Senin, 27 Juli 2015

Posthumously

"Senior doctor dies lonely death at Sewri Hospital after being denied leave for drug resistant TB strain by civic body BMC.

BMC count of TB cases maybe actually 400% lesser than health department’s records

49-year old Dr. Suresh Vaze contracted a drug resistant strain of TB from a patient he treated. He was denied leave for the much required treatment by BMC (Brihanmumbai Municipal Corporation) leading to his admission at the very hospital he served at. He was unaccompanied at the time of death. His wife and one of two daughters, who contracted XDR TB from Dr Vaze, were forced to leave him in May. A physician who attended to him said, Dr Vaze lost motor function a fortnight ago. He suffered organ failure and both his lungs had collapsed. “He was like a dead body. He’d stopped eating and stopped reacting to people,” said a doctor, requesting that his name be withheld. “It was painful to see a colleague with whom I worked for 15 years waste away. And what made it worse was that he died a lonely death.”

Dr Vaze who was infected in 2011, continued to work at the hospital while receiving the stipulated six month course of treatment. As per BMC policy an employee who is undergoing treatment for TB must return to work if his or her sputum tests negative for the disease – which is redundant because the subject’s test would return negative in the midst of treatment.

Dr Vaze continued to treat over 30 multi drug resistant TB cases a day and in 2012 was diagnosed as infected by that strain – rendering him immune to second line drugs. He began treatment for MDR-TB and, in keeping with BMC’s policy, was told to return to work when his sputum tested negative. He was infected with XDR-TB in April last year, a mycobacterial infection that requires at least two years of sustained treatment. The BMC would only grant him six months of leave, from which he had used up half.

In October, Mumbai Mirror ran the third of a series of articles on Dr Vaze, inducing the BMC to amend its leave policy for doctors infected with TB. The city corporation now grants medical staff full paid leave for treatment, irrespective of the duration. Since then, Dr Vaze continued to be treated at Sewri TB Hospital – he lived in the staff quarters within the precincts of the facility. His wife and 18-year-old daughter left home after they contracted the disease from him. “He locked himself up after they went away. He was depressed. He lost over 20 kilos in the last two months,” a doctor said.

“When he stopped coming to the hospital for treatment, I sent over a DOT [Directly Observed Treatment] provider to visit his home but he refused to take his medication,” said Dr Rajendra Nanaware, medical superintendent at the hospital. “We informed his wife and she visited him but couldn’t stay because she too is battling the disease.”

Dr Vaze was declared dead at 6.20 pm on Monday. His wife and daughters were present at the funeral. “The wife and daughter are responding well to treatment,” Dr Nanaware said."

Rasanya sedih saat membaca berita tersebut. Meninggal karena penyakit yang didapat saat sedang merawat pasien bukanlah pilihan kematian yang menyenangkan. Tapi sebagai seorang praktisi kesehatan tidak memiliki banyak kemewahan pilihan untuk menolak hal tersebut. Tiap saat, praktisi kesehatan dapat tertular penyakit dari pasien yang dirawatnya. Apalagi jika bekerja di Indonesia di mana skrining penyakit infeksi dan kultur organisme masih menjadi hal yang mahal. Ditambah lagi, prinsip safety first masih jarang diterapkan di lapangan. Masyarakat masih menganggap risih seorang dokter yang memeriksa pasien dengan menggunakan masker dan sarung tangan. Mereka menganggap bahwa dokter yang menjalankan konsep safety first seperti itu sebagai seseorang yang tidak sopan, tidak menghargai pasien. Akhirnya, banyak dokter dan tenaga kesehatan lain yang termakan oleh kerisihan tersebut.

Mengubah paradigma masyarakat dan praktisi kesehatan mengenai safety first merupakan hal utama yang harus dilakukan saat ini. Namun untuk melakukannya, kita harus menempuh jalan yang teramat panjang dan butuh waktu yang sangat lama. Mungkin beberapa orang yang membaca ini sudah mati terlebih dahulu sebelum paradigma masyarakat berubah. Tapi tetap saja, hal tersebut patut dicoba.

Kamis, 23 Juli 2015

Dessin Humoristique

Rasanya seperti sudah seabad saya tidak menulis. Terlalu lama libur dan kelimpahan jaringan telah membuatku lupa pada kesenanganku di masa lalu ketika sinyal dan listrik begitu terbatas.
Entah kenapa saya merasa otakku jadi makin bodoh dalam beberapa tahun terakhir dan dia pun mulai enggan bekerja dalam tempo cepat. Mungkin saya sudah terlalu tua padahal saya baru mengintari matahari sebanyak 25 kali putaran.
Kemarin saya baru dari Gunung Fatuleu.

Kamis, 16 Juli 2015

Kamis, 16 Juli 2015: Mudik adalah Sebuah Kisah Imajinatif yang Nyata

Mudik berasal dari bahasa yang saya tidak tahu sumbernya dan arti azalinya pun saya tak paham. Namun saya bisa menduga jika itu berasal dari bahasa Jawa karena budaya Indonesia terlampau didominasi oleh proses Jawanisasi entah via media atau pemerintah sehingga kata mudik pasti tidak jauh dari area geografi Sunda besar, Sunda kecil, dan sekitarnya. Dan apabila ditilik dari aktivitas yang dilakukan, kemungkinan besar akar mudik memiliki makna azali yang tidak jauh dari istilah migrasi ke kampung halaman.

Saya malas melanjutkan tulisan ini.

Hari ini untuk pertama kalinya dalam 2 bulan terakhir, saya keluar dari Ndao. Tujuan awalnya adalah mudik ke Pulau Muna. Tapi harga tiket melambung super-tinggi. Jadi, nanti saja.

