Jumat, 13 Maret 2015

Ghosting

Mengapa cinta dan kasih sayang dapat menghilang dari hati seseorang? Pertanyaan ini terus-menerus menghantuiku selama bertahun-tahun. Sebetulnya tidak sepenuhnya menghantui, karena saya tidak sampai mati ketakutan ketika pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul seperti hantu di dalam kepalaku saat saya sedang berjalan kaki, makan, membaca, atau mandi. Tapi tetap saja, pertanyaan itu cukup mengganggu karena sampai sekarang saya tidak tahu jawabannya. Itu bukanlah jenis pertanyaan yang jawabannya sudah terpatri secara tekstual dalam buku seperti, "Mengapa seseorang bisa demam?" atau "Mengapa kita bisa nyeri ulu hati ketika terlambat makan?"

Saya sering menemukan kisah cinta yang berbalik menjadi kebencian dan dendam kesumat. Namun menurutku, bentuk terburuk dari akhir sebuah romansa adalah indifference, seperti yang diungkapkan oleh Goetye dalam lagu Somebody I Used To Know. Dalam kebencian dan dendam kesumat, orang yang pernah dijadikan teman interaktif dalam cinta, masih menghuni tempat khusus di hati meskipun mungkin ornamen penghias tempat itu telah berubah dari bunga menjadi duri. Namun dalam kasus indifference, tidak ada special place, tidak ada ornamen, hal-hal macam itu lenyap. Saat mencapai tahap ini, melihat masa lalu tidak ada lagi bedanya dengan melihat lalu lintas di pagi hari dari sebuah bis damri. Afek datar. Mungkin dalam kasus ini, waktu memainkan sebuah sulap yang rumit dalam hati manusia hingga semua hal yang dulunya terlihat indah menjadi biasa saja.

Kalaupun tak bisa melawan waktu, saya berharap dapat membekukan momen, mengawetkan apa yang sedang kurasakan saat ini. Karena rasa ini terlalu menyenangkan jika harus dihapus oleh waktu.

Saya mulai terdengar seperti pecandu endorphine ketika menuliskan paragraf di atas.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...