Senin, 23 Maret 2015

Seluleritas

Dulu saya pikir saya bisa menjalani hidup tanpa harus menggunakan telepon genggam. Hingga tahun pertama kuliah, paradigma itu tidak berubah. Namun begitu memasuki tahun kedua, semuanya berbalik jadi 180 derajat. Sulit melepaskan diri dari seluler. Banyaknya tugas dan kegiatan yang membutuhkan keterikatan dengan telepon genggam telah membuatku menjadi manusia seluler. Hampir tiap detik hidupku, diisi oleh seluler. Entah itu untuk menelepon, sms, media sosial, atau sekedar impulsivitas keposesifan belaka.

Derajat kedekatanku pada seluler nyaris mendekati kedekatan lem korea pada sol sepatu. Sehari tidak bertemu, rusaklah sol sepatunya.


Bahkan saat ke Rammang-rammang pun, saya harus berfoto di bawah provider seluler. Padahal ada begitu banyak objek yang bisa dijadikan sasaran tembak kamera. Ada begitu banyak lokasi untuk melakukan pose. Saya justru memilih berada di bawah banner provider. Namun sebenarnya, kesadaran dan keterikatan individualistisku pada seluler tidak sepenuhnya mengambil peran sentral dalam terciptanya pose tersebut, sebab peristiwa tersebut nampaknya dipengaruhi oleh kesadaran kolektif, seperti kata Nietzsche, kekuatan crowd lebih besar dari kekuatan seorang manusia. Karena bukan hanya saya yang terlibat dalam sesi pengambilan foto tersebut. Ada banyak kepala di sana yang kemungkinan besar saling mempengaruhi dan menguatkan sehingga pose di bawah banner dapat terwujud. Ada kemungkinan, kami semua yang berada di foto tersebut mengalami sindrom yang sama. Sindrom Keterikatan Dengan Seluler. Kami secara sadar dan mungkin juga secara alam bawah sadar, tergerakkan untuk selalu dekat dengan semua hal yang beraroma seluler. 

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...