Sabtu, 11 Juli 2015

Humanoid Blast

Sepertinya saya sudah mencapai titik di mana nuraniku akan memberiku izin untuk berkata, "I don't wanna give a damn thinking about anything outside me". Harus kuakui bahwa saya bukanlah jenis orang yang punya batas kesabaran seperti Mother Theresa ataupun Mahatma Gandhi. Seperlimanya pun mungkin tidak sampai. Meskipun pada berbagai kondisi saya selalu mencoba untuk bersabar saat menghadapi hal-hal yang tidak memenuhi standar idealku atau setidaknya berupaya mengubahnya agar ideal, namun pada akhirnya, upaya itu seringkali terkonversi menjadi rasa tidak peduli begitu ambang batas toleransiku telah terlewati. Ketika sudah mencapai titik ini, penampakan luarku mungkin masih terlihat baik-baik saja, namun di internalnya, hal yang kulihat di dunia ini hanyalah diriku sendiri dan benda-benda mati. Semua hal yang mengganggu integritas idealistik-ku secara otomatis tergeser ke blind spot. Lalu mereka tak ada lagi di alam pikiranku. Hilang.
Boleh dikatakan, ini adalah semacam escape mechanism, tapi aku tak peduli. Mengapa harus bertahan dengan hal-hal yang mengganggu jika kita punya pilihan untuk menjauhinya? Namun nampaknya, banyak orang yang tidak pernah menyadari free will seperti ini. Di luar sana, saya banyak menemukan pasangan yang menjalin cinta dengan bumbu kekerasan. Para wanita yang seringkali menjadi korbannya, justru memilih untuk tetap bertahan pada hubungan yang menguras batin dan tenaga seperti itu. Meskipun telah dimaki, dipukul, dan ditendang berkali-kali, mereka tetap bertahan. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkinkah mereka sedang melatih kesabaran? Tidak tahu cara untuk move on? Atau terlalu dimabuk asmara?
Saya lebih memilih lajang selamanya daripada harus terjebak dalam hubungan seperti itu. Serius. Esensi hidup di dunia ini apa ya, mencari kesusahan atau kebahagiaan? Para agamawan senantiasa berkata bahwa manusia dibuang ke bumi ini untuk menjalani penderitaan karena satu dosa yang dilakukan Adam di surga dulu. Bayangkan, hanya dengan satu dosa saja, kita sudah dibuang dari tempat yang paling indah menurut kitab suci untuk dikirim ke bumi yang semua hal harus diperjuangkan mati-matian. Lalu Adam pun memiliki anak-anak, cucu, cece, cicit, buyut, dan salah satunya sedang mengetik hal ini. Mungkin Adam tak mau menderita sendiri, sehingga dia bereproduksi agar anak cucunya juga merasakan kehidupan di bumi. Bayangkan jika dulu Adam tidak punya anak karena dia ikut KB atau semacamnya. Mungkin kita tidak pernah ada di sini. Tidak ada ketikan ini, tidak ada Hitler, Bush, Bin Laden, semuanya. Manusia punah. Sehingga bumi akan tetap menjadi planet belantara yang penghuninya hanya hewan dan tumbuhan. Happily life ever and after.
Apakah kita harus bersyukur atau meradang atas kelakuan Adam? Yang pasti, agama mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Jadi bagi yang beragama, silahkan bersyukur. Bagi nihilis ataupun atheis, kalian bebas berargumentasi.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...