Selasa, 14 Juli 2015

Senin, 13 Juli 2015: Mudik Telah Tiba

Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan seperjuangan di masa kuliah yang silam. Sama seperti halnya diriku, saat ini dia sedang berada jauh dari kampung halaman, mengadu nasib di tanah yang asing. Kami berdua bercerita banyak tentang berbagai tema mulai dari kisah masa lalu yang agak labil, perkembangan teknologi terkini mulai dari ponsel android hingga iPhone, masalah kesehatan seperti penyakit jantung koroner, asma, dan efek samping obat, hingga pada akhirnya topik bergeser ke persoalan romansa, yang mengambil porsi paling banyak dari semua durasi percakapan yang kami lakukan. Seperti yang sudah-sudah, dia kembali memotivasiku untuk segera menikah, agar diriku dapat melanjutkan tongkat estafet reproduksi yang legal untuk melestarikan keturunan Adam di muka bumi ini. Dia sendiri sudah menerima tongkat estafet itu sejak dua tahun lalu dan bahkan akan segera memiliki pewaris genetika dalam beberapa bulan ke depan.
Katanya, "cepat-cepatlah menikah supaya tidak liar lagi dirimu berkelana di seluruh penjuru dunia." Padahal saya tidaklah seliar itu, saya bahkan belum pernah mengelilingi seluruh wilayah Indonesia apalagi sampai ke seluruh penjuru dunia. Bahkan semua Presiden Indonesia pun belum ada satupun yang pernah mengelilingi semua wilayah nusantara padahal mereka lah yang memerintah seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau pun para Presiden itu tidak keliling ke seluruh wilayah Indonesia, minimal ke daerah perbatasan paling barat, paling timur, paling utara, atau paling selatan lah seperti di Pulau Ndao, tempatku bertugas saat ini. Biasanya kalau wilayah perbatasan, selalu ada perlakuan khusus seperti pemberian patok batas atau pendirian pos tentara atau polisi yang lumayan besar. Tapi tidak ada perlakuan khusus seperti itu di sini. Tak ada polisi ataupun tentara di sini. Eh, ada polisi tapi hadirnya hanya beberapa hari dalam sebulan. Perangkat kecamatan pun hanya tersisa lima orang, yang lain entah kemana. Bahkan ada pejabat tinggi kecamatan yang konon baru dua kali datang ke Ndao, saat pelantikan perangkat camat dan saat pernikahan salah satu mantan pejabat kecamatan, sisa hari-harinya yang lain entah dihabiskan di mana. Tapi tak ada satupun petinggi yang menegur atau memaksanya untuk kembali bertugas di kantor kecamatan. Saya jadi berpikir jika Pulau Ndao diambil oleh Australia, mungkin tidak akan ada yang tahu. Kalaupun diketahui, mungkin tak akan ada yang protes karena tidak ada tambang minyak atau emas di sini hanya ada warga dan pantai. Untungnya selama bertahun-tahun warga hidup dalam kesahajan dan kesederhanaan tanpa banyak gejolak sosial sehingga Pulau Ndao masih bisa tetap melanjutkan hidup meskipun tanpa kehadiran negara secara nyata. Menurut pengakuan beberapa warga, negara baru mulai terasa efeknya ketika PNPM Mandiri dan Dana Anggaran Desa menyentuh Ndao. Jalanan beton meskipun masih setapak dan jamban warga mulai tampak di mana-mana. Lalu dalam 2 tahun terakhir, lampu tenaga surya pembagian PLN mulai menghiasi malam-malam Ndao. Saya tidak bisa membayangkan segelap apa Pulau Ndao ketika belum ada lampu tenaga surya di sini. Sekarang saja masih gelap karena lampu tenaga surya hanya berjumlah satu atau dua buah di tiap rumah apalagi di zaman 2012 ke bawah. Pasti gelap gulita seperti kondisi Puskesmas di malam hari yang memang nihil sumber cahaya.

Sebenarnya tulisan ini akan diposting pada subuh tadi setelah sahur. Namun berhubung jaringan buruk dan banyak peristiwa baru yang berlangsung, maka postingan ini dipending hingga malam hari.

Tadi pagi semua wanita di tim NS Ndao sudah mudik. Mereka naik kapal Bersita. Satu-satunya kapal penumpang komersil yang masih beroperasi di cuaca buruk ketika kapal lain mandek total. Setelah sampai di Pulau Rote, mereka langsung meneleponku dan memamerkan bahwa mereka semua muntah karena gelombang laut yang cukup tinggi. Rencananya mereka akan ke Kupang hari ini naik kapal ferry cepat, namun rencana gagal karena semua jadwal kapal ditunda akibat cuaca buruk. Jadinya mereka terjebak di Pulau Rote, entah sampai kapan.

Sisa saya dan Ebid yang masih tinggal di Ndao. Bendaharaku, Kadek, sudah menyiapkan to-do list agar kami tidak membakar mess dan uang 20.000 sebagai modal bertahan hidup selama seminggu. Terlalu efisien. Sebenarnya saya dan Ebid punya kesempatan untuk mudik hari ini juga. Tapi rasanya tidak tega jika harus meninggalkan Puskesmas ketika cuti bersama belum dimulai karena personil Puskesmas semakin berkurang. Tersisa tujuh orang di Puskesmas. Padahal untuk efektif bekerja, minimal dibutuhkan 27 personil. Tapi kita berupaya memaksimalkan yang ada. Dua bertugas di loket pendaftaran, dua bertugas di apotik, dua bertugas di bagian pemeriksaan tanda-tanda vital dan antropometrik serta ruang tindakan, dan saya sendiri bertugas di poli umum. Program promotif dan preventif ditunda dulu.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...