Rabu, 15 Juli 2015: Bathing

Hari ini saya tidak sahur karena alarm tidak bunyi. Terkadang, kita memang tidak bisa mempercayakan urusan hidup dan mati seperti bangun sahur pada teknologi. Pada manusia pun tak boleh. Jadi harusnya pada siapa? Pada Yang Maha Kuasa? Atau diri sendiri? Itu tergantung pada preferensi ideologimu.
Akibat tidak sahur, saya jadi malas melakukan aktivitas lain, termasuk mandi di dalamnya. Lapar dapat mengubahmu menjadi sesuatu yang berbeda dengan dirimu yang biasanya. Meskipun sebenarnya, biasanya juga saya malas mandi sejak zaman dulu kala. Saya tidak mengerti, mengapa orang harus mandi pagi dan sore hari, malah ada juga yang malam hari. Padahal, mandi tidak mengubah ketampanan ataupun kecantikan seseorang. Tidak ada satupun orang yang jadi lebih cantik setelah mandi. Jika mandi memang dapat membuatmu lebih cantik atau tampan, maka operasi plastik tidak akan pernah terlahir di muka bumi ini. Buat apa buang-buang uang dengan membuat sayatan dan suntikan di kulit bahkan penghancuran tulang jika ternyata kombinasi air, sabun, dan gosokan badan dapat melakukan hal yang setara. Di situlah kadang saya tak mengerti dengan logika mandi di dunia ini. Padahal air mandi tersebut dapat ditransformasi menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih produktif, lebih bersifat vital, seperti minum, menyiram sayur dan buah, atau untuk mengisi pistol-pistol air.

Tapi sebenarnya mandi memiliki utilitas lain yang lebih penting. Membersihkan diri dari kuman dan kotoran yang menempel di kulit setelah seharian beraktivitas. Tapi kalau begitu mandi sore atau malam saja sudah cukup. Mengapa harus mandi lagi saat pagi? Tak perlu dijawab. Itu pertanyaan retoris. Jika sedang mood, saya mungkin akan mandi 2 kali atau 10 kali per hari. Tapi hari ini, mood itu sedang terbang entah kemana. Sehingga bukannya mandi, saya justru mengetik artikel ini. Selamat mandi bagi yang merayakan.

Selasa, 14 Juli 2015: Insignificant

Entah apa kejadian bermakna di hari ini. Rutinitas biasa. Entah layak atau tidak untuk dituliskan.

Rabu, 15 Juli 2015

Selasa, 14 Juli 2015: Forcing

Di setiap sudut jalan Ndao, kita dapat menemukan anjing berkeliaran secara berkelompok, namun beberapa tampak soliter karena mungkin sedang PMS atau memang antisosial. Khusus untuk anjing-anjing yang solider, hobi jalan keroyokan, saya mengamati fenomena yang persis seperti fenomena yang terjadi pada manusia. Pada umumnya, para anjing tersebut tampak setia kawan ketika tidak ada makanan di sekitar mereka. Saling jilat, saling garuk, dan saling cium adalah kegiatan yang lazim ditemukan pada para anjing solider ketika masa-masa tenang berlangsung. Badai datang saat makanan terhampar di hadapan mereka. Semua keakraban itu serta merta sirna. Mereka langsung berubah jadi ganas dan garang untuk memperebutkan makanan. Begitu makanan habis, keakraban timbul lagi.

Hal yang sama juga dapat ditemukan pada manusia. Saat hidup masih sama-sama susah, mereka setia kawan. Lemparkan uang ke kerumunan, kesetiaan itu langsung raib di telan bumi. Mereka gontok-gontokkan untuk memperoleh bagian yang paling banyak sehingga yang tersisa hanyalah kebencian, iri, dan dengki.

Untungnya di Puskesmas ini masih banyak yang mau bekerja dengan hati. Tidak mengejar uang dan keduniawian. Saya melihatnya ketika kami mengerjakan ulang semua laporan dari bulan Januari hingga Juni 2015. Jika bukan karena panggilan hati, mungkin tak ada lagi yang mau mengulang tulis semua laporan itu. Bayangkan, semua ditulis secara manual tanpa bantuan komputer. Kita semua harus meregister dan merekap ulang semua pasien dalam 6 bulan. Dan dalam satu bulan, pasien yang berkunjung sekitar 400-600 orang, itu belum termasuk ibu dan bayi yang ke Posyandu. Alhasil, tangan kawan-kawan langsung pegal karena terlalu lama menulis. Tapi tak ada satupun yang minta uang tambahan atas kerja gila itu. Jika semua bisa digratiskan, mereka mungkin akan melakukannya. Hanya itu saja, saya merasa kasihan dengan kawan-kawan di sini. Sudah bekerja keras begitu, mereka tidak pernah mendapatkan jasa medis. Meskipun begitu, mereka tak pernah menuntut apapun. Padahal sebenarnya, jasa itu ada untuk tiap tindakan medis dan medis yang dilakukan di Puskesmas. Rumus perhitungannya sudah ditetapkan. Namun nampaknya tidak semua mengetahui hal ini. Ada asimetri informasi di sini. Entahlah.

Kendala terbesar di Puskesmas ini adalah tak pernah ada rapat koordinasi rutin. Semua dilakukan secara sporadis dan ireguler. Jika Puskesmas ini adalah sebuah perusahaan, pasti sudah bangkrut sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi karena disubsidi oleh pemerintah, maka Puskesmas ini masih dapat bertahan. Fondasi Puskesmas ini terlalu rapuh. Seperti membangun rumah kertas di atas pasir pantai yang berangin. Pernah lihat Puskesmas yang tidak memiliki struktur organisasi dan visi-misi? Berkunjunglah ke Puskesmas Ndao.

