Kamis, 25 Juni 2015

Jumat, 29 Mei 2015

Jam 6 pagi. Saya mendengar lagi satu kabar kematian. Seorang ibu berusia 50-an tahun meninggal setelah menderita penyakit TBC yang cukup berat. Padahal pada pukul 23.00 di tanggal 28 Mei 2015 (semalam), saya dan Ebid baru saja melakukan kunjungan home care ke rumah pasien tersebut. Kami mengunjunginya di tengah malam buta setelah anak pasien mengetuk pintu kamar kami dan mengatakan infus pasien macet. Saat home care, selang infus pasien sudah lepas dari abocath, bekuan darah tampak di ujung aboucath dan botol infus pasien telah kosong. Awalnya kami berniat untuk memasang lagi infus baru, namun kami melihat pasien sudah tidak sesak lagi dan bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa daerah. Selain itu menurut pengakuan keluarga, pasien sudah tidak muntah lagi dan kuat makan serta sesaknya mulai berkurang sehingga kami tidak lagi memasang infus. kami hanya menginformasikan hasil pemeriksaan sputum pasien, rencana pemberian OAT, serta memberikan konseling nutrisi mengenai cara pemberian makan agar pasien tidak muntah lagi dan konseling sanitasi mengenai pentingnya jendela rumah yang dapat diterobos cahaya matahari agar dapat membunuh kuman TB.

Sebelumnya pasien telah dipasangi infus selama 2 hari karena pasien sangat kurus, sesak, tidak mau makan, dan sering mual serta muntah. Pasien tersebut telah mendapatkan antibiotik spektrum luas, beta agonis, penetral asam lambung, dan antimual. kami hanya bisa memberikan antibiotik spektrum luas karena di PKM tidak ada antituberkulosis. untuk mendapatkan antituberkulosis, pasien harus ke kota Ba'a di Pula Rote dan wajib ada hasil pemeriksaan BTA positif. Pewarnaan BTA tidak bisa dilakukan dilakukan di PKM karena tidak ada reagen Ziehl Nielsen, listrik, dan mikroskop. Analis kesehatan, Jur, sebenarnya sudah mengambil dan memfiksasi sputum sewaktu-pagi-sewaktu (SPS) pasien tersebut sejak 4 hari yang lalu. Slide sputumnya telah dikirim juga di Ba'a namun hasilnya baru diketahui sore kemarin (28/5/2015).

Meskipun kami sudah mengetahui hasilnya bahwa pasien postifi TBC sejak kemarin lewat SMS, tapi kami belum bisa mengganti antibiotik spektrum luas dengan obat antituberkulosis (OAT) karena obatnya baru bisa dikirimkan pada hari Senin, saat jadwal kapal dari Ba'a ke Ndao. Padahal, jika pasien dapat diperiksa sputumnya lebih cepat dan OAT tersedia, mungkin ceritanya bisa lain. Tapi kita hanya bisa berandai-andai, ajal ditentukan oleh yang Mahakuasa.

Sesehat apapun seorang manusia, tidak ada satupun yang punya kompetensi untuk hidup abadi.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...