Rabu, 30 September 2015

Minggu, 27 September 2015: Evolusi

Enviromentalis sudah terlalu sering meneriakan seruan untuk menghentikan pembuangan limbah plastik di lautan. Saking seringnya mendengar hal tersebut, dalam alam bawah sadar, saya nyaris menjadi enviromentalis juga karenanya. Kekuatan persuasi enviromentalis terlalu kuat untuk ditolak, seperti es krim di musim panas. Apalagi kalau yang melakukan persuasi adalah wanita berusia 20-an tahun dengan senyum manis dan kalimat bernada lembut plus jomblo serta bukan lesbian. Kombinasi yang dapat meluluhlantakan hati karang para pria yang kekurangan perhatian lintas gender. Sayangnya, saya tidak termasuk dalam golongan pria tersebut, jadi, maafkan anomali tersebut. Mengapa para enviromentalis begitu getol mengkampanyekan larangan buangan limbah plastik di laut? Alasan klasik sebenarnya, mahluk laut dan burung laut bisa mati karena plastik-plastik tersebut. Bayangkan jika para ikan tersebut memakan plastik karena mengira itu adalah alga, lalu para burung juga memakan plastik karena mengira itu adalah ikan, dan terakhir, manusia pun memakan plastik karena mengira itu adalah ikan dan burung. Itu pasti akan menjadi sebuah dunia yang indah jika para ikan, burung, dan manusia tidak mati karenanya. Memangnya berapa tingkat insidensi kematian ikan, burung, dan manusia setelah menelan plastik? Tak perlu malu jika tak bisa menjawabnya, karena saya juga tidak tahu jawabannya.

Bukannya bermaksud untuk kontra dengan perjuangan para enviromentalis, namun jika kita percaya pada teori evolusi dan seleksi alam, mahluk dalam laut dan burung laut seharusnya tak punya masalah dengan plastik di laut. Karena pada akhirnya alam akan mempertahankan mahluk yang memiliki gen yang resisten terhadap limbah plastik, sedangkan mahluk yang rentan akan punah dengan sendirinya. Survival of the fittest. Tapi sekali lagi, itu kalau kita percaya pada Darwin. Namun nampaknya manusia tidak bisa menunggu selama itu. Karena proses seleksi alam bersifat time-consuming, kita berbicara soal pewarisan genetika yang memerlukan waktu puluhan hingga jutaan tahun. Manusia sendiri mungkin sudah terlebih dahulu punah sebelum bisa menyaksikan lahirnya ikan dan burung yang bisa memetabolisme plastik.

Terlalu lama di tempat yang mematikan kreativitas ilmiah biasanya akan berkompensasi pada peningkatan kreativitas pada area mistisme. Manusia yang mengalaminya akan mulai menuliskan hal-hal yang out of ideas dan ambivalen, kadang tak terarah seperti tulisan ini. Kita bisa mencampur baurkan persoalan evolusi dan literatur tanpa mempedulikan transisi penulisan yang kasar dan acak. Dalam psikiatri, hal ini disebut sebagai flight of ideas. Hanya penderita hipomania dan mania yang mengalaminya. Namun dalam kamusku, itu disebut lompatan inspirasional. Seringkali, orang awam salah mengartikan hal tersebut sebagai sebuah kegilaan hanya karena mereka tidak bisa memahami gambaran besar dari lompatan inspirasional. Kita tidak bisa menyalahkan orang awam atas ketidakmampuan mereka dalam memahami kepelikan berpikir beberapa manusia tertentu seperti halnya kita tidak boleh menyalahkan segelintir orang yang memiliki keistimewaan dibanding mayoritas manusia yang ada di muka bumi ini.

Banyak orang beragama yang tidak mau mempercayai evolusi hanya karena kitab sucinya tidak pernah menuliskan secara eksplisit kata evolusi di dalamnya. Di kitab injil maupun quran maupun kitab suci lainnya, tidak pernah ada ayat yang mengatakan, "Dan terciptalah Adam dan Hawa melalui proses evolusi". Begitu pula dengan kaum evolusionis yang tak percaya bahwa Tuhan itu ada karena mereka pernah tak bisa melihat atau mendengar Tuhan saat bekerja. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana wujud Tuhan.

Tapi apakah hanya karena alasan itu maka manusia punya pembenaran untuk saling mencerca? Saya mulai terdengar seperti moralis ketika menuliskan hal ini. Terdengar seperti ingin benar sendiri.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...