Saya melihat ada beberapa orang yang mau memperbaiki kondisi Puskesmas, hanya saja mereka semua tidak tahu harus memulai dari mana karena tak pernah ada ajang berembuk bersama dan membicarakan semuanya.

Selasa, 14 Juli 2015

Senin, 13 Juli 2015: Mudik Telah Tiba

Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan seperjuangan di masa kuliah yang silam. Sama seperti halnya diriku, saat ini dia sedang berada jauh dari kampung halaman, mengadu nasib di tanah yang asing. Kami berdua bercerita banyak tentang berbagai tema mulai dari kisah masa lalu yang agak labil, perkembangan teknologi terkini mulai dari ponsel android hingga iPhone, masalah kesehatan seperti penyakit jantung koroner, asma, dan efek samping obat, hingga pada akhirnya topik bergeser ke persoalan romansa, yang mengambil porsi paling banyak dari semua durasi percakapan yang kami lakukan. Seperti yang sudah-sudah, dia kembali memotivasiku untuk segera menikah, agar diriku dapat melanjutkan tongkat estafet reproduksi yang legal untuk melestarikan keturunan Adam di muka bumi ini. Dia sendiri sudah menerima tongkat estafet itu sejak dua tahun lalu dan bahkan akan segera memiliki pewaris genetika dalam beberapa bulan ke depan.
Katanya, "cepat-cepatlah menikah supaya tidak liar lagi dirimu berkelana di seluruh penjuru dunia." Padahal saya tidaklah seliar itu, saya bahkan belum pernah mengelilingi seluruh wilayah Indonesia apalagi sampai ke seluruh penjuru dunia. Bahkan semua Presiden Indonesia pun belum ada satupun yang pernah mengelilingi semua wilayah nusantara padahal mereka lah yang memerintah seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau pun para Presiden itu tidak keliling ke seluruh wilayah Indonesia, minimal ke daerah perbatasan paling barat, paling timur, paling utara, atau paling selatan lah seperti di Pulau Ndao, tempatku bertugas saat ini. Biasanya kalau wilayah perbatasan, selalu ada perlakuan khusus seperti pemberian patok batas atau pendirian pos tentara atau polisi yang lumayan besar. Tapi tidak ada perlakuan khusus seperti itu di sini. Tak ada polisi ataupun tentara di sini. Eh, ada polisi tapi hadirnya hanya beberapa hari dalam sebulan. Perangkat kecamatan pun hanya tersisa lima orang, yang lain entah kemana. Bahkan ada pejabat tinggi kecamatan yang konon baru dua kali datang ke Ndao, saat pelantikan perangkat camat dan saat pernikahan salah satu mantan pejabat kecamatan, sisa hari-harinya yang lain entah dihabiskan di mana. Tapi tak ada satupun petinggi yang menegur atau memaksanya untuk kembali bertugas di kantor kecamatan. Saya jadi berpikir jika Pulau Ndao diambil oleh Australia, mungkin tidak akan ada yang tahu. Kalaupun diketahui, mungkin tak akan ada yang protes karena tidak ada tambang minyak atau emas di sini hanya ada warga dan pantai. Untungnya selama bertahun-tahun warga hidup dalam kesahajan dan kesederhanaan tanpa banyak gejolak sosial sehingga Pulau Ndao masih bisa tetap melanjutkan hidup meskipun tanpa kehadiran negara secara nyata. Menurut pengakuan beberapa warga, negara baru mulai terasa efeknya ketika PNPM Mandiri dan Dana Anggaran Desa menyentuh Ndao. Jalanan beton meskipun masih setapak dan jamban warga mulai tampak di mana-mana. Lalu dalam 2 tahun terakhir, lampu tenaga surya pembagian PLN mulai menghiasi malam-malam Ndao. Saya tidak bisa membayangkan segelap apa Pulau Ndao ketika belum ada lampu tenaga surya di sini. Sekarang saja masih gelap karena lampu tenaga surya hanya berjumlah satu atau dua buah di tiap rumah apalagi di zaman 2012 ke bawah. Pasti gelap gulita seperti kondisi Puskesmas di malam hari yang memang nihil sumber cahaya.

Sebenarnya tulisan ini akan diposting pada subuh tadi setelah sahur. Namun berhubung jaringan buruk dan banyak peristiwa baru yang berlangsung, maka postingan ini dipending hingga malam hari.

Tadi pagi semua wanita di tim NS Ndao sudah mudik. Mereka naik kapal Bersita. Satu-satunya kapal penumpang komersil yang masih beroperasi di cuaca buruk ketika kapal lain mandek total. Setelah sampai di Pulau Rote, mereka langsung meneleponku dan memamerkan bahwa mereka semua muntah karena gelombang laut yang cukup tinggi. Rencananya mereka akan ke Kupang hari ini naik kapal ferry cepat, namun rencana gagal karena semua jadwal kapal ditunda akibat cuaca buruk. Jadinya mereka terjebak di Pulau Rote, entah sampai kapan.

Sisa saya dan Ebid yang masih tinggal di Ndao. Bendaharaku, Kadek, sudah menyiapkan to-do list agar kami tidak membakar mess dan uang 20.000 sebagai modal bertahan hidup selama seminggu. Terlalu efisien. Sebenarnya saya dan Ebid punya kesempatan untuk mudik hari ini juga. Tapi rasanya tidak tega jika harus meninggalkan Puskesmas ketika cuti bersama belum dimulai karena personil Puskesmas semakin berkurang. Tersisa tujuh orang di Puskesmas. Padahal untuk efektif bekerja, minimal dibutuhkan 27 personil. Tapi kita berupaya memaksimalkan yang ada. Dua bertugas di loket pendaftaran, dua bertugas di apotik, dua bertugas di bagian pemeriksaan tanda-tanda vital dan antropometrik serta ruang tindakan, dan saya sendiri bertugas di poli umum. Program promotif dan preventif ditunda dulu.

