Rabu, 01 Juli 2015

Minggu, 28 Juni 2015

Ponsel hidup lagi setelah kemarin sore dititip ke rumah warga yang punya genzet. Rasanya sunyi seperti di Siberia zaman Stalin, hidup tanpa ponsel. Meskipun tidak ada sinyal di Puskesmas, setidaknya saya bisa melanjutkan bacaan Theory of Everything-nya Stephen Hawking dan How To Disappeared Completely karya David Bowick. Kedua buku tersebut sangat menarik. Hawking yang mengoreksi teori relativitas Einstein, coba untuk menjelaskan tentang asal mula semesta dari perspektif sains. Sangat menarik bisa membaca teori penciptaan dari sisi yang lebih manusiawi, mencernanya dari pandangan astrofisikawan dan kosmolog. Meskipun baru membacanya setengah, saya menyadari bahwa pengetahuan manusia mengenai alam semesta masih terbatas. Meskipun sains sering dikatakan sebagai ilmu exact atau ilmu pasti, tidak ada yang benar-benar pasti. Karena teori lama dapat diganti oleh teori baru begitu ada penemuan dan metodologi pemeriksaan yang baru. Bagaimana pandangan Ptolemy- Aristotle tentang bumi yang bundar dan sebagai pusat tata surya akhirnya ditumbangkan oleh pandangan heliosentrik atau mekanika Newton yang kemudian dijungkalkan oleh relativitas Einstein, telah membuktikan bahwa ilmu sains adalah ilmu yang dinamis. Apa yang benar hari ini bisa menjadi salah di masa depan.

Lost in writing. Tidak bisa lanjut karena ada pasien trauma okuli datang. Mata pasien ditusuk pakai kayu lontar oleh anaknya sendiri. Entah apa yang dipikirkan oleh anak pasien. Saya melihat ada abrasi kornea, malah mungkin sudah ulkus kornea di mata pasien. Tidak ada slit lamp dan tes fluorescent di sini. Tidak ada juga tetes mata antibiotik jadi antibiotik oral saja. Saya hanya melakukan irigasi dan memberikan anestetik lokal berupa lidocaine ampul. Tetes mata pantocaine atau tetracaine juga tidak ada. Asli terbatas. Dan pasien ini juga tidak punya jamkesmas. Berat.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...