Sabtu, 12 September 2015

Sabtu, 12 September 2015: Asimetri

Setelah membaca novel Anthem, saya jadi penasaran untuk membaca karya Ayn Rand yang lain. Dari riset kecil yang saya lakukan di dunia maya, saya menemukan bahwa karya paling fenomenal dari Ayn Rand adalah Atlas Shrugged, yang saat ini sedang saya baca. Dari 1227 halaman novel edisi ulang tahun ke-35 ini, 17 halaman depannya terdiri atas sampul, halaman dedikasi, dan mukadimah, dan satu halaman terakhirnya adalah komentar dari penulis sehingga praktis inti novelnya terdiri atas 1209 halaman. Dari semua bab yang ada, Bab This Is John Galt Speaking adalah yang paling panjang. Mungkin karena di situlah inti filosofi yang ingin Ayn Rand sampaikan pada pembacanya.

Sebenarnya, nama Ayn Rand tidak terlalu asing di telingaku. Sewaktu masih kuliah dulu, saya sering membaca karya-karya Libertarian yang mana salah satu pionirnya adalah Ayn Rand. Kebanyakan karya yang saya baca berkaitan erat dengan keengganan para libertarian dan kapitalis untuk melibatkan pemerintah dalam urusan privat warga negara, yang mana hal ini merupakan ekstrim yang berlawanan dengan sosialisme dan Keynesian yang justru menganjurkannya. Sebagai anak ingusan yang tanpa dasar analitik dan referensi yang kuat, perdebatan antara kedua paham ini begitu membingungkanku. Pada beberapa aspek, libertarian dan kapitalismenya terlihat menawan dengan berbagai kebebasan yang ditawarkannya, di aspek lain, sosialisme dan moneteris Keynesian tampak seksi dengan keterlibatan negara untuk menyetarakan kesejahteraan rakyat. Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan semakin sibuknya jadwal jaga serta tugas di rumah sakit, saya mulai kehilangan fokus pada perdebatan kekal antara libertarian, kapitalisme, Keynesian, dan sosialisme. Saya betul-betul tidak peduli lagi dengan bacaan fiksi dan non-fiksi di luar bidang kedokteran. Yang menarik perhatianku bacaan jurnal. Buku bacaan di luar kedokteran yang rutin saya baca sampai selesai selama kuliah hanyalah buku karya J.K. Rowling, Andrea Hirata, Dewi Lestari, Dan Brown, Goenawan Mohammad, dan Dostoevsky. Di antara semua penulis tersebut, Goenawan Mohammad, saya anggap cukup berpengaruh dalam membantuku mempertahankan animo membaca. Saya selalu menyukai Catatan Pinggir yang ditulisnya ketika mengangkat topik mengenai buku atau karya sastra yang pernah dibacanya. Saya kagum dengan kemampuannya mereview sebuah karya sastra, begitu menarik sehingga menghadirkan rasa penasaran untuk ikut membacanya juga. Saya pun bercita-cita untuk bisa membaca semua buku-buku klasik yang pernah dibaca oleh Goenawan Moehamad. Semua penulis yang pernah disebutnya dalam Catatan Pinggir, mulai dari Miguel Cervantes, Hemingway hingga Kafka, saya simpan dalam memori dan berharap suatu hari nanti dapat membaca karya-karya mereka seperti yang dilakukan oleh Goenawan Mohammad. Namun cita-cita itu tersendat karena hingga selesai kuliah saya tak pernah sempat untuk membaca selain jurnal kedokteran yang hampir tiap minggu saya terjemahkan karena ada order dari konsulen, residen, dan koas. Yang terparah, saya tidak punya alokasi dana untuk membeli semua buku tersebut. Buku Hardcover Anna Karenina karya Leo Tolstoy bisa berharga sekitar 100-250ribu, tergantung kualitasnya. Saya terlalu miskin saat itu walaupun sebenarnya saat ini pun, saya tidak bisa dibilang kaya raya karena hingga sekarang saya belum sepenuhnya menjadi mahluk produktif yang independen. Kendala lainnya adalah saya tidak punya kamar khusus untuk menyimpan semua buku-buku itu, kalaupun saya punya uang untuk membelinya. Jika sudah punya uang banyak, saya akan membeli semua buku tersebut dan mencari orang-orang yang mau mendiskusikannya bersama dalam sebuah obrolan santai ataupun forum serius.

Salah satu hal yang paling saya sesalkan dalam pendidikanku di masa lalu adalah saya tidak punya cukup kesempatan untuk membaca karya sastra dari seluruh dunia karena perpustakaan adalah hal yang sulit ditemukan di pulau tempat tinggalku. Saya tidak bisa mengeksplorasi berbagai perspektif lain yang bertebaran di seluruh dunia. Pengetahuan dan perspektif yang kumiliki saat itu hanyalah apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan sekolah dengan berbagai keterbatasannya serta televisi yang tayangannya tak dapat kita pilih sendiri. Dalam dunia seperti itu, hidupku seperti katak dalam tempurung. Itulah masalah utama daerah-daerah yang terisolasi dan terpencil. Masyarakat di sana tidak punya banyak alternatif perspektif. Ada asimetri dalam informasi sehingga mereka seringkali menjadi objek eksploitasi. Karena itu di suatu hari nanti, saya berharap bisa turut berkontribusi dalam mengatasi disparitas informasi. Itu mungkin harapan yang terkesan kosong, namun tidak ada salahnya mencoba.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...