Rabu, 15 Juli 2015

Selasa, 14 Juli 2015: Forcing

Di setiap sudut jalan Ndao, kita dapat menemukan anjing berkeliaran secara berkelompok, namun beberapa tampak soliter karena mungkin sedang PMS atau memang antisosial. Khusus untuk anjing-anjing yang solider, hobi jalan keroyokan, saya mengamati fenomena yang persis seperti fenomena yang terjadi pada manusia. Pada umumnya, para anjing tersebut tampak setia kawan ketika tidak ada makanan di sekitar mereka. Saling jilat, saling garuk, dan saling cium adalah kegiatan yang lazim ditemukan pada para anjing solider ketika masa-masa tenang berlangsung. Badai datang saat makanan terhampar di hadapan mereka. Semua keakraban itu serta merta sirna. Mereka langsung berubah jadi ganas dan garang untuk memperebutkan makanan. Begitu makanan habis, keakraban timbul lagi.

Hal yang sama juga dapat ditemukan pada manusia. Saat hidup masih sama-sama susah, mereka setia kawan. Lemparkan uang ke kerumunan, kesetiaan itu langsung raib di telan bumi. Mereka gontok-gontokkan untuk memperoleh bagian yang paling banyak sehingga yang tersisa hanyalah kebencian, iri, dan dengki.

Untungnya di Puskesmas ini masih banyak yang mau bekerja dengan hati. Tidak mengejar uang dan keduniawian. Saya melihatnya ketika kami mengerjakan ulang semua laporan dari bulan Januari hingga Juni 2015. Jika bukan karena panggilan hati, mungkin tak ada lagi yang mau mengulang tulis semua laporan itu. Bayangkan, semua ditulis secara manual tanpa bantuan komputer. Kita semua harus meregister dan merekap ulang semua pasien dalam 6 bulan. Dan dalam satu bulan, pasien yang berkunjung sekitar 400-600 orang, itu belum termasuk ibu dan bayi yang ke Posyandu. Alhasil, tangan kawan-kawan langsung pegal karena terlalu lama menulis. Tapi tak ada satupun yang minta uang tambahan atas kerja gila itu. Jika semua bisa digratiskan, mereka mungkin akan melakukannya. Hanya itu saja, saya merasa kasihan dengan kawan-kawan di sini. Sudah bekerja keras begitu, mereka tidak pernah mendapatkan jasa medis. Meskipun begitu, mereka tak pernah menuntut apapun. Padahal sebenarnya, jasa itu ada untuk tiap tindakan medis dan medis yang dilakukan di Puskesmas. Rumus perhitungannya sudah ditetapkan. Namun nampaknya tidak semua mengetahui hal ini. Ada asimetri informasi di sini. Entahlah.

Kendala terbesar di Puskesmas ini adalah tak pernah ada rapat koordinasi rutin. Semua dilakukan secara sporadis dan ireguler. Jika Puskesmas ini adalah sebuah perusahaan, pasti sudah bangkrut sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi karena disubsidi oleh pemerintah, maka Puskesmas ini masih dapat bertahan. Fondasi Puskesmas ini terlalu rapuh. Seperti membangun rumah kertas di atas pasir pantai yang berangin. Pernah lihat Puskesmas yang tidak memiliki struktur organisasi dan visi-misi? Berkunjunglah ke Puskesmas Ndao.

Saya melihat ada beberapa orang yang mau memperbaiki kondisi Puskesmas, hanya saja mereka semua tidak tahu harus memulai dari mana karena tak pernah ada ajang berembuk bersama dan membicarakan semuanya.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...