Minggu, 12 Juli 2015

Minggu, 12 Juli 2015

Ponsel akan memperbudakmu, begitu kata temanku. Ibarat candu, sulit untuk melepaskan diri dari cengkramannya kecuali dia rusak selamanya lalu tak ada uang untuk membeli penggantinya atau tak ada lagi listrik dan sinyal di muka bumi ini. Keduanya bukan pilihan yang bagus untuk menghentikan diri dari kecanduan. Tapi rasanya melelahkan juga kalau tiap hari harus berkeliling di rumah-rumah warga untuk mencari genzet yang menyala hanya untuk mengisi ulang daya di ponsel. Saya pikir kemarin setelah menyelesaikan laporan bulan pertama, tidak akan ada lagi kegiatan thawaf keliling Ndao untuk mencari genzet. Tapi saya salah, impulsivitas untuk bersosialisasi dan mencari info baru mengenai dunia lama yang telah kami tinggalkan justru semakin menyeruak untuk mencari pelampiasan. Jadilah kami di sini, tiap hari menenteng botol-botol solar demi secercah genzet. Aneh rasanya jika membayangkan kita membakar solar di genzet untuk mendapatkan listrik yang mengisi daya ponsel. Terimakasih pada hukum termodinamika yang pertama yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat dikonversi dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya.

Hari ini lonceng gereja kembali berbunyi beberapa kali di dini hari. Normalnya, lonceng berbunyi di Minggu pagi untuk memanggil warga agar datang ke misa atau di sore hari saat ada ibadah perjamuan. Jumlah dentingan loncengnya juga sesuai dengan jam berlangsungnya ibadah. Fungsinya agak mirip dengan adzan bagi umat Islam. Apabila lonceng berbunyi di waktu-waktu yang tidak biasa dan dentingannya lebih dari 12 kali, itu artinya sedang terjadi sesuatu di sekitar gereja, tapi lebih sering karena kematian.

Di bulan ini, ada dua warga lagi yang meninggal. Kedua-duanya lansia. Yang pertama sebut saja namanya Oma Rbca usianya sekitar 100an tahun menurut anak dan cucunya sedangkan yang kedua anggap saja namanya Opa Hbl, seorang pendeta Pantekosta yang berusia sekitar 70-an tahun. Saya cukup mengenal keduanya karena mereka pernah menjadi pasien di Puskesmas bulan lalu. Keduanya mengalami penyakit yang cukup berat. Ada yang mengalami tumor leher, ada juga yang gagal ginjal kronik. Saya menyarankan untuk dirujuk karena fasilitas dan obat di Puskesmas tidak memadai tapi saya juga agak kebingungan karena fasilitas di RSUD Kabupaten juga tidak akan bisa menangani keduanya karena di RSUD Kabupaten tidak ada dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis bedah serta fasilitas hemodialisis atau cuci darah. Satu-satunya yang memungkinkan adalah merujuknya ke rumah sakit provinsi di Kupang. Tapi itu pilihan yang terlalu jauh. Dengan usia yang begitu lanjut, harus menempuh perjalanan laut, dan masih ada kemungkinan jika di Kupang rumah sakit penuh maka keluarga memutuskan untuk merawat saja pasien di rumah. Saya sempat mengunjungi rumah Oma Rbca karena timbulnya candidiasis oral dan rasa nyeri di leher ketika menelan. Saya menduga itu terjadi karena imunitas Oma Rbca sudah tersupresi sedemikin rupa dan tumor telah menginvasi jalan napasnya. Opa Hbl juga sempat saya datangi karena edema anasarka telah menggerogotinya dan kesadarannya semakin menurun. Tapi untuk keduanya saya betul-betul tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa memberikan antifungal, antibiotik, dan antiinflamasi pada Oma Rbca serta edukasi untuk keluarganya mengenai cara perawatannya. Sedangkan untuk Opa Hbl, dengan kondisi edema anasarkanya hanya diuretik yang mampu kuberikan dan konseling pada keluarga. Powerless.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...