Kamis, 08 Oktober 2015

Rabu, 7 Oktober 2015: Nobel Whatever

Kemarin pemenang Nobel Fisika dan Kedokteran telah diumumkan. Dan tak ada namaku ataupun nama orang yang berbau Indonesia di sana. Mengecewakan. Saat pengumuman Nobel Sastra, Perdamaian, dan Ekonomi nanti, saya yakin polanya akan tetap sama. Bahkan mungkin hingga satu dekade ke depan, pola itu akan terus berulang. Tak akan ada Indonesia di sana ataupun di mana-mana. Tak perlu menjadi wanita Gypsy untuk bisa meramalkan hal tersebut. Cukup memahami saja bahwa beberapa hal di dunia ini sudah diatur oleh hukum alam maka semua pernyataan sebelumnya akan benderang seperti mentari di tengah hari. Meskipun para ilmuwan sepakat bahwa dunia ini adalah kumpulan probabilitas yang tertunda, kecuali Einsten yang mengingkarinya dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak bermain dadu, tetap saja beberapa hal di dunia ini sudah memiliki kerangka, template, cetakan pasti yang sulit untuk diutak-atik dengan cara apapun. Contohnya saja upaya melawan gravitasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang memiliki daya dorong melebihi akselerasi 9,8 meter per detik kuadrat. Tak ada satupun manusia yang memiliki akselerasi seperti itu tanpa alat bantu. Sehingga pemandangan manusia yang melayang di udara bumi tanpa alat bantu merupakan hal yang mustahil ditemukan dalam waktu dekat. Sama mustahilnya dengan orang Indonesia meraih Nobel dalam satu dekade ke depan. Saya tidak bermaksud untuk menjadi inferior di sini tapi terdapat banyak variabel determinan yang menyebabkan orang Indonesia sulit meraih Nobel.

Entah kenapa, saya merasa ada yang salah dengan negara ini. Mungkin itu karena terlalu banyak orang-orang seperti saya di negara ini, yang hobinya hanya suka protes dan mengajukan komplain kemana-mana tanpa memberikan solusi. Tapi protes dan komplain adalah salah satu jenis kebebasan yang dijamin oleh undang-undang. Selama itu hanya berbentuk free speech bukan hate speech, saya rasa tak ada yang salah dengan banyak protes. Solusi akan timbul dengan sendirinya begitu protes mencapai titik kulminasi. Yang menjadi masalah, saat solusi sudah ada, akankah para pemegang keputusan mau mengambilnya. Karena seringkali, solusi yang datang bersifat kurang populis dan cenderung mengancam status quo. Seperti yang dapat kita lihat dalam kasus pembantaian Salim Kancil. Di desa Salim Kancil, para petani mengeluhkan kerusakan alam yang diakibatkan oleh penambangan pasir liar. Mereka mengajukan protes dan memberikan solusi agar dilakukan penghentian tambang liar. Tapi ini solusi yang buruk bagi para penguasa. Penghentian tambang liar sama artinya dengan mematikan sumber pemasukan para calo tambang liar yang notabene adalah para penguasa di desa. Jadinya, suara protes itu dibungkam. Salim Kancil sebagai salah satu penentang tambang liar langsung dibacok beramai-ramai hingga tewas oleh kaki tangan para penguasa. Sungguh kejam. Dan parahnya, kasus seperti itu dapat ditemukan pada banyak tempat di negara ini. Kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera saat ini pun memiliki akar masalah yang sama dengan kasus Salim Kancil. Sumber daya alam.

Di negara ini ada terlalu banyak sumber daya alam, bahkan mungkin jika sumber daya alam Jepang, Singapura, Taiwan, dan Hongkong digabung jadi satu, masih belum bisa menyamai apa yang ada di Indonesia. Tapi Indonesia jauh lebih miskin ketimbang negara-negara yang minim sumber daya alam. Kadang saya berpikir jika sumber daya alam yang melimpah bukanlah suatu anugerah tapi sumber malapetaka. Pengerukan sumber daya alam plus keserakahan manusia lebih cenderung menghasilkan efek kerusakan alam dan peperangan dengan berbagai skala jika dibandingkan dengan kemakmuran manusia yang mungkin hanya dinikmati segelintir orang. Entah ini masih memiliki relevansi dengan hadiah Nobel atau tidak, tapi saya rasa itu sudah tidak penting lagi. Whatever.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...