Senin, 13 Juli 2015

Minggu, 12 Juli 2015: Continue

Oma Rbca sudah dikuburkan sejak dua minggu yang lalu sedangkan Opa Hbl baru dikuburkan kemarin. Semenjak berada di sini, rasanya sudah sekitar tujuh atau delapan kali saya ikut serta dalam prosesi penguburan. Entahlah, saya lupa persisnya. Terlalu banyak kematian yang terjadi. Saya jadi sulit menghitungnya. Padahal waktu masih di Makassar dan Muna dulu selama 24 tahun lebih, saya hanya mengikuti prosesi penguburan teman bermain semasa kecil yang meninggal karena sebab yang tak jelas dan ayah dari teman seangkatan yang meninggal karena kanker pankreas. Malah, waktu kematian nenek saya dulu, saya tidak ikut dalam prosesi penguburannya. Rasanya cukup menyedihkan jika harus melihat orang yang pernah kita kenal berkalang tanah dan takkan pernah ditemui lagi di bumi ini. Momen-momen kesedihan selalu menyesakkan.

Prosesi penguburan di Ndao sungguh berbeda jauh dengan dua prosesi penguburan yang pernah saya saksikan dulu. Perbedaan paling besarnya terletak pada ritual ibadahnya karena mayoritas warga di Ndao beragama Protestan. Doa-doa yang dipanjatkan, susunan acaranya, sungguh berbeda.

Kembali ke soal ponsel. Tadi siang, sinyal menghilang selama seharian. Asli terputus dari dunia luar. Nampaknya cuaca terlalu buruk hingga menimbulkan interferensi pada jaringan telekomunikasi. Bahkan setelah berkeliling pantai berkali-kali, sinyal tetap kosong. Untungnya jam 8 malam sinyal langsung pulih. Tapi kami mendapatkan kabar yang kurang membahagiakan karena kapal ferry dari Rote ke Kupang tidak bisa beroperasi karena gelombang terlampau tinggi. Padahal kawan-kawan yang lain telah bersiap-siap untuk mudik. Semoga saja cuaca bisa membaik.

Selain sinyal, solar juga sedang mengalami kelangkaan. Sejak kemarin hingga tadi siang, kami menjadi seperti tentara infanteri yang mengelilingi medan Ndao untuk menemukan solar. Padahal semua baterei ponsel kami telah mencapai titik nadirnya hingga harus mendapatkan suntikan daya dari genzet. Penjual-penjual solar kami sambangi namun jawaban yang kami dapatkan hanya "maaf solar habis".

Minggu, 12 Juli 2015

Minggu, 12 Juli 2015

Ponsel akan memperbudakmu, begitu kata temanku. Ibarat candu, sulit untuk melepaskan diri dari cengkramannya kecuali dia rusak selamanya lalu tak ada uang untuk membeli penggantinya atau tak ada lagi listrik dan sinyal di muka bumi ini. Keduanya bukan pilihan yang bagus untuk menghentikan diri dari kecanduan. Tapi rasanya melelahkan juga kalau tiap hari harus berkeliling di rumah-rumah warga untuk mencari genzet yang menyala hanya untuk mengisi ulang daya di ponsel. Saya pikir kemarin setelah menyelesaikan laporan bulan pertama, tidak akan ada lagi kegiatan thawaf keliling Ndao untuk mencari genzet. Tapi saya salah, impulsivitas untuk bersosialisasi dan mencari info baru mengenai dunia lama yang telah kami tinggalkan justru semakin menyeruak untuk mencari pelampiasan. Jadilah kami di sini, tiap hari menenteng botol-botol solar demi secercah genzet. Aneh rasanya jika membayangkan kita membakar solar di genzet untuk mendapatkan listrik yang mengisi daya ponsel. Terimakasih pada hukum termodinamika yang pertama yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat dikonversi dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya.

Hari ini lonceng gereja kembali berbunyi beberapa kali di dini hari. Normalnya, lonceng berbunyi di Minggu pagi untuk memanggil warga agar datang ke misa atau di sore hari saat ada ibadah perjamuan. Jumlah dentingan loncengnya juga sesuai dengan jam berlangsungnya ibadah. Fungsinya agak mirip dengan adzan bagi umat Islam. Apabila lonceng berbunyi di waktu-waktu yang tidak biasa dan dentingannya lebih dari 12 kali, itu artinya sedang terjadi sesuatu di sekitar gereja, tapi lebih sering karena kematian.

