Sabtu, 20 Juni 2015

Gravitasi, KLL

In a lecture that Einstein gave in Kyoto in December of 1922, he told the paudience that one day he was sitting in a chair at the patent office in Bern when, suddenly, a thought came to his mind. If someone fell from the roof of a house, he wouldn’t feel his weight. He wouldn’t feel gravity. That was “the happiest thought of my life,” he said.

Saat jatuh, kita tidak lagi merasakan gravitasi. Semua beban di dunia rasanya terlepas. Saya pernah mengalami hal ini, saat tertabrak motor di usia 3 tahun. Entah mengapa memori saat saya melayang sesaat setelah tertabrak motor masih teringat jelas di pikiranku. Saat itu lebaran idul fitri dan saya beserta keluarga hendak berkunjung ke rumah nenek. Ketika menyeberang jalan, saya berlari dan di momen yang sama, sebuah motor melaju di jalur yang hendak saya seberangi. Dan terjadilah peristiwa fisika di situ. Dua buah massa dengan kecepatan berbeda saling bertubrukan yang menghasilkan campuran antara rasa ngeri dan takjub yang berkelebat jelas di otakku. Semuanya terjadi begitu cepat hingga saat menyentuh tanah, gravitasi kembali menunjukkan kuasanya. Saya kesakitan, menangis, dan pingsan lalu tersadar kembali begitu sampai di rumah sakit. Entah kenapa di usia 3 tahun saya sudah memiliki ingatan tentang berbagai film atau tayangan televisi. Saya pernah nonton tv tentang orang yang kecelakaan lalu saat sampai di rumah sakit, kaki orang itu diamputasi. Dan citra tayangan itu tiba-tiba saja muncul di otakku begitu saya melihat para wanita yang berbaju putih, tiang infus, dan brankar rumah sakit. Secara otomatis, otak 3 tahunku langsung mengenali tempat itu sebagai rumah sakit yang di dalamnya ada kemungkinan orang akan diamputasi kalau mengalami kecelakaan. Dan saya sepenuhnya tahu persisa kalau saya baru saja mengalami kecelakaan. Dan begitu menyadarinya, saya langsung meronta-ronta dan menangis. Orang-orang dewasa yang ada di rumah sakit mungkin berpikir bahwa saya meronta dan menangis karena kesakitan, padahal sebenarnya saya melakukannya karena ketakutan pada prosedur amputasi padahal kalau ditilik secara medis, ngapain mengamputasi pasien kalau tidak ada indikasi. Tapi mana ada pikiran seperti itu bisa timbul ketika usiamu masih 3 tahun. Rasa takutku pada amputasi melebihi rasa sakit yang menderaku. Mungkin saat itu otakku sudah agak rusak. Bukan karena hantaman dari kendaraan bermotor dan gravitasi tapi sudah terlanjur rusak karena tayangan televisi.

Syukurnya, efek kecelakaan itu tidak begitu hebat. Saya dipulangkan ke rumah oleh pihak rumah sakit. Mungkin karena saya terlampau liar mengamuk sampai pihak RS merasa lebih baik dipulangkan saja atau karena hal lain, entahlah...
Yang pasti saat itu, saya tidak sempat dirawat inap. Langsung dipulangkan. Selama di rumah, saya tidak bisa berjalan selama beberapa bulan. Saya menjalani rehabilitasi di rumah nenek secara mandiri dengan dibantu oleh keluarga sampai akhirnya saya bisa berjalan dan bahkan berlari lagi.

Sejak kejadian itu, saya jadi trauma kalau harus menyeberang jalan. Apabila ada jembatan penyeberangan yang masih terlihat mata, biarpun jaraknya 1-2 km, saya akan tetap menuju ke sana untuk bisa menyeberang ketimbang harus memotong jalan berjarak 5 meter yang penuh dengan seliweran kendaraan. Safety first.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...