Sabtu, 11 Juli 2015

Sabtu, 11 Juli 2015: How to Define Integrity

Hidup sebagai abdi negara di perbatasan rasanya dilematis. Tiap hari kami mendapatkan pilihan-pilihan hidup yang menyulitkan penentuannya. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung seperti listrik dan jaringan telekomunikasi serta sistem monitoring dan evaluasi dari kabupaten yang mandek, kami berdelapan bisa lari kapan saja dari tempat ini tanpa diketahui. Kami bisa saja tidak bekerja serta tidak memberikan pelayanan kesehatan di tempat ini namun tetap mendapatkan gaji. Kami punya kesempatan untuk datang jam 10 pagi lalu pulang jam 11 pagi kemudian di sisa hari kami jalan-jalan ke pantai atau berleha-leha saja hingga esok datang menggantikan hari ini. Di Puskesmas, kita bisa berlibur selama 2 bulan tanpa ada satupun yang protes. Malah dulu, sempat Puskesmastutup selama beberapa hari karena tidak ada satu pun petugas yang datang. Ada juga petugas kecamatan yang hanya dua kali masuk kantor di sepanjang hidupnya bekerja di Ndao. Ada stigma di Kabupaten Rote yang menyatakan bahwa Pulau Ndao adalah pulau pembuangan. Jika ada PNS macam-macam di daratan Rote, untuk mendisiplinkannya, mereka diancam akan dibuang ke Pulau Ndao. Stigma yang buruk. Padahal serius, tempat ini adalah surganya bagi orang-orang yang ingin berlibur. Meskipun fitur kota seperti bioskop, mall, penjual bakso, penjual nasi goreng, atau nasi padang tidak ada di tempat ini, setidaknya kami bisa menemukan sesuatu yang sulit didapatkan saat berada di kota, waktu untuk berkontempelasi. Ada begitu banyak waktu untuk berpikir, membuatnya berkelana kemana-mana tanpa harus terganggu oleh notifikasi BBM atau media sosial lainnya.

Untungnya, kami berdelapan hingga saat ini masih mau taat aturan. Kami mau datang jam 7.15 lalu pulang jam 13.00. Kami masih mau mengerjakan laporan yang selama 1 tahun tidak pernah dilakukan. Sebelum kami datang angka pengiriman laporan penyakit menular dari Puskesmas Ndao ke kabupaten adalah 0%. Sudah ada beberapa surat teguran dari Dinkes kabupaten dan itu gila. Bisa saja kami membiarkan itu terbengkalai. Tapi untungnya, kawan-kawan di sini masih punya integritas untuk mengerjakan semua hal itu. Tapi entah kapan semangat ini akan bertahan.

Kadang saya merasa kasihan dengan kawan-kawan yang harus pergi ke Posyandu dengan berjalan kaki selama beberapa kilo di tengah terik matahari Pulau Ndao yang membakar sambil menenteng timbangan, dokumen penyuluhan, dan peralatan lainnya karena kami tak punya kendaraan dinas. Saat harus melakukan surveillance di rumah warga dengan berjalan kaki dari ujung Timur ke ujung Barat pulau. Ketika membantu persalinan di pagi buta atau harus menghadapi pasien kecelakaan di malam hari lalu menjahit luka dengan bantuan senter dan peralatan seadanya tanpa listrik. Pada saat menyaksikan dan menjalani hal tersebut, kadangkala dalam pikiranku terbersit, apa yang sedang kami lakukan di sini? Mengapa kami berada di sini?

Sungguh dilematis. Di satu sisi, sebagai seorang manusia, kita ingin memperoleh fasilitas dan perlakuan yang layak, apalagi dengan harga barang-barang di daerah perbatasan dan kepulauan yang lebih melambung. Namun di sisi lain, ada panggilan kemanusiaan di sini. Pulau Ndao dihuni oleh manusia Indonesia. Pria, wanita, anak, kakek. Mereka semua punya hak kesehatan yang sama dengan orang yang hidup di Jakarta, Makassar, atau Jayapura. Jika kita bukan kita, putra-putri Indonesia, yang memberikan pelayanan kesehatan di sini, siapa lagi yang mau? Kita tidak mungkin menyuruh orang Australia untuk mengurus kesehatan warga Ndao. Mungkin terdengar klise. Tapi begitulah adanya. Panggilan jiwa untuk mengabdi di daerah terpencil kadang sulit dimengerti.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...