Senin, 09 Maret 2015

Aktualita

Kata seorang teman, menikah bukan lagi menjadi isu yang aktual untuk orang-orang seusia kami. Karena isu tersebut semestinya sudah tuntas sejak 5 tahun yang lalu. Saat hormon sedang dalam puncak pasang dan gelombang hasrat sedang mencapai level tsunami. Sekarang yang harusnya dibahas adalah berapa jumlah anak yang harus diproduksi, bagaimana cara mengurus cicilan rumah, mau sekolah di mana anak-anak, arisan bulanan, dan segalah urusan rumah tangga lain. Medio dua puluhan bukanlah periode yang tepat untuk menelaah hakekat kelajangan.

Tapi hendak dikata, zaman telah memperlambat aktualitas biologis dan sosiologis. Saat ini, kita kesulitan untuk menghidupkan suasana masa lalu, di mana para pria dan wanita dapat menikah sebelum usia beranjak ke angka dua puluh. Meskipun beberapa kali saya menemukan pasien wanita yang mengkonsultasikan soal kehamilan keduanya saat mereka berusia 18 tahun, tapi itu hanya dapat saya temukan di daerah pelosok yang masih jarang tersentuh oleh teknologi. Yang jamak saya ditemukan di daerah berteknologi adalah para wanita tanggung usia U-19 yang justru berlomba-lomba menggugurkan kandungan. Entah dari mana mereka dapat ilmu pengguguran kandungan, tapi seringkali mereka datang dalam kondisi sudah berdarah-darah karena berbagai kausal. Dan ini aktual. Kebanyakan para pemuda-pemudi zaman sekarang seperti tidak lagi peduli dengan institusi pernikahan. Padahal prosedur menikah itu sangat simpel. Cukup ke KUA, habis masalah.

Tapi budaya mengajarkan pada kita, semua hal simpel seperti pernikahan, tidak boleh dibuat terlalu simpel. Harus dipersulit sedemikian rupa. Harus ada adat yang ribet dan menjengkelkan agar para pemuda-pemudi tidak terlalu ngebet menikah lalu fokus pada pendidikan dan karir. Begitu anak sudah hamil di luar nikah, panik menyerang. Saat umur sudah terlalu senja dan kelajangan masih jadi status di FB, panik mencekam. 

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...