Selasa, 23 Juni 2015

Kamis, 28 Mei 2015

Jam 4 subuh, 4 hari telah berlalu sejak tulisanku yang terakhir. Ada begitu banyak kejadian yang telah berlangsung beberapa hari terakhir ini.  Ingin rasanya menuliskan semuanya secara berurut sesuai runut kronologis. Namun, apa hendak dikata, Oppo dan Zenfone kehabisan daya karena 3 hari tidak diisi ulang. Hidup di daerah yang sulit listrik, sinyal, dan air tawar seperti di sini butuh kelihaian khusus dalam menangkap peluang. Sayangnya, dalam 3 hari terakhir ini, peluang untuk mengisi ulang baterai terkendala oleh jarak dan kedukaan. Faktor jarak adalah determinan absolut yang hanya bisa ditebas oleh tekad kuat untuk berjalan jauh mencari rumah yang memiliki genzet. Sedangkan faktor kedukaan adalah variabel tak terduga yang benar-benar sulit dikendalikan.

Mengapa kedukaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi? Karena meskipun kita sudah memiliki tekad kuat untuk mencari genzet, pada akhirnya tekad itu dapat luluh jika jalur untuk menuju genzet, ternyata harus melewati rumah duka. Jadi, semenjak berada di Pulau Ndao, telah terjadi beberapa kali kematian.

Kematian pertama yang terjadi adalah kematian salah satu warga di Desa Ndao konon karena kanker mulut stadium lanjut, sudah mendapatkan perawatan di Kupang, namun karena tidak ada perubahan hingga keluarga memutuskan untuk merawatnya saja di kampung halaman. Namun pasien tidak pernah tampak datang ke PKM sejak kami berada di sini. Datang ke PKM pun sebenarnya kami ragu kalau pasien akan mendapatkan pelayanan yang optimal karena fasilitas sangat terbatas. Kematiannya terjadi ketika sedang berlangsung pesta pernikahan di desa yang sama. Ironis. Dan saat itu saya dan kawan-kawan sedang berada di pesta pernikahan.

Kematian kedua sebenarnya terjadi di Kupang, namun jenazahnya dibawa ke Ndao. Oma berusia 108 tahun dengan 8 anak, 46 cucu, 23 cicit, serta 2 buyut. Kematian yang tergolong wajar. Tidak banyak manusia yang mencapai usia hidup seperti itu.

Kematian ketiga terjadi lagi di Kupang. Seorang Oma juga, namun usianya baru separuh dari Oma yang kedua. Penyebab kematiannya adalah kanker rahim. Oma yang ini sempat dirawat di PKM selama 2 hari namun selanjutnya dirujuk karena kondisinya semakin memburuk. Jenazah Oma ini dibawa bersamaan dengan jenazah Oma yang pertama dari Kupang ke Ndao.

Kematian keempat, seorang Oma lagi. Tinggalnya bersebelahan dengan PKM. Oma yang ini tidak punya anak, sehingga dia hidup sendirian di rumah. Dia ditemukan sudah tidak sadarkan diri di kamar yang terkunci dari dalam oleh cucu saudarinya. Kami dipanggil untuk melihat kondisi Oma tersebut. Saat diperiksa, Oma tersebut memiliki indikasi terserang stroke hemoragik karena tekanan darahnya yang sangat tinggi, 210/110 mmHg, yang disertai penurunan GCS hingga ke skor. Kami tidak bisa melakukan apa-apa pada Oma ini karena kami keterbatasan alat dan obat. Kami hanya bisa memasang infus, memberikan antihipertensi sublingual, dan melakukan suction manual untuk mengeluarkan lendir yang menghalangi jalan napas serta injeksi nootropik vitamin B. Kami ingin melakukan perujukan namun kondisi pasien belum stabil, apalagi perjalanan yang ditempuh harus melewati selama 2-4 jam tergantung jenis kapal. Parahnya kapal laut hanya punya jadwal keberangkatan senin dan kamis pagi, sedangkan hari kejadiannya adalah Senin, 25/5/2015. Simalakama. Oma ini akhirnya meninggal tanpa bisa  dilakukan penanganan yang optimal di fasilitas yang lebih lengkap.

Kematian kelima, adalah yang menurutku paling miris. Karena pasiennya adalah neonatus berusia 2 hari. Dia dilahirkan oleh dukun saat kami datang dipanggil, kondisi berat bayi lahir rendah (BBLR) sekitar 2100gram, tali pusarnya dipotong pakai silet bekas, lalu potongan tali pusar sisanya diolesi dengan sirih pinang yang telah dikunyah. Parahnya, neonatus BBLR ini sudah dimandikan. Lengkap sudah penderitaan.

Disempurnakan lagi, ibu bayi baru bersalin untuk pertama kalinya ini, mengalami prolaps uteri pasca-salin. Rahim si ibu turun hingga keluar dari vagina. Kemungkinan besar saat bersalin ada yang mendorong perut ibut terlalu kuat sehingga organ pelvis seperti rahim juga ikut terdorong keluar. Ditambah lagi si ibu masuk kategori kekurangan energi kronik (KEK) sehingga kekuatan ligamen pengikat rahim mengalami penurunan yang dratis dan tidak kuat menahan tekanan intra-abdominal yang tinggi.

Semoga tidak ada lagi kematian yang tak wajar di tempat ini.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...