Minggu, 27 September 2015

Sabtu, 26 September 2015: Chaos

Kemarin saya sempat menuliskan bahwa psikologi adalah bidang yang cocok untukku, tapi setelah dipikir matang-matang, mungkin itu merupakan suatu kekeliruan berpikir yang trivial. Psikologi bukanlah suatu profesi yang dapat membantuku untuk memprediksi berbagai karakter manusia yang akan kuhadapi di kehidupan sehari-hari. Karena terkadang, dalam hidup ini, kita dapat temukan beberapa jenis manusia yang unpredictable seperti Fyodor Pavlovitch Karamazov, Holden Caulfield, Howard Roark, atau Amy Earhart. Mereka semua unpredictable karena mereka seharusnya hanyalah tokoh fiktif yang ada dalam novel. Hanya saja, ada momen ketika karakter mereka tiba-tiba saja hinggap pada seseorang dalam kehidupan nyata. Dan saat momen itu datang, hanya ada satu ekspresi kata yang dapat merepresentasikannya, awkward.

Waktu kuliah dulu, saya beberapa kali mendapati momen awkward psikologis seperti itu. Salah satunya saya temukan pada diri seorang senior dari Malaysia yang waktu itu menjadi teman kelompok diskusi di blok reproduksi, yang coba kita sebut saja namanya sebagai Freud, tapi karena dia wanita, panggil saja dia Kak Elektra. Awalnya, saya dan seorang rekan seangkatan yang kebetulan juga berjenis kelamin wanita, sebut saja namanya Clair, menganggap bahwa Kak Elektra adalah orang biasa dengan sifat biasa yang biasa dapat ditemukan di tempat-tempat biasa seperti pasar atau lapangan bola. Tak ada kesan psikopat, sinister, atau sejenisnya yang terdeteksi dari aura dirinya, karena saya saat itu saya memang tidak bisa membaca aura, sampai sekarang pun begitu. Lagian, apa itu aura? Intinya, dia tampak 100% normal. Namun, setelah beberapa hari berinteraksi, tepatnya dua hari, saya dan Clair mulai menangkap keanehan dalam diri Kak Elektra. Dia seperti tak mau lepas dari kami berdua. Kemana-mana minta ditemani, ke kantin, perpustakaan, ke kelas, bahkan sampai dalam toilet pun dia meminta agar salah satu dari saya atau Clair, harus menemaninya. Untungnya, dia tak pernah memilih saya untuk urusan yang satu itu. Dan yang paling aneh, dia hanya mau agar ditemani oleh saya dan Clair. Dia tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Padahal saya dan Clair belum sampai satu minggu mengenal Kak Elektra. Setelah berinteraksi selama 8 jam 32 menit 32 detik, saya menangkap kesan inkoherensi dan irelevansi pada setiap kalimat yang dibangun oleh Kak Elektra. Akhirnya saya dan Clair berkesimpulan, ada yang tak beres dengan Kak Elektra. Sebetulnya kisah ini masih panjang. Ada plot di mana Kak Elektra minta ditemani keliling kampus hingga ajakan menginap bareng dan adegan yang melibatkan organisasi mahasiswa Malaysia di Makassar. Tapi saya terlalu lelah untuk mengetik semuanya.

Akhir cerita, Kak Elektra dipanggil oleh orang tuanya kembali ke Malaysia lalu menjalani psikoterapi untuk gangguan bipolar selama satu tahun. Pada dua tahun berikutnya, saya kembali bertemu dirinya di masa koas. Dia sudah sehat dan terlihat lebih gemuk. Dan dia sepertinya sudah lupa dengan kisah petualangan dua hari yang aneh di tahun 2009. Karena saat berpapasan di koridor rumah sakit, tak ada reaksi sedikit pun yang kulihat dari dirinya. Syukurlah. Tak perlu ada awkward moment yang harus kualami. Saya dan Clair pun tidak pernah membahasnya lagi karena saya memang tidak pernah bertemu Clair, entah di mana dirinya saat ini. Terakhir saya dengar dia ada di Papua. Kak Elektra pun sudah menjadi dokter dan dia kembali ke Malaysia dengan bahagia. Darimana saya tahu itu? Saya berteman dengannya di Facebook dan saya sendiri lupa, kapan saya berteman dengannya di media sosial.

Bicara soal media sosial, hari ini resmi ibu saya punya BBM. Setelah puluhan tahun menjalani hidup di bumi, akhirnya ibuku memasuki era teknologi. Dan semua itu terjadi setelah ibuku meninggalkan Nokia 3300 dan berhijrah ke Acer Android. Saat ditelepon dia membicarakan beberapa perubahan dalam gaya hidupnya, seperti dia menginstall program kamus besar bahasa Indonesia dan kamus Inggris sehingga bila ada kata-kata sulit yang didengar atau dibacanya, dia bisa segera mencarinya di kamus. Ada beragam reaksi yang timbul dari modernisasi ini. Adik kedua dan ketigaku tampaknya baik-baik saja dengan kemajuan ini, tapi adikku yang keempat sepertinya mengalami shock culture, padahal yang semestinya mengalami shock culture adalah ibuku. Terlepas dari semua reaksi tersebut, saya merasa lansia yang mau mengembangkan diri agar tak ketinggalan perubahan zaman adalah jenis lansia yang langka. Dan itu patut diapresiasi.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...