Di bulan ini, ada dua warga lagi yang meninggal. Kedua-duanya lansia. Yang pertama sebut saja namanya Oma Rbca usianya sekitar 100an tahun menurut anak dan cucunya sedangkan yang kedua anggap saja namanya Opa Hbl, seorang pendeta Pantekosta yang berusia sekitar 70-an tahun. Saya cukup mengenal keduanya karena mereka pernah menjadi pasien di Puskesmas bulan lalu. Keduanya mengalami penyakit yang cukup berat. Ada yang mengalami tumor leher, ada juga yang gagal ginjal kronik. Saya menyarankan untuk dirujuk karena fasilitas dan obat di Puskesmas tidak memadai tapi saya juga agak kebingungan karena fasilitas di RSUD Kabupaten juga tidak akan bisa menangani keduanya karena di RSUD Kabupaten tidak ada dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis bedah serta fasilitas hemodialisis atau cuci darah. Satu-satunya yang memungkinkan adalah merujuknya ke rumah sakit provinsi di Kupang. Tapi itu pilihan yang terlalu jauh. Dengan usia yang begitu lanjut, harus menempuh perjalanan laut, dan masih ada kemungkinan jika di Kupang rumah sakit penuh maka keluarga memutuskan untuk merawat saja pasien di rumah. Saya sempat mengunjungi rumah Oma Rbca karena timbulnya candidiasis oral dan rasa nyeri di leher ketika menelan. Saya menduga itu terjadi karena imunitas Oma Rbca sudah tersupresi sedemikin rupa dan tumor telah menginvasi jalan napasnya. Opa Hbl juga sempat saya datangi karena edema anasarka telah menggerogotinya dan kesadarannya semakin menurun. Tapi untuk keduanya saya betul-betul tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa memberikan antifungal, antibiotik, dan antiinflamasi pada Oma Rbca serta edukasi untuk keluarganya mengenai cara perawatannya. Sedangkan untuk Opa Hbl, dengan kondisi edema anasarkanya hanya diuretik yang mampu kuberikan dan konseling pada keluarga. Powerless.

Sabtu, 11 Juli 2015

Sabtu, 11 Juli 2015: How to Define Integrity

Hidup sebagai abdi negara di perbatasan rasanya dilematis. Tiap hari kami mendapatkan pilihan-pilihan hidup yang menyulitkan penentuannya. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung seperti listrik dan jaringan telekomunikasi serta sistem monitoring dan evaluasi dari kabupaten yang mandek, kami berdelapan bisa lari kapan saja dari tempat ini tanpa diketahui. Kami bisa saja tidak bekerja serta tidak memberikan pelayanan kesehatan di tempat ini namun tetap mendapatkan gaji. Kami punya kesempatan untuk datang jam 10 pagi lalu pulang jam 11 pagi kemudian di sisa hari kami jalan-jalan ke pantai atau berleha-leha saja hingga esok datang menggantikan hari ini. Di Puskesmas, kita bisa berlibur selama 2 bulan tanpa ada satupun yang protes. Malah dulu, sempat Puskesmastutup selama beberapa hari karena tidak ada satu pun petugas yang datang. Ada juga petugas kecamatan yang hanya dua kali masuk kantor di sepanjang hidupnya bekerja di Ndao. Ada stigma di Kabupaten Rote yang menyatakan bahwa Pulau Ndao adalah pulau pembuangan. Jika ada PNS macam-macam di daratan Rote, untuk mendisiplinkannya, mereka diancam akan dibuang ke Pulau Ndao. Stigma yang buruk. Padahal serius, tempat ini adalah surganya bagi orang-orang yang ingin berlibur. Meskipun fitur kota seperti bioskop, mall, penjual bakso, penjual nasi goreng, atau nasi padang tidak ada di tempat ini, setidaknya kami bisa menemukan sesuatu yang sulit didapatkan saat berada di kota, waktu untuk berkontempelasi. Ada begitu banyak waktu untuk berpikir, membuatnya berkelana kemana-mana tanpa harus terganggu oleh notifikasi BBM atau media sosial lainnya.

Untungnya, kami berdelapan hingga saat ini masih mau taat aturan. Kami mau datang jam 7.15 lalu pulang jam 13.00. Kami masih mau mengerjakan laporan yang selama 1 tahun tidak pernah dilakukan. Sebelum kami datang angka pengiriman laporan penyakit menular dari Puskesmas Ndao ke kabupaten adalah 0%. Sudah ada beberapa surat teguran dari Dinkes kabupaten dan itu gila. Bisa saja kami membiarkan itu terbengkalai. Tapi untungnya, kawan-kawan di sini masih punya integritas untuk mengerjakan semua hal itu. Tapi entah kapan semangat ini akan bertahan.

Kadang saya merasa kasihan dengan kawan-kawan yang harus pergi ke Posyandu dengan berjalan kaki selama beberapa kilo di tengah terik matahari Pulau Ndao yang membakar sambil menenteng timbangan, dokumen penyuluhan, dan peralatan lainnya karena kami tak punya kendaraan dinas. Saat harus melakukan surveillance di rumah warga dengan berjalan kaki dari ujung Timur ke ujung Barat pulau. Ketika membantu persalinan di pagi buta atau harus menghadapi pasien kecelakaan di malam hari lalu menjahit luka dengan bantuan senter dan peralatan seadanya tanpa listrik. Pada saat menyaksikan dan menjalani hal tersebut, kadangkala dalam pikiranku terbersit, apa yang sedang kami lakukan di sini? Mengapa kami berada di sini?

Sungguh dilematis. Di satu sisi, sebagai seorang manusia, kita ingin memperoleh fasilitas dan perlakuan yang layak, apalagi dengan harga barang-barang di daerah perbatasan dan kepulauan yang lebih melambung. Namun di sisi lain, ada panggilan kemanusiaan di sini. Pulau Ndao dihuni oleh manusia Indonesia. Pria, wanita, anak, kakek. Mereka semua punya hak kesehatan yang sama dengan orang yang hidup di Jakarta, Makassar, atau Jayapura. Jika kita bukan kita, putra-putri Indonesia, yang memberikan pelayanan kesehatan di sini, siapa lagi yang mau? Kita tidak mungkin menyuruh orang Australia untuk mengurus kesehatan warga Ndao. Mungkin terdengar klise. Tapi begitulah adanya. Panggilan jiwa untuk mengabdi di daerah terpencil kadang sulit dimengerti.

