid
Semua jenis
krimkulit kering
gel untuk kulit berminyak
1-3 bulan
Methimazole
Luka bakar asam
5% sekali sehari
6 minggu
Combination
4% HQ + 0.15% retinol
Melasma and PIH
 2 kali sehari
12 minggu
2% mequinol + 0.01% tretinoin(phase IV trial
Solagé) vs. 4% of hydroquinone
PIH
Sekali hingga 2 kali  sehari
12 minggu
Azelaic and glycolic
acid
Melasma,
PIH, idiopathicmelanosis, drug-inducedhyperpigmentation
Azelaic acid20% cream andglycolic acidlotion vs hydroquinone 4%
24    minggu

Tabel 4. Terapi Chemical Peelsuntuk Hiperpigmentasi Post Inflamasi(8)

Peels
Metode
Frekuensi
Jumlah Pengobatan
Spot peel
TAC 25%,Jessner’s solutionsalicylic acid
Q-bulan
Banyak
Salicylic acid
30% SA in absoluteethanol
3 bulan
24
Glycolic
Glycolic peel with68% maximumconcentration
Q bulan
6

F.     PROGNOSIS

Hipopigmentasi minimal biasanya sembuh dalam  beberapa minggu, tapi hipopigmentasi parah dan depigmentasi terkait dengan lupus eritematosus, scleroderma atau luka bakar mungkin memerlukan beberapa tahun untuk menjadi repigmented, dan tidak menutup kemungkinan untuk permanen.7

Pada hiperpigmentasi epidermal membutuhkan waktu 6-12 bulan untuk memudar, sedangkan hiperpigmentasi epidermal mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Kondisi peradangan yang mendasari, jika tidak diobati, dapat mengakibatkan lesi yang baru.5





Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...