Selasa, 25 Agustus 2015

Selasa, 25 Agustus 2015: Pursuit of Happiness

Beberapa hari ini ada sesuatu yang menggaduk-aduk sirkuit substansia alba dan substansia grisea yang menyusun serebrum dalam kraniumku. Tapi itu tak ada kaitannya dengan manajemen Puskesmas yang hingga saat ini masih seperti kapal pecah yang terhantam ombak. Tanggal 20 kemarin memang ada monev dari Dinkes Kabupaten yang memaparkan banyak kekurangan di PKM kami tapi itu sama sekali tidak menyita banyak energi yang diserap oleh ileumku. Apa yang mengganggu pikiranku cenderung lebih konseptual dan abstrak. Mungkin bisa sedikit bergeser ke ranah metafisika agar kerja otakku bisa lebih berat. Hanya saja, metafisika tidak pernah menjadi bidang yang menarik perhatianku. Terlalu banyak perdebatan dan kontradiksi di sana. Apalagi standar ketuhanan yang digunakan dalam pembahasan literatur metafisika tak pernah sama.

Apa yang kupikirkan sebenarnya sederhana. Tentang kebahagiaan. Saat berada di kota, standar kebahagiaan yang ada dalam paradigmaku benar-benar tereduksi ke standar material yang terbatas pada kepemilikan uang, barang mewah, dan ketenaran. Sepertinya mayoritas orang yang hidup di kota terinfeksi oleh paradigma yang sama. Jargon hiperrealis material yang ditembakkan oleh media massa ke otak para penduduk kota semakin memperkuat virulensi paradigma kebahagiaan yang disokong oleh benda-benda konsumtif dan prestise.

Tapi begitu sampai di sini, saya menemukan standar kebahagiaan yang berbeda. Jika uang, ketenaran, dan kepemilikan barang mewah yang jadi ambang batas bahagia, hampir semua masyarakat di sini masuk dalam kategori tak bahagia. Hanya saja, aura ketidakbahagiaan tidak pernah saya temukan pada masyarakat di sini. Sepertinya mereka masih bisa menikmati hidup meskipun uang mereka tak pernah bisa ditabung tiap bulan, walaupun tak memiliki mobil atau minimal televisi, biarpun tak ada satupun orang di luar NTT yang mengenal mereka. Salah satu nilai lebih di Pulau ini adalah solidaritas. Warga selalu saling tolong menolong dalam segala hal. Mulai dari membangun rumah hingga urusan kematian, semua warga pasti bekerja sama. Sehingga uang tak pernah menjadi masalah yang terlalu krusial bagi warga di sini.

Bisa jadi karena mereka terlalu lama terisolasi di pulau terpencil sehingga mereka tidak punya standar pembanding untuk melihat jenis kebahagiaan lain di luar kebahagiaan yang mereka rasakan selama ini. Seperti kata George Orwell dalam buku 1984, "The masses never revolt of their own accord, and they never revolt merely because they are oppressed. Indeed, so long as they are not permitted to have standards of comparison, they never even become aware that they are oppressed." Mereka tak pernah merasakan betapa mudahnya hidup dengan hanya memutar keran kita sudah bisa mendapatkan air, tak perlu lagi dipikul dari sumur. Mereka tak pernah tahu betapa menyenangkannya hidup dengan hanya memasang steker rice cooker kita sudah bisa menanak nasi, tak usah lagi mencari kayu bakar di hutan. Hanya saja, semua yang sifatnya elektronik, selalu ada biaya dibaliknya. Jika listrik dan BTS sinyal jadi dibangun di pulau ini, standar kebahagiaan di sini mungkin akan berubah. Akses informasi dan segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi elektronik bisa jadi akan mengubah tatanan masyarakat di pulau ini hingga ke akar-akarnya. Ada satu premis klasik yang menyatakan bahwa kemajuan teknologi akan membuat suatu peradaban menjadi lebih individualistik. Apakah Pulau Ndao akan jadi seperti itu? Entahlah. Kita lihat saja nanti.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...