Jumat, 26 Juni 2015

Rabu, 24 Juni 2015

Sudah lama tidak menulis.
Ada kendala nonteknis. Listrik sulit. Baru sempat charge ponsel tadi siang, meskipun hanya 64%. Sampai sekarang, masih ada bagian otakku yang tak mampu mencerna keminiman landmark zaman peradaban modern dalam hidupku meskipun saya sudah menjalaninya selama 2 bulan. Mereka berteriak dalam hening, apa yang kau lakukan di sini. Listrik nihil, sinyal sulit, jauh dari peradaban, mengapa kau harus ke sini, masih banyak hamparan bumi yang lain, masih banyak kehidupan yang lain. Jauh dari rumah, keluarga, dan teman-teman dekat, journey to the uncertainty. Karena diteriakkan dalam keheningan, maka jawaban yang datang hanyalah bisu. Sepertinya ada juga sepotong diriku yang mati rasa dan tak peduli lagi pada apapun. Mereka setiap saat berbisik, whatever happen, happen. Dan potongan inilah yang nampaknya lebih banyak mendominasi keseharianku saat ini.
Oh ya, saya baru gunting rambut. Sisa kumis dan brewok yang belum.

Ada lagi warga meninggal. Seorang oma berusia 98 tahun. Dua minggu lalu saya mengunjunginya dan oma itu mengalami candidasis oral dan susp. tumor colli. Ada benjolan pada daerah leher yang telah membesar hingga ke daerah telinga. Entah itu tumor jinak atau ganas, sulit untuk memastikannya karena kita butuh sarana biopsi. Yang pasti, saat itu Oma kesulitan menelan dan benjolannya membesar dengan cepat. Sehingga dugaanku, itu adalah tumor ganas atau kanker. Untuk kondisi seperti itu, sebenarnya oma harus dirujuk ke Rumah Sakit yang berfasilitas lebih lengkap. Tapi Ndao jauh dari mana-mana, jauh dari peradaban. Untuk merujuk pun, harus dibawa ke RSUD Ba'a, sedangkan di sana hanya ada dokter spesialis mata dan patologi klinik. Tak ada dokter spesialis THT ataupun bedah. Lagipula untuk merujuk, butuh biaya transportasi laut-darat dan pasien dalam kondisi tidak stabil untuk perjalanan laut. Jadi, pasien hanya di-home care saja dengan fasilitas dan obat seadanya sambil berharap datangnya keajaiban.

Tapi keajaiban itu tak datang. Pada akhirnya Oma itu meninggal di usia nyaris seabad.

Kematian meskipun merupakan peristiwa yang sifatnya pasti dan akan dialami oleh semua orang, tapi tetap saja, sulit untuk diterima oleh manusia begitu ajal datang menyapa. Dia seperti petugas penarik pajak, yang tidak diharapkan kedatangannya, namun tanpanya, negara tidak dapat berjalan dengan semestinya. Maksudku, kematian itu seperti mekanisme alam untuk memastikan bumi dan manusia tetap lestari. Bayangkan saja jika tak ada satupun manusia yang mati sejak zaman dulu kala. Dunia yang kita huni mungkin tak akan lagi sama. Selalu ada makna dibalik peristiwa meskipun makna itu kadang atau justru seringkali dipaksakan agar manusia dapat memahaminya. Karena ada banyak peristiwa yang terjadi di luar nalar kekinian, mungkin butuh teknologi masa depan untuk dapat menalarinya. Sambil menunggu datangnya teknologi itu, maka manusia hanya bisa mereka-reka, menebak, mengapa dan bagaimana suatu peristiwa dapat terjadi. Saya tidak bermaksud untuk menjadi mahluk filosofis dalam tulisan ini meskipun saya punya kesempatan dan hak untuk melakukannya di semesta tulisan.

Ini salah satu contoh tulisan flight of ideas. Anggap saja saya  sedang terlarut, seperti gula dalam secangkir air panas ketika sedang menulisnya.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...