Minggu, 01 Maret 2015

Ritual Kehidupan: Lari

Dalam dua hari terakhir sepertinya energiku lebih banyak terbuang untuk mengukur panjang jalan seputaran Unhas. Sudah lama tidak berlari memutari kampus ini. Dua atau tiga bulan ya? Lupa. Kalau dulu yang lebih banyak terlihat berseliweran di jalanan saat pagi dan sore hari adalah para pria gondrong yang kemungkinan besar adalah mahasiswa jomblo yang kompensasi kesepiannya adalah berlari keliling Unhas untuk mengusir kekosongan hati atau para mahasiswa baru yang dipaksa senior untuk melakukan bina jasmani. Wanita yang mau lari keliling Unhas di masa itu pada umumnya hanyalah mereka yang muak dengan jarum timbangan yang arahnya selalu ke ekstrim kanan, sedangkan mereka yang berberat badan ideal pada umumnya sibuk meronce, merenda, atau kencan entah itu di mal yang jaraknya super-jauh dan mahal, atau di lokasi murah meriah seperti danau dan semak-semak.

Namun kini zaman telah  berubah. Berlari di seputaran Unhas tidak lagi seperti dulu. Disparitas gender dan emansipasi wanita terlihat jelas di era baru ini. Yang gondrong, yang metroseksual, yang obesitas, ideal, underweightMungkin sudah ada revolusi mental di sini atau tren atau apapun itu. Intinya, wajah jalanan Unhas di pagi dan sore hari tidak lagi monokrom. Ibarat smartphone, resolusi jalanan Unhas kini sudah mendekati Quad-HD. Niat para pelari di sini pun sudah beragam, ada yang niatnya memang Lillahi ta'ala demi mendapatkan kesehatan, ada yang sekedar check in saja agar eksis di media sosial, ada juga yang niatnya berkonspirasi dengan mahluk gaib, seperti cuci mata untuk melihat hal-hal yang tidak boleh dilihat atau mengambil hal-hal yang bukan miliknya. Sulit untuk menentukan niat tiap orang yang berlari, kita hanya bisa melakukan observasi.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...