Humanoid Blast

Sepertinya saya sudah mencapai titik di mana nuraniku akan memberiku izin untuk berkata, "I don't wanna give a damn thinking about anything outside me". Harus kuakui bahwa saya bukanlah jenis orang yang punya batas kesabaran seperti Mother Theresa ataupun Mahatma Gandhi. Seperlimanya pun mungkin tidak sampai. Meskipun pada berbagai kondisi saya selalu mencoba untuk bersabar saat menghadapi hal-hal yang tidak memenuhi standar idealku atau setidaknya berupaya mengubahnya agar ideal, namun pada akhirnya, upaya itu seringkali terkonversi menjadi rasa tidak peduli begitu ambang batas toleransiku telah terlewati. Ketika sudah mencapai titik ini, penampakan luarku mungkin masih terlihat baik-baik saja, namun di internalnya, hal yang kulihat di dunia ini hanyalah diriku sendiri dan benda-benda mati. Semua hal yang mengganggu integritas idealistik-ku secara otomatis tergeser ke blind spot. Lalu mereka tak ada lagi di alam pikiranku. Hilang.
Boleh dikatakan, ini adalah semacam escape mechanism, tapi aku tak peduli. Mengapa harus bertahan dengan hal-hal yang mengganggu jika kita punya pilihan untuk menjauhinya? Namun nampaknya, banyak orang yang tidak pernah menyadari free will seperti ini. Di luar sana, saya banyak menemukan pasangan yang menjalin cinta dengan bumbu kekerasan. Para wanita yang seringkali menjadi korbannya, justru memilih untuk tetap bertahan pada hubungan yang menguras batin dan tenaga seperti itu. Meskipun telah dimaki, dipukul, dan ditendang berkali-kali, mereka tetap bertahan. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkinkah mereka sedang melatih kesabaran? Tidak tahu cara untuk move on? Atau terlalu dimabuk asmara?
Saya lebih memilih lajang selamanya daripada harus terjebak dalam hubungan seperti itu. Serius. Esensi hidup di dunia ini apa ya, mencari kesusahan atau kebahagiaan? Para agamawan senantiasa berkata bahwa manusia dibuang ke bumi ini untuk menjalani penderitaan karena satu dosa yang dilakukan Adam di surga dulu. Bayangkan, hanya dengan satu dosa saja, kita sudah dibuang dari tempat yang paling indah menurut kitab suci untuk dikirim ke bumi yang semua hal harus diperjuangkan mati-matian. Lalu Adam pun memiliki anak-anak, cucu, cece, cicit, buyut, dan salah satunya sedang mengetik hal ini. Mungkin Adam tak mau menderita sendiri, sehingga dia bereproduksi agar anak cucunya juga merasakan kehidupan di bumi. Bayangkan jika dulu Adam tidak punya anak karena dia ikut KB atau semacamnya. Mungkin kita tidak pernah ada di sini. Tidak ada ketikan ini, tidak ada Hitler, Bush, Bin Laden, semuanya. Manusia punah. Sehingga bumi akan tetap menjadi planet belantara yang penghuninya hanya hewan dan tumbuhan. Happily life ever and after.
Apakah kita harus bersyukur atau meradang atas kelakuan Adam? Yang pasti, agama mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Jadi bagi yang beragama, silahkan bersyukur. Bagi nihilis ataupun atheis, kalian bebas berargumentasi.

Sabtu, 04 Juli 2015

Rabu, 3 Juni 2015



Hadir di PKM pukul 7.30. Mau absen pagi, tapi tidak ada daftar hadir. Sudah sebulan di sini, namun saya belum menemukan yang namanya daftar hadir. Kepala PKM sepertinya tidak terlalu concern dengan masalah daftar hadir dan petugas PKM lain nampaknya memiliki sikap yang sama.

Kami berdelapan agak kebingungan dengan kondisi ini. Karena kami tidak tahu persis, sebetulnya jam berapa kami harus masuk dan pulang. Kami mau mengusulkan pengadaan absen pada kepala PKM namun kami merasa agak risih karena kami berdelapan masih baru di sini. Mengusulkan hal tersebut secara prematur dapat menimbulkan resistensi dari petugas lainnya yang bisa jadi sudah merasa nyaman dengan kondisi yang sekarang. Namun jika membiarkannya berlarut-larut, maka bisa jadi justru kami yang akan melebur dan mengikuti kebiasaan di sini. Kemenkes tidak munngkin buang-buang banyak uang mengirim kami ke sini untuk mengikuti kebiasaan lama di PKM ini. Menkes dan eselon 1 lainnya berharap agar kami dapat membawa perubahan yang lebih baik ke Ndao. Tapi melihat kondisi di sini, sepertinya kami harus lebih kreatif dan lihai dalam membuat inovasi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Ganti topik. Sepertinya hari ini saya akan menulis buku kegiatan harian. Untuk bisa mencatat dan menjejaki semua pasien yang saya tangani dalam satu hari. Itu salah satu cara untuk mengurangi kebosanan. Sebetulnya saya lebih suka mencatatnya di seluler seperti ini. Sayangnya, Ndao bukanlah tanah yang ramah bagi pengguna seluler. Tanah Ndao lebih suka pendekatan tradisional seperti buku dan pena, meskipun Indonesia telah merdeka selama 69 tahun. Sinyal dan listrik masih jauh dari sini.
Mungkin kegiatan pencatatan itu dapat dimulai dengan membeli buku tulis dan pena.

08.36. Teman-teman yang lain masih menunggu kepastian mengeni jadi tidaknya penyuluhan yang semestinya dilaksanakan pada jam 09.00 di Desa Ndao. Dua penyuluhan sebelumnya di Desa Mbiu Lombo dan Desa Mbali Lendeiki berlangsung dengan jadwal yang juga telat. Nampaknya hari ini akan terjadi kejadian yang sama.

08.41. Pasien pertama hari ini.
10.29. Pasien terakhir hari ini.
Total 18 orang.

Ternyata 10.56 ada satu lagi pasien, sehinggat total pasien yang datang adalah 19 orang.
Jam 11.20. Pasien datang lagi.
Total 20 orang.

Kamis, 02 Juli 2015

Senin, 1 Juni 2015



21.36. Kami baru saja pulang dari rumah warga yang kami pinjam genzetnya untuk membuat laporan dan mencharge seluler. Laporan tersebut belum selesai dan tak ada satu pun seluler kami yang dayanya terisi penuh. Kami harus menggunakan perasaan saat meminjam genzet. Meskipun kami membeli sendiri solarnya, kami tidak bisa seenaknya menggunakan genzet tersebut karena ada 3 rumah lain yang bergantunng pada satu genzet yang sama. Tadi saja, beberapa kali daya turun karena terlalu banyak seluler dan laptop yang harus disuapi elektron. Oleh karena itu, kami memutuskan segera pulang ke PKM yang tak berlistrik dan gelap gulita. Tidak enak sama yang punya genzet. Praktis, hanya satu setengah jam kami dapat mengerjakan laporan. Kalau begini terus, entah kapan laporan kami bisa rampung.

Di pelatihan Nusantara Sehat, para fasilitator selalu menekankan pentingnya bekerja dalam segala keterbatasan. Tapi  tak pernah terbayangkan kalau keterbatasan itu akan seperti ini. Ditugaskan di PKM yang tak berlistrik, tak memiliki instalasi air bersih di mess dan gedung PKM, serta tak bersinyal seperti ini. Sungguh berada di luar ekspektasi bayanganku ketika masih pelatihan hidup.

Sebetulnya ada pilihan untuk bermasa bodoh dan tidak perlu mengerjakan laporan dengan alasan tidak ada listrik dan sinyal di PKM. Tapi entah bagaimana, saya merasa bahwa jika hal tersebut kami pilih, mungkin di masa depan akan terbersit rasa bersalah di hati kami.

Rabu, 01 Juli 2015

Rabu, 1 Juli 2015

It's a new month, based on sun calendar, and 15th day according to moon calender. I don't know whether these sentences are correct in grammatical perspective. I want to care about it but I can't help it. My knowledge in English is still far from good. I knew some people who's perfect in this subject. I choose word perfect because I can't find flaws when they talk something in English or when they write some topic in Britannica language. It almost killed me when I saw them in action. From all they've said and written, I just remember their gestures. Don't ask me about what are the points of their lines when they're talking and writing. I can't comprehend them. Maybe they have advanced to a level of grammatical grade that I can't reach although I've crawled all English book in this world for hundreds years, poorly, I don't know if I have any potency to survive for such a long period. Singularity stage, transcend or whatever the term we can use to describe their position in English, the highest point of an achievement in literacy or even in humankind. And compare to them, I'm nothing. It's like the battle between Jedi and Jelly. They are definitely The Jedi and I'm the otherwise. Lightsaber versus sugar. It's a kind of war that shouldn't exist from the first place because we already known the winner before it get started. But the opposite result can happen if The Jedi eat The Jelly after they slashed it with lightsaber because The Jelly have wrapped themself with toxin. When The Jedi eat them, they'll die in vain in couple hours. But the question is who want to eat their opponent bodies after war? If you ask the question to black widow spider or lion, maybe they'll get highest mark for their right answer. It's easy peasy for them. But for The Jedi? Only God knows. Another question, when will I stop use English for writing this article. Somehow I feel so weird to write something in another language that I don't have any capability on it. Maybe a grammar Nazi have obligation to review all sentences in this boredom prose. But who is grammar Nazi in this case?

Mungkin saya lelah. Dan memasuki lagi tahap Whatever people say I am, that's what I'm not.

Selasa, 30 Juni 2015

Satu bulan dalam setahun nyaris mendekati lagi akhirnya dan saya masih di sini, Pulau Ndao. Memandangi bulan yang besok sudah mencapai purnama sambil mengetik artikel yang mungkin akan dikirimkan lewat sms kalau sinyal 3G tak lagi terdeteksi oleh Zenfone 2. Sinyal seluler merupakan salah satu contoh benda ciptaan manusia yang diskriminatif, persis seperti penciptanya. Mereka hanya mau singgah di ponsel-ponsel antik, seolah-olah mereka masih berada di masa orientasi sekolah, tunduknya cuma pada senior namun pada ponsel keluaran terbaru, mereka ogah. Di kebanyakan lokasi di Ndao, Nokia monochrome zaman batu, dapat menghisap sinyal seperti taring drakula di arteri carotis sedangkan ponsel Samsung atau Asus keluaran terbaru justru tak berdaya, seperti ayam sakit di musim kemarau. Di sini, adagium "inovasi terbaru adalah lambang keunggulan" tidak berlaku, yang ada hanya, "tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi".

Beberapa manusia terlahir dengan kecenderungan narsis yang tinggi. Kecenderungan tersebut bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda-beda. Tapi saya tak ingin membahasnya sekarang. Nanti saja mengupasnya ketika saya punya mood untuk melakukannya. Entah kapan itu.

Minggu, 28 Juni 2015

Ponsel hidup lagi setelah kemarin sore dititip ke rumah warga yang punya genzet. Rasanya sunyi seperti di Siberia zaman Stalin, hidup tanpa ponsel. Meskipun tidak ada sinyal di Puskesmas, setidaknya saya bisa melanjutkan bacaan Theory of Everything-nya Stephen Hawking dan How To Disappeared Completely karya David Bowick. Kedua buku tersebut sangat menarik. Hawking yang mengoreksi teori relativitas Einstein, coba untuk menjelaskan tentang asal mula semesta dari perspektif sains. Sangat menarik bisa membaca teori penciptaan dari sisi yang lebih manusiawi, mencernanya dari pandangan astrofisikawan dan kosmolog. Meskipun baru membacanya setengah, saya menyadari bahwa pengetahuan manusia mengenai alam semesta masih terbatas. Meskipun sains sering dikatakan sebagai ilmu exact atau ilmu pasti, tidak ada yang benar-benar pasti. Karena teori lama dapat diganti oleh teori baru begitu ada penemuan dan metodologi pemeriksaan yang baru. Bagaimana pandangan Ptolemy- Aristotle tentang bumi yang bundar dan sebagai pusat tata surya akhirnya ditumbangkan oleh pandangan heliosentrik atau mekanika Newton yang kemudian dijungkalkan oleh relativitas Einstein, telah membuktikan bahwa ilmu sains adalah ilmu yang dinamis. Apa yang benar hari ini bisa menjadi salah di masa depan.

Lost in writing. Tidak bisa lanjut karena ada pasien trauma okuli datang. Mata pasien ditusuk pakai kayu lontar oleh anaknya sendiri. Entah apa yang dipikirkan oleh anak pasien. Saya melihat ada abrasi kornea, malah mungkin sudah ulkus kornea di mata pasien. Tidak ada slit lamp dan tes fluorescent di sini. Tidak ada juga tetes mata antibiotik jadi antibiotik oral saja. Saya hanya melakukan irigasi dan memberikan anestetik lokal berupa lidocaine ampul. Tetes mata pantocaine atau tetracaine juga tidak ada. Asli terbatas. Dan pasien ini juga tidak punya jamkesmas. Berat.

Sabtu, 27 Juni 2015

"Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way"
Tolstoy pernah berkata seperti itu di bukunya, Anna Karenina. Saya merasa family atau keluarga dalam kutipan itu dapat diberlakukan untuk semua jenis organisasi ataupun perkumpulan, baik itu besar maupun kecil, seperti halnya Puskesmas.
Semua Puskesmas yang baik dan maju memiliki kesamaan, yakni mereka semua memiliki manajamen yang baik. Sesulit apapun masyarakat di wilayah kerjanya, seminim apapun sumber daya di situ, dengan manajemen P1, P2, dan P3 yang baik serta dokumentasi dan anggota yang berdedikasi, maka Puskesmas tersebut niscaya dapat maju.
Sebaliknya, Puskesmas yang buruk memiliki keunikan masing-masing. Mereka punya masalah yang berbeda-beda satu sama lain. Mereka buruk dengan kebobrokannya masing-masing. Jika harus dibuatkan daftar tilik, maka buku tulis anak SD bersampul gambar artis tidak akan cukup merangkumnya.
Karena mengutuk gelap ketika lilin tertiup angin tak akan membawa perubahan apapun, maka sebaiknya, untuk semua Puskesmas yang memiliki keunikan keboborokan segera berbenah saja. Sebelum orang-orang berdedikasi berubah menjadi orang yang tak peduli. Sebelum semuanya terlarut bagai marshmallow dalam karamel di tungku.

Saat ini masih jam 7:48, dan saya sudah menuliskan hal yang tidak masuk common sense seperti di atas. Mungkin ini efek terlalu banyak makan daging ayam walaupun saya sendiri bingung di mana asoasiasinya kedua hal tersebut.

Entah kenapa di hari Sabtu seperti ini, saya teringat dengan kawanku yang beragama Advent. Pasti dia sedang berdiam diri di rumah saat ini. Menjauhi kehidupan dunia selain bernapas, makan, dan minum. Minumnya pun tidak bisa yang berwarna-warni, tidak boleh kopi. Kadang saya berpikir, mengapa agama melarang sejumlah makanan untuk dimakan atau diminum tapi Tuhan menciptakan mereka di bumi? Tapi pikiran itu tidak pernah kuungkapkan ke orang lain secara langsung, takutnya saat bertanya seperti itu, saya langsung dianggap murtad. Beberapa orang tidak suka ditanya seperti itu karena saya tahu, itu pertanyaan yang sulit dijawab. Hanya Tuhan yang tahu jawaban pastinya, Mengapa babi tidak boleh dimakan? Mengapa hewan bertaring dan bercakar tidak bisa dikonsumsi? Mengapa orang Yahudi hanya boleh mengkonsumsi makanan kosher? Mengapa Advent tidak minum kopi? Mengapa orang Hindu tidak boleh makan sapi?
Menanyakan pertanyaan itu pada manusia hanya akan menghasilkan debat kusir. Jadi kalau mau jawaban pasti, tunggu saja. Saat seperti itu akan tiba dengan sendirinya.

Hari ini ada 3 pasien yang dikunjungi ke rumahnya. Pertama pasien malnutrisi sedang+gastroenteritis akut+dehidrasi berat, lalu pasien herpes zoster pada regio femoralis hingga gluteus dextra dan terakhir pasien hipertensi+common cold.
Dan semuanya tidak punya Jamkesmas. Parah. Banyak masyarakat di sini yang belum memiliki Jamkesmas padahal mayoritas dari mereka bukanlah dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Aku tak mengerti.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut