Jumat, 25 September 2015

Jumat, 25 September 2015: Fluke

Stephen Hawking dalam buku Grand Design sepertinya sudah menerima premis bahwa rancangan semesta yang indah dan teratur seperti yang kita tinggali saat ini tidak harus berasal dari seorang atau sesuatu yang pintar, tapi lebih karena suatu mekanisme seleksi alam untuk bertahan hidup dalam periode yang sangat lama. Pada akhirnya alam akan menyusun dirinya sendiri agar dapat mencapai keadaannya seperti saat ini. Mayoritas ilmuwan di Barat percaya akan hal ini. Tak perlu ada Tuhan di semesta ini.

Hanya saja, saya merasa otak saya terlalu kecil untuk mencerna proses rumit penciptaan alam semesta yang tak melibatkan intelligent designer. Dari semua planet yang ada di tata surya ini, mengapa hanya bumi yang memiliki manusia? Mengapa tidak ada alien yang menghubungi kita? Apakah mungkin hanya manusia yang memikirkan hal-hal rumit seperti ini?

Hahaha... saya terbangun di pagi hari dan pemikiran ini tiba-tiba saja muncul. Kata-kata Hawking yang kubaca 4 tahun yang lalu tiba-tiba saja menyambar otakku seperti petir pada pohon yang kering. Metafora yang mungkin terkesan berlebihan, tapi literally, otak yang bertengger di kraniumku saat ini sudah kering kerontang bagai Sahara di bulan Oktober. Jangan tanya seperti apa Sahara di bulan Oktober, saya tidak pernah ke sana. Tapi intinya, sejak saya meninggalkan institusi pendidikan, kemampuan reasoning dan logikaku menurun drastis hingga nyaris mencapai titik nadir. Yang sepertinya berkembang dari diriku saat ini adalah kemampuan berbudaya dan bersosialisasi secara direktif. Keterampilan yang meningkat secara tidak sengaja setelah saya meninggalkan menara gading ilmu pengetahun.

Dulu, saya bercita-cita menjadi ilmuwan agar saya tidak perlu berurusan dengan manusia. Cukup mengurusi makanan tikus, spesimen darah, lendir, dan rangkaian panjang genome, lalu hidup damai hingga akhir hayat. Sayangnya, jalan hidupku berbelok ke layanan sosial yang mengharuskan interaksi dengan manusia lain. Dan akhirnya, di sinilah diriku saat ini. Menjadi manusia di bumi. Dan rasanya cukup menyenangkan hidup seperti ini. Meskipun interaksi dengan manusia lain kadang melelahkan (sebenarnya seringkali), karena harus melibatkan proses membaca perilaku dan antisipasi, setidaknya itu selalu membuahkan kepuasan ketika kita berhasil memprediksi perilaku orang lain seperti membaca sebuah buku yang terbuka.

Mungkin seharusnya saya menjadi psikolog saja.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...