Rabu, 25 Februari 2015

Everlasting Romance

Entah berapa lama cinta dapat bertahan. Di 1Q84, para tokoh utamanya dapat mempertahankan cinta hingga 20 tahun lamanya meskipun mereka tak pernah saling bertemu dan mencari. Di kehidupan nyata, mungkin tak ada cinta yang seperti Murakami deskripsikan. Karena cinta seperti itu terlalu abstrak untuk diraih. Tak terjamah oleh panca indera. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mungkin seorang manusia dapat mencintai sesuatu yang tak pernah lagi dijumpainya? Seorang kawan pernah berkata, cinta itu harus memiliki, buat apa mencintai jika pada akhirnya tak harus memiliki. Cinta yang tak harus memiliki hanya ada di lagunya Ungu. Namun yang jadi masalah, bagaimana kita bisa memiliki sesuatu yang tak pernah dijumpai atau disentuh?
Nalarku tak sampai.

Saya jadi ingat salah satu pertemuan manajemen yang pernah saya ikuti. Di pertemuan itu, terjadi perdebatan mengenai CSR perusahaan. Satu kubu meminta agar CSR sebaiknya diarahkan pada pembangunan infrastruktur, seperti masjid, jalan, tapal desa, dan semacamnya. Mereka berpendapat bahwa dengan program CSR seperti itu maka nama perusahaan dapat terpampang di banyak tempat, mulai dari masjid, toilet, sampai jalan desa. Masyarakat dapat bisa langsung melihat dan merasakan bentuk fisik kontribusi perusahaan ke masyarakat. Itu bisa jadi promosi yang baik untuk perusahaan. Kubu lainnya lebih fokus untuk melakukan program CSR yang bertujuan untuk membangun mentalitas penduduk di sekitar perusahaan melalui beasiswa pendidikan, pemberian penghargaan pada siswa-siswa beprestasi, pelatihan kewirausahaan untuk masyarakat, program pemberdayaan warga untuk menciptakan desa bersih, dan semacamnya. Argumen kedua kubu cukup kuat dan rasional. Terasa seperti perang antara empirisme yang dapat diraba-rasa (diwakili oleh tim CSR infrastruktur) dengan idealisme yang abstrak (diwakili oleh tim CSR revolusi mental). Saya tidak mengikuti lebih jauh perdebatan mereka yang alot karena saya sibuk dengan membalas BBM teman (ini jangan dicontoh, kecuali giliran presentasimu telah selesai dan keberadaan atau ketiadaan dirimu tidak akan merubah kesimpulan topik yang sedang dibahas dalam rapat). Entah jurus apa yang telah digunakan dalam perdebatan itu namun pada akhirnya diputuskan bahwa tim CSR revolusi mental memenangkan pertarungan. Sepertinya itu ada kaitannya dengan pernyataan "Pembangunan mental seratus anak lebih baik dari pembangunan 1000 rumah. Saat ini mungkin kita tak dapat merasakan manfaat dari pembangunan mental namun dalam jangka panjang, anak-anak yang telah terbangun mentalnya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kemungkinan besar dapat mengubah dunia. Anggap saja ini sebagai perjudian. Dan kartu As kita adalah anak-anak itu."

Lalu apa kaitan rapat itu dengan cinta? Sulit untuk menjelaskannya dalam kata-kata, kapabilitas semantik-ku terbatas dan pengalamanku di lautan yang bernama cinta masih jauh dari palungnya. Baru sebatas kecipratan, belum pernah tercebur apalagi sampai merenanginya. Hanya saja, kalau harus memilih antara positivisme Comte dan idealisme Descartes dalam urusan cinta, idealisme terlihat lebih sederhana dan hemat. Kita tak butuh bukti dan materi. Pikiran telah menjawab semuanya. Bayangkan, berapa banyak biaya yang dapat dihemat dengan idealisme, apalagi jika semua orang menjadi stoik.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...