Minggu, 22 Maret 2015

Time

“Humans see time as a straight line. It’s like putting notches on a long straight stick. The notch here is the future, the one on this side is the past, and the present is this point right here. Do you understand?” “I think so.” “But actually time isn’t a straight line. It doesn’t have a shape. In all senses of the term, it doesn’t have any form. But since we can’t picture something without form in our minds, for the sake of convenience we understand it as a straight line. At this point, humans are the only ones who can make that sort of conceptual substitution.”

Kita berdua telah mensubtitusi semua hal yang kita kenali agar dapat mencerna hal-hal baru yang masuk ke pikiran tanpa harus menghapus ingatan-ingatan lama yang sudah terlanjur mengakar dan mengambil banyak tempat dalam brankas memori kita. Kita sudah sepakat bahwa memori primordial tersebut terlalu berharga untuk dicerabut sedangkan hal baru yang kita rasakan dan dapatkan sebenarnya hanyalah pengulangan dari semua peristiwa yang terjadi di masa lalu. Dirimu pernah bertanya, apakah mungkin kesenangan dan kesedihan yang dirasakan di zaman Adam tidak jauh berbeda dengan apa yang kita rasakan saat ini, seperti kebahagiaan yang dirasakan Adam saat bertemu Hawa, suka cita ketika mereka memiliki Qabil dan Habil, ataupun kesedihan ketika Qabil dan Habil terpaksa bertikai yang berujung pada kematian salah satu dari mereka. Saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena pengetahuan kita mengenai kehidupan di masa itu begitu terbatas.

Namun saya percaya bahwa kemanusiaan memiliki warna emosi yang sama meskipun latar budayanya begitu beragam. Budaya hanya mengubah jalan dan pemicunya, namun hasil akhirnya sama. Saya merasa bahwa saat ini, jalan nasib berliku yang sedang kita berdua tapaki sebenarnya hanyalah cetakan jalur lama yang juga pernah dijejaki oleh orang-orang sebelum kita. Mereka bisa saja menjadi petani, raja, atau pedagang, seperti halnya kita yang menjadi pertapa dan penipu, terlihat berbeda secara asal namun kita semua memiliki hasrat dan tujuan yang sama untuk mencapai kebahagiaan.

Mari kita sudahi tulisan absurd ini dengan sebuah titik. Kutipan dari Haruki Murakami di atas hanyalah ornamen untuk keabsurdan di artikel ini. Seperti hiasan dinding perak buatan Venesia yang dipajang di ruang tamu seorang pemabuk yang kedatangan pemabuk yang lain. Indah, namun tidak menjadi topik utama pembicaraan orang yang ada di situ.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...