Kamis, 18 Juni 2015

Densetsu no Saigo-he (Spoiler Alert)


-Put-

Bulan puasa siang hari di Desa Kayuloe Barat. Di tengah-tengah pengerjaan TOR POA program kerja KKN PK Angkatan 50. Karena bosan (capek lebih tepatnya) merangkai kata untuk latar belakang program kerja, saya memutuskan untuk melanjutkan tontonan film yang berhari-hari tertunda, Rurouni Kenshin “Densetsu no Saigo-he”. Ini merupakan live action dari ending anime Samurai X yang diperankan oleh cowok dan cewek cakepnya Jepang. Bukan, saya bukannya malas mencari nama mereka, hanya saja saat menulis postingan ini, saya tidak sedang dibekali oleh sinyal 2G atau 3G apalagi 4G untuk melakukan searching. Lagipula, saya rasa pemilihan kata “cowok dan cewek cakepnya Jepang” cukup representatif untuk menggambarkan pemeran film ini. 

Kecuali Sishio. 

Dan Inspektur Saito.

Terakhir kali saya menonton anime Samurai X adalah saat saya masih ingusan, dalam artian sebenarnya. Sehingga saat menonton Rurouni Kenshin “Densetsu no Saigo-he”, yang muncul di pikiranku adalah “Oh, endingnya dulu seperti ini kah?” 

Karena di film ini, endingnya berlatarkan di atas kapal. Sedangkan seingatku, latar ending dari Samurai X adalah di salah satu istana Sishio. Final battlenya juga cukup membuatku harus berusaha keras mengorek sudut tergelap dari memori otakku, karena munculnya Inspektur Saito, Sano, dan Aoshi yang turut berperan dalam menyerang Sishio. Sedangkan seingatku (lagi), saat itu cuma ada Sishio dan Kenshin. Tapi entahlah. Saya juga tidak terlalu berharap pada diriku di masa kecil dalam mengingat sesuatu, mengingat diriku yang di masa sekarang pun tidak mempunyai ingatan memori baik jangka pendek apalagi jangka panjang yang cukup baik. 

Film ini secara garis besar cukup bagus. Walaupun di beberapa adegan pertarungan Kenshin dan Sishio, saya sedikit menyayangkan kenapa Kenshin harus memakai katana bermata terbalik. Padahal beberapa kali katananya mengenai Sishio, dan itu cukup untuk mengakibatkan luka fatal di badan Sishio. Saat Sishio bertarung melawan Sano juga. Seharusnya Sishio bisa dengan mudah membunuh Sano dengan katananya. Namun entah kenapa saat melawan Sano, Sishio lebih banyak menggunakan tangan kosong daripada katana. Mungkin karena Sishio berusaha untuk bertarung secara adil dengan hanya menggunakan tangan kosong melawan Sano yang memang bukanlah seorang samurai. 

Atau mungkin hal ini memang disengaja agar durasi filmnya bisa sedikit lebih panjang.

Sishio memang sedikit mempesona di film ini. Terlebih saat dia menggendong wanitanya yang telah dia bunuh sambil mengatakan “Tunggu aku di neraka”. Bukan kata-kata penghantar kematian yang manis memang, tapi entah kenapa saat menonton adegan itu saya merasa Sishio sangat romantis. Tipikal wanita.

Walaupun yang saya nonton adalah langsung ke bagian live action dari endingnya, film ini tetap cukup untuk mengurangi kerinduanku akan Samurai X. Anime pertama yang saya tonton sampai tamat.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...