Minggu, 11 Januari 2015

Refarat Seksualitas Dalam Kehamilan

1.     Pendahuluan
Hak seksual termasuk dalam kebebasan seluruh individu untuk mencapai standar kesehatan tertinggi dalam hubungannya dengan seksualitas dan untuk mendapatkan kepuasan, keamanan, dan kesenangan dalam kehidupan seksual (definisi WHO, 2002). Fungsi seksual adalah aspek yang sah dalam dunia kedokteran yang digambarkan secara jelas dalam deklarasi hak seksual diatas. Penelitian klinik dan sampel dari berbagai negara menegaskan bahwa banyak laki-laki dan perempuan menyatakan kehidupan seksual adalah salah satu hal yang penting. Memberikan informasi kepada pasien tentang perubahan seksual normal yang terjadi selama masa pubertas, kehamilan, postpartum, menopause, dan usia tua adalah salah satu bagian rutin dalam obstetri dan ginekologi. Hal yang paling efektif dalam mengintegrasikan fungsi seksual pasien adalah dengan rutin bertanya mengenai riwayat seksual pasien. 1,2,3

Di dunia ini manusia dan hewan akan lenyap dari permukaan bumi apabila mereka oleh alam tidak dibekali dengan naluri untuk berkembang biak demi untuk meneruskan keturunan. Dorongan/ keinginan untuk bersetubuh disebut libido seksualis (nafsu birahi, nafsu syahwat). Ini dapat disamakan dengan keinginan untuk makan (lapar) dan minum (haus). Seksualitas mempunyai arti jauh lebih luas dari istilah koitus. Seksualitas adalah reaksi dan tingkah laku seksual yang didasari dan dikuasai oleh nilai – nilai kehidupan manusia yang lebih tinggi, tidak seperti pada hewan. Hewan bersetubuh semata – mata atas dorongan naluri birahi. Pada manusia seksualitas dapat dipandang sebagai pencetusan dari hubungan antar individu, di mana daya tarik rohaniah dan badaniah menjadi dasar kehidupan bersama antara dua insan manusia. Dengan demikian dalam hubungan seksual tidak hanya alat kelamin dan daerah erogen yang memegang peranan, melainkan juga psikik dan emosi.  4
Respon seksual normal bervariasi dari satu wanita ke wanita lainnya sepanjang kehidupan wanita. Seorang dokter harus menyadari mengenai norma seksual dari pasien mereka, sikap, dan peduli terhadap kehidupan seksual mereka. Memulai komunikasi terbuka dengan pasien mengenai kehidupan seksual mereka membuat dokter dapat memberikan nasihat mengenai masalah seksual sebagai bagian dari kesehatan reproduktif.2,3

2.     Pengaturan Perilaku Seksual Pada Wanita
Kehidupan seksual pada anak remaja di Amerika serikat telah meningkat selama 20 tahun terakhir. Usia rata – rata untuk senggama pertama kali baik pria dan wanita adalah 16 tahun. Pada usia 19 tahun, sekitar ¾ wanita telah bersenggama. Sebuah survei terhadap pria dan wanita usia antara 18-59 tahun di USA dilaporkan bahwa kebanyakan pria dan wanita telah puas dengan kehidupan seksual mereka bahkan apabila frekuensinya tidak sering. Sekitar 47% dari wanita memiliki aktivitas seksual dengan pasangan mereka beberapa kali per bulan, ditaksir 31% dari mereka punya aktivitas seksual 2-3 kali per minggu, dan 7% lebih dari 4 kali per minggu. Dua belas persen dari wanita beraktivitas seksual beberapa kali dalam setahun, dan sekitar 3% tidak pernah beraktivitas seksual. Kebanyakan pria dan wanita menyatakan bahwa mereka adalah monogami. 2
Frekuensi hubungan kelamin (koitus) sangat bervariasi: rata – rata 1-4 kali seminggu bagi orang-orang berumur 30-40 tahun. Koitus menjadi makin jarang dengan meningkatnya umur. Pada wanita libido meningkat dalam masa reproduksi sampai dicapai umur 35 tahun, kemudian menetap sampai umur 45 tahun, dan dapat bertahan sampai jauh setelah menopause. Pada pria puncak libido dicapai pada umur 20-30 tahun dan libido bertahan sampai umur 50 tahun, kemudian berangsur kurang, akan tetapi tetap ada sampai umur lanjut. 4
Komponen perilaku seksual, dorongan bersenggama dan rangkaian kejadian yang berperan dalam diri pria dan wanita yang menyebabkan aktivitas senggama diregulasi sebagian besar dalam sistem limbik dan hipotalamus. Istilah lobus limbik atau sistem limbik diberikan pada bagian otak tepi jaringan korteks sekeliling hilus dari hemispherium serebri yang terdiri dari : amygdala, hypocampus, dan nuclei septal. Bagian-bagian ini dihubungkan dengan korpus mamilare dan sirkuit tertutup yang rumit disebut sirkuit Papez5.
Korteks limbik merupakan bagian korteks serebri yang secara filogenik paling tua dan secara histologi dinamai dengan allokorteks dan jukstallokorteks, sedang bagian nonlimbik lainnya dinamai neokorteks. Percobaan rangsangan dan ablasi bagian nonlimbik lainnya dinamai neokorteks. Percobaan rangsangan dan ablasi menunjukkan bahwa sistem limbik ini berperan utama dalam penciuman dan perilaku makan serta bersama dengan hipotalamus berperan dalam mengatur perilaku seksual, emosi kemarahan, perasaan takut dan motivasi. Implantasi sejumlah kecil estrogen di dalam hipotalamus anterior menyebabkan birahi pada tikus betina yang telah diooforektomi sedang implantasi bagian lain otak dan di luar otak tidak mempunyai efek ini. Sehingga jelas sejumlah unsur dalam hipotalamus sensitif terhadap estrogen yang bersirkulasi untuk memulai perilaku seksual5.
Pada manusia, neokorteks bertumbuh cepat sekali meninggalkan sistem limbik sehingga sekalipun secara struktur tidak ada hubungan sama sekali tetapi fungsi seksual telah diensefalisasi secara luas dan dipengaruhi oleh faktor psikis dan social. Rangsangan seksual pada wanita bergantung pada rangsangan psikis dan lokal. Rangsangan psikis merupakan dorongan seksual yang sukar ditafsirkan dan dipengaruhi juga oleh hormon seks dan hormon korteks adrenal. Pengaruh pendidikan dan lingkungan sangat besar, masyarakat sering beranggapan bahwa seks merupakan sesuatu yang harus disembunyikan, tabu, bahkan tidak bermoral dengan akibat wanita sering menutupi naluri alamiahnya dengan alasan budaya.  Perangsangan lokal pada wanita terjadi karena sentuhan, penekanan atau rangsangan lain pada daerah perineum, organ seksual dan saluran kemih, klitoris merupakan area sangat sensitif dan mempunyai jaringan erektil yang hampir identik dengan penis. Impuls sensoris seksual melalui nervus pudendus, pleksus sakralis ke medulla spinalis lalu ke serebrum. Sedang jaringan erektil diatur oleh saraf parasimpatis yaitu nervi erigentus yang juga menyebabkan sekresi kelenjar bartholini bilateral sehingga timbul pelumasan. Bila rangsangan lokal mencapai intensitas maksimum dan disokong isarat psikis yang sesuai dari serebrum akan timbul refleks yang disebut orgasme. Otot perineum kontraksi berirama dan uterus berkontraksi akibat keluarnya oksitosin dari hipofisis anterior. Kesan seksual yang mendalam timbul melalui serebrum sedemikian rupa sehingga menimbulkan perasaan puas dan ditandai oleh perasaan tenteram dan damai yang disebut resolusi5.
      
3.     Fisiologi seksual wanita
Terdapat Beberapa fase dari respon seksual wanita, diantaranya keinginan, kebangkitan, dan orgasme diikuti oleh relaksasi. Bagaimanapun, pada wanita fase – fase tersebut bervariasi antara satu dengan yang lain. Pada wanita yang sudah memiliki pasangan hidup, kebanyakan wanita memulai aktivitas seksual dengan pasangan mereka atau menerima ajakan pasangan mereka tanpa adanya keinginan seksual terlebih dahulu. Penelitian kualitatif telah menjelaskan banyak alasan seorang wanita dalam menerima ajakan seksual termasuk kedekatan emosional dengan pasangan mereka, suasana romantis, dan alasan yang lebih spesifik adalah alasan erotis. Alasan lainnya termasuk ingin meraih perasaan yang lebih baik, lebih normal, lebih dicintai, dan lebih berkomitmen dengan hubungan mereka. Keinginan seksual, contohnya fantasi seksual, pengalaman positif dari hubungan seksual, dan kebutuhan secara spontan adanya pasangan seksual atau stimulasi seks, memiliki frekuensi bervariasi diantara wanita. 1


Ada hal yang tidak boleh dilakukan dalam hubungan seks di masa kehamilan : 11
·         Meniup udara ke dalam vagina pada saat melakukan oral seks karena dapat menyebabkan emboli udara yang berbahaya buat ibu dan janin.
·         Melakukan hubungan seks dengan pasangan yang memiliki penyakit menular seksual seperti herpes, kutil genital ataupun positif HIV. Penyakit seperti ini akan berakibat fatal untuk janin.
Hubungan seks sebaiknya tidak dilakukan pada kehamilan resiko tinggi seperti :
·         Riwayat keguguran
·         Riwayat kelahiran prematur atau gejala yang menunjukkan terjadinya kelahiran prematur seperti kontraksi uterus
·         Pendarahan dalam vagina yang tidak diketahui penyebabnya
·         Cairan amnion yang kurang
·         Plasenta previa
·         Serviks yang lemah dan dilatasi prematur
·         Kehamilan kembar
Posisi hubungan seks yang disarankan untuk wanita hamil adalah posisi yang tidak menekan mulut rahim antara lain: 9
-          Pria di atas tapi miring ke salah satu sisi atau bertahan dengan lengan agar berat badannya tak menekan wanita.
-          Wanita diatas tapi hindari penetrasi yang dalam.
-          Pria duduk di kursi atau tempat tidur dan wanita berada di atasnya. Selain tak membebani kehamilan, posisi ini juga memudahkan wanita mengatur irama hubungan sekaligus mengurangi tekanan dinding rahim.
-          Pasangan berbaring menghadap satu arah dengan posisi wanita di depan pria. Penetrasi dilakukan pria dari belakang.
-          Wanita dalam posisi lutut-siku (menungging). Penetrasi dilakukan pria dari belakang.

 
11.  Kesimpulan
·          Seksualitas memiliki arti yang jauh lebih luas dari istilah koitus, merupakan pencetusan dari hubungan antar individu yang menjadi dasar kehidupan bersama antar dua insan manusia.
·          Fungsi seksual adalah aspek yang sah dalam dunia kedokteran. Baik laki-laki dan perempuan menyatakan kehidupan seksual adalah salah satu hal yang penting.
·          Terdapat Beberapa fase dari respon seksual wanita, diantaranya keinginan, kebangkitan, dan orgasme diikuti oleh relaksasi.
·          Umumnya, keinginan seksual wanita tidak berubah atau menurun secara drastis pada trimester pertama kehamilan, dan akan menurun secara tajam pada akhir trimester ketiga. Kondisi ini bervariasi antara satu wanita dengan wanita lainnya terutama di trimester kedua.
·          Banyak penelitian mengungkapkan tidak ada hubungan antara komplikasi kelahiran (kematian perinatal, kelahiran preterm, ruptur membran prematur, bayi berat lahir rendah) dengan aktivitas koitus atau frekuensi orgasme.
·          Keuntungan dari aktifitas seksual selama kehamilan jarang diteliti, tetapi ada satu penelitian yang menemukan bahwa aktifitas seksual dan kesenangan selama kehamilan dihubungkan dengan makin meningkatnya stabilitas hubungan antara pasangan.
·          Terdapat beberapa situasi dimana ibu hamil sebaiknya membatasi hubungan seks antara lain perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya, wanita yang memiliki riwayat keguguran atau ancaman keguguran, ataupun pasangan yang menderita penyakit menular seksual.
·          Posisi koitus yang disarankan buat ibu hamil adalah posisi yang tidak menekan dinding rahim, yaitu :
-           Women on top (she goes up)
-           Side by side (down side)
-           Spooning (man behind women, rear entry)
-           Rear entry (dog style)
-           Edge of the bed

DAFTAR PUSTAKA

1.      Gibbs, Ronald S, Karlan, Beth Y., Haney, Arthur F., Nygaard, Ingrid E. Women’s Sexuality and Sexual Dysfunction Dalam Danforth’s Obstetrics and Gynecology 10th edition. Lippincott Williams and Wilkins. 2008. Hal. 743-8.
2.      Berek, Jonathan S., Sexuality, Sexual Dysfunction, And Sexual Assault Dalam Berek and Novak’s Gynecology 14th Edition. Lippincott Williams and Wilkins. 2007. Hal. 314-22.
3.      Curtis, Michele G., Overholt, Shelley, Hopkins, Michael P. Women and Sexuality Dalam Glass Office Gynecology 6th Edition. Lippincott and Williams. 2006. Hal. 561-4.
4.      Winkjosastro, Hanifa, Prawirohardjo, Sarwono. Seksologi Dalam Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. Hal 588-605.
5.      Guyton AC. Fungsi Reproduksi Prakehamilan Pada Wanita dan Hormon Wanita. Dalam : Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC. 2007. Hal 1064-79
6.      Winkjosastro, Hanifa, Prawirohardjo, Sarwono. Perubahan Anatomik dan Fisiologi Wanita Hamil. Dalam : Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007. Hal 89-100
7.      Guyton AC. Kehamilan,Laktasi, serta Fisiologi Fetus dan Neonatus. Dalam : Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC. 2007. Hal 1080-94
8.      Widiasmoko, Samuel. Perilaku Kegiatan Seksual pada Wanita Hamil. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2000
9.      Reece, E. Albert, Hobbins, John C. Sexuality In Pregnancy And The Postpartum Period In Clinical ObstetricsThe Fetus And Mother. Australia : Blackwell Publishing Asia. 1999. Hal. 1016-8.
10.  Indrawan, Jhonsen. Jangan Takut Menikmati Seks Saat Hamil. [Cited 25 November 2012].: http://www.tanyadokteranda.com/seksualita/2008/07/jangan-takut-menikmati-seks-saat-hamil
11.  Anonymous. Hubungan Seks Saat Hamil, Amankah. [Cited 25 November 2012]. Available From : http://majalahkesehatan.com/hubungan-seks-saat-hamil-amankah/